Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemuda vs Santri; Agen Perubahan

Tuesday, October 29, 2019 | Tuesday, October 29, 2019 WIB Last Updated 2019-10-29T07:15:09Z
By : Mia Fitriah El

“Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka aku akan mengguncang dunia.”  Posisi kaum muda memang menempati peran krusial dalam peradaban dunia. Maka, tidak heran jika quote tersohor milik Soekarno itu banyak dijadikan kiblat para pemuda.

Pemuda itu memiliki peran strategis dan pemegang tongkat estafet kemajuan bangsa. 

Terbukti, tanggal 28 Oktober 2019 kemarin diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda yang ke-91. Pemuda memberikan sejarah bangsa bahwa kita  bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu Indonesia. 

Sebuah kalimat persatuan yang diikrarkan pemuda tahun 1928, bahwa perbedaan sebagai kebhinekaan yang mengagumkan. Jika terlalu fokus pada perbedaan, bisa menjadi bom waktu nantinya. Jika fokus pada egoisme kelompok nanti tujuan bersama semakin ternafikan, kita tidak lagi menikmati perbedaan sebagai keberagaman dan rahmat Allah Subhana Wa Ta'ala.

Pemuda adalah sosok yang mencari jati diri, sosok yang ingin membuktikan eksistensi. Tapi juga perlu binaan Islami.

 Nabi Muhammad Saw bersabda “Jagalah lima hal sebelum lima hal. (1) Mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (4) kayamu sebelum miskinmu, (5) hidupmu sebelum matimu,(HR Al-Hakim).

Hadis Nabi diatas bermaksud untuk mempergunakan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya, sebelum hilangnya kesempatan itu. Karena kunci kesuksesan itu terletak pada bagaimana kita “mempergunakan kesempatan dengan semaksimal mungkin”.

Seyogyanya, bagi pemuda di masa ini haruslah lebih produktif, haruslah  diisi hari-harinya dengan ketaqwaan, semangat untuk berkiprah; memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Pemuda di usia ini, layaknya usia santri yang menuntut ilmu pada kiayi, mulai mengenal dan menjujung persatuan, tanpa antipati dengan perbedaan. Karena  perbedaan  menu sehari-hari santri.

Maka patut disyukuri walaupun peran yang sudah membawa perubahan dan penggerak masyarakat ke arah yang lebih baik itu baru diakui. 

22 Oktober yang lalu sebagai Hari santri Nasional. 

Pemuda itu bukan semua santri tapi beridentitas santri, karena ia identik pada pribadi mandiri, berdikari, mengispirasi, dan suka mengaji

Pemuda bukan semua santri, tapi berkarakter santri, karena ia terbiasa sederhana, terbiasa dengan keadaan apa adanya. 

Pemuda itu ada barisan santri, karena barisan itu merupakan salah satu barisan penyelamat bangsa dari berbagai ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update