Penulis : Oom Rohmawati
Nasi Padang dan masakan Padang adalah salah satu kuliner yang banyak di sukai masyarakat Indonesia. Ciri khas rasa dan warna bumbu yang bikin ngiler para pecinta masakan pedas.
Sekitar tahun 2001 di daerah-daerah, warung nasi atau rumah makan Padang, hanya bisa di temui di pinggir-pinggir jalan raya besar dan bisa kita hitung dengan jari.
Tapi sekarang banyak kita jumpai di pelosok-pelosok pedesaan bahkan di gang-gang perkampungan. Harganya pun kalau dulu mungkin lebih mahal dari warteg, tapi sekarang bisa sejajar dengan harga baso. Ketika kita melewati warung nasi Padang sebagian ada yang menempelkan harga mulai dari serba Rp 10.000-15.000.
Pelayanan luar biasa, pernah seorang bapak cerita, membeli nasi ke rumah makan lain, karena pakaian yang di kenakan kotor, pelayanan nya kurang, sampai ia menujukan isi dompet. Akhirnya bapak itu beli ke rumah makan Padang, katanya cara mereka melayani pembeli tidak membeda-bedakan karena penampilan pembeli. Kenapa harga nasi Padang turun? Padahal harga-harga sembako melambung tinggi, mulai dari beras, sayuran, ikan, bahkan bumbu bawang putih, bawang merah, cabe, tomat tak ada yang tak naik. Pedagang pun mengeluh karena omset pendapatan menurun dan harga beli naik.
Ini bisa dipastikan akibat daya beli Masyarakat kurang. Kenapa daya beli Masyarakat kurang? Karena sulitnya mendapatkan pekerjaan yang kemudian meninggi tingkat kemiskinan.
Sekarang media sosial sedang ramai membahas aksi simpatisan pasangan calon presiden (capres) dalam pemilu presiden 2019. Yang menyerukan pemboikotan terhadap nasi Padang dan masakan Padang. Ini bermula dari komentar salah satu akun Facebook yang menulis provokatif untuk membagkrutkan seluruh rumah makan dan masakan Padang karena kekalahan capres-cawapres no urut 01, Sumatera Barat.
Sistem yang rusak telah melahirkan mental-mental yang rusak pula, bertindak kejam biadab, tidak segan-segan untuk menyiksa bila tidak sejalan dengan kehendak nya, seperti pemboikotan tidak berpikir itu akan merugikan dan menyakiti saudara nya. Padahal agama Islam mengajarkan jangan bergotong royong dalam ke batilan, bukankah Indonesia ini mayoritas Muslim, tapi karena sistem yang diterapkan adalah sistem Demokrasi sekuler yang merusak aqidah.
Menghalalkan segala cara yang halal di haramkan yang haram dihalalkan bebas berpendapat bebas berprilaku tapi berlaku hanya untuk dirinya. Termasuk dalam mewujudkan keinginannya untuk kembali bisa berkuasa. Saat ini kita sedang berada di kepemimpinan diktator (al- _mulk_ al- _jabariyah_ ) yang tengah mencengkeram dan menindas umat. Pertama, jauhi mereka. Hal ini tampak jelas dari hadits penuturan Hudzaifah bin al-Yaman ra,:
Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasulullah SAW. Tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, khawatir keburukan akan menimpaku. Aku bertanya "Wahai Rasulullah, sungguh dulu kami dalam kejahiliyahan dan keburukan. Lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini.
Kemudian apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Rasulullah SAW. Menjawab," Iya. " Lalu aku bertanya," Apakah setelah keburukan ini ada kebaikan? " Rasulullah SAW menjawab," Iya, dan padanya [kebaikan] ada asap. "Aku bertanya," Apa asapnya? Rasulullah SAW bersabda, "Ada satu kaum yang berprilaku dengan selain sunahku, dan berpetunjuk selain dengan petunjukku. Sebagian dari mereka kamu ketahui dan kamu akan ingkari." Aku bertanya lagi, "Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?" Rasulullah SAW menjawab, "Iya, yaitu ada pada dai (penyeru) di pintu-pintu jahanam. Siapa yang menyambut seruan mereka, mereka akan melemparkan dia ke dalam jahanam." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, jelaskan sifat mereka kepada kami." Rasulullah SAW bersabda, "Baik.
Mereka adalah satu kaum yang kulitnya sama dengan kulit kita. Mereka berbicara dengan lisan kita." Aku bertanya, "Lalu apa pendapat Anda jika itu menimpa diriku?" Rasulullah SAW menjawab "Berpeganglah dengan jemaah kaum Muslim dan imam mereka. Rasulullah SAW bersabda," Jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya walaupun kamu harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu, sementara kamu tetap dalam keadaan demikian. " (HR Muslim).
Inilah sikap yang harus kita ambil saat ini di mana tidak ada pemimpin yang melindungi. Tidak ada Imam (Khalifah) yaitu menjauhkan diri (i'tizal) dari mereka bukan mendukungnya. Atau masuk ke sistemnya. Seperti yang di tempuh oleh sebagian kaum Muslimin. Justru sebaliknya kita harus keluar dari sistem. Dan berjuang mewujudkan Imam atau Khilafah yang akan mengembalikan kejayaan Islam yang akan merahmati seluruh alam. Wallahualam bish-shawab []

No comments:
Post a Comment