Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

STM, Riwayatmu Kini

Monday, October 07, 2019 | Monday, October 07, 2019 WIB Last Updated 2019-10-07T08:57:45Z
Oleh : Muzsuke Abdillah 

Selama ini, Sekolah Teknik Mesin atau yang biasa disingkat STM, adalah sekolah yang identik dengan tempat anak-anak yang hobi tawuran. Sebab tak jarang STM di berbagai kota di Indonesia melakukan tawuran antar pelajar. Bahkan, beberapa kali pernah sampai memakan korban jiwa. 

Anak-anak STM yang didominasi siswa laki-laki memang di usia itu sedang semangat-semangatnya mencari jati diri dan ingin menunjukkan eksistensi. Sayangnya, budaya tawuran seperti sudah turun temurun terjadi, sehingga meski si murid tak punya motivasi khusus untuk tawuran, kebanyakan ikut-ikutan hanya karena diajak teman. 

Namun, ada fenomena unik yang terjadi pada aksi demonstrasi menuntut DPR 23-24 September lalu. Akibat kebijakan pemerintah yang dianggap nyeleneh tentang RUU KUHP yang baru, juga adanya pelemahan dalam tubuh KPK oleh DPR lewat undang-undang yang disahkan secara diam-diam, akhirnya banyak kalangan masyarakat turun ke jalan dan mengadakan demonstrasi. 

Awalnya aksi demonstrasi ini didominasi oleh kaum mahasiswa. Mahasiswa dari banyak universitas di Indonesia banyak yang turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Namun pada aksi demonstrasi yang terjadi di Jakarta, ada pemandangan unik, yakni dari sekumpulan siswa STM yang ikut dalam barisan para demonstran sembari menyuarakan yel-yel dan membantu kakak-kakak mahasiswa. 

Berdasarkan konfirmasi Kompas.com pada saksi yang ada sebelumnya, sejumlah saksi di lokasi membenarkan keberadaan para pelajar SMK atau STM ini. Mereka ada di seputar flyover Slipi pada Selasa (24/9/2019) sore sekitar pukul 16.00 sampai larut malam sekitar pukul 23.00 WIB hingga kemudian membubarkan diri.

Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis Bem FISIP UI Salman Al Fathan pun menyebut para pelajar ini datang secara bergerombol dan saling menyusul dari arah JPO dekat gerbang kanan Gedung DPR. (Kompas.com 24/9/2019). Tak ayal, fenomena ini langsung mendapat perhatian dari netizen di media sosial. 

Di twitter, cuitan tentang anak STM yang ikut demonstrasi langsung menjadi trending topik. Begitu pula di laman sosial Facebook. Banyak pengguna facebook yang menyampaikan pandangan mereka tentang fenomena unik anak STM ini. Sepanjang sejarah, baru kali ini anak-anak STM melibatkan diri dalam aksi demonstrasi. 

Sebagian besar netizen menyatakan rasa salut mereka pada anak-anak STM yang ikut demonstrasi. Sebab ini menandakan adanya kemajuan dari anak-anak STM yang biasanya antipati pada hal-hal berbau politik, tapi saat ini justru mereka mulai sadar dan ikut serta menyuarakan aspirasinya. 

Meskipun tak bisa dipungkiri juga, ada faktor "kesetiakawanan" yang mempengaruhi mereka. Melihat kakak-kakak mahasiswa yang dikejar-kejar, ditembaki gas air mata dan water canon mungkin membuat anak-anak ini merasa perlu menolong dan membantu, bukan sekedar berdiam diri dan menonton. 

Dari peristiwa ini, ada potensi besar yang bisa kita lihat dari anak-anak STM. Mereka adalah anak-anak tangguh yang punya semangat juang yang besar. Tak kenal takut meski musuh di hadapan mereka. Tak pantang menyerah meski bekal mereka seadanya.

Seperti yang terlihat di salah satu video tentang anak-anak STM ini, ketika polisi melemparkan gas air mata ke arah mereka, peluru gas air mata itu malah diambil lagi dengan tangan kosong oleh anak STM dan dilempar balik ke arah polisi. Ini adalah salah satu bukti nyata bahwa mereka adalah generasi tak pantang menyerah. 

Maka, sangat disayangkan sekali apabila potensi besar seperti mereka disia-siakan oleh negara. Dengan sistem pendidikan kapitalis yang saat ini diterapkan, akhirnya bakat mereka tersalurkan lewat jalan yang tak bisa dibenarkan, seperti tawuran misalnya. 

Padahal, dulu ketika sistem Islam yang diterapkan, begitu banyak pemuda seusia anak-anak SMK saat ini yang sudah menjadi orang hebat. Tengok saja Muhammad Al-Fatih yang sudah mulai ikut berperang sejak usianya masih remaja, sehingga di usia 21 tahun ia sudah menjadi panglima penakluk Konstantinopel. 

Oleh karena itu, sudah sepatutnya negara menerapkan sistem yang pro terhadap kaum pemuda dengan gelora yang membara seperti anak-anak STM ini. Arahkan mereka untuk menyalurkan semangatnya pada hal-hal positif yang berguna bagi bangsa dan agama. Kelak, mereka adalah generasi penerus pemangku kekuasaan. Jika mereka dibiarkan bobrok di sistem yang salah, entah apa yang terjadi pada bangsa ini nanti. 

Wallaahu a'lam bish shawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update