Oleh : Ummu Qonita
Permasalah Stunting atau kekurangan gizi pada masyarakat tidak dapat dipandang sebelah mata. Pasalnya, kian hari makin bertambah jumlah anak yang mengalami gizi buruk ini.
Seiiring dengan menguatnya desakan berbagai pihak agar perintah serius untuk menurunkan angka stunting, Mentan (Menteri Pertahanan) Syahrul Yasin Limpo mendukung usulan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Usulan tersebut adalah agar setiap keluarga memelihara satu ekor ayam untuk mencegah Stunting. Dengan itu, diharapkan masalah gizi buruk dapat diselesaikan.
Hal ini juga diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Musdalifah Machmud. " Usulan satu orang pelihara ayam adalah baik". Sebab dia berkata bahwa selama ini masyarakat belum menganggap ayam sebagai kebutuhan penting bagi pertumbuhan. Namun terkait hal itu, Musdalifah mengaku belum ada kebijakan resmi. Beliau menjelaskan, sejauh ini masih berusaha menjaga ketersediaan dan menjaga harga ayam agar tetap menjadi stabil. (Cnnindonesia.com, 24/11/2019). Benarkah ini solusi yang solutif?
Setiap masalah yang terjadi pada rakyat, negara memberikan solusi yang notabene solusi tersebut bertumpu pada keaktifan anggota masyarakat dalam menjalaninya. Masih lekat dalam ingatan bagaimana para pejabat publik memberikan solusi yang "asal" kepada rakyat saat mengeluhkan cabe mahal, daging mahal, listrik naik. Kali ini pun terjadi lagi. Faktanya solusi yang diberikan pejabat publik, justru menambah banyak masalah. Bagi keluarga miskin memelihara 1 ayam membutuhkan dana yang tidak sedikit, karena ayam membutuhkan pakan untuk makanannya sehari-hari, ayam butuh kandang untuk tempat tinggalnya dan butuh pasangannya yang jantan/betina agar dia bisa berkembang biak. Hal ini tidaklah mudah bagi mereka. Bukannya mengurangi, hal ini justru menambah beban hidup mereka.
Sepatutnya negara tidak sekedar membuat gerakan nasional yang bertumpu pada keaktifan anggota masyarakat dalam menjalaninya. Namun negara dituntut membuat kebijakan menyeluruh yang berpihak kepada rakyat, menghapus kemiskinan dengan pengelolaan yang benar terhadap sumber daya alam, memaksimalkan pemberian layanan kebutuhan masyarakat secara gratis dan berkualitas bagi semua warga negara. Mengandalkan solusi pada gerakan nasional menjadi ukuran makin berlepas tangan negara akan tanggung jawabnya dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Islam mewajibkan penguasa untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya berupa sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Sebagaimana hadits Rosululullah SAW :
"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya...." (Hadist HR Bukhari)
Stunting tidak akan terjadi jika dilakukan pencegahan dan perhatian serius dari penguasa. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab ketika melakukan sidak di malam hari menemukan rakyatnya yang kelaparan. Beliau langsung membawa sendiri kebutuhan pokok bagi keluarga tersebut. Tidak berhenti sampai disitu, dilanjutkan dengan memenuhi kebutuhan keluarga miskin tersebut hingga keluarga tersebut kuat dan mampu bekerja sendiri untuk menuju kebutuhan hidupnya .
Apa yang dilakukan Umar bin Khattab semata karena takutnya terhadap azab Allah SWT bilamana beliau lalai dalam mengemban amanah sebagai penguasa dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Adakah pemimpin kita saat ini seperti beliau. Wallahu'alam bisshowab.

No comments:
Post a Comment