Penulis : SW. Retnani, S.Pd.
Kemampuan untuk mempengaruhi orang lain biasanya sering disebut dengan menguasai. Seseorang yang telah dikuasai cenderung untuk selalu mau untuk diperintah. Begitu pula sebaliknya, orang yang memiliki kekuasaan selalu ingin memeritah orang lain. Ia memiliki kewenangan terhadap orang lain. Adanya kekuasaan ini dapat membawa seseorang pada hal-hal yang positif atau negatif, tergantung pada sikap yang akan dia tunjukkan pada orang lain. Apabila kekuasaan itu, ia gunakan untuk kebaikan di jalan Allah SWT, maka balasannya adalah surga. Namun sebaliknya, apabila kekuasaan itu ia gunakan pada hal-hal negatif yakni berbuat keburukan, kecurangan, kedzaliman dan kesesatan, maka ganjaran yang akan ia dapatkan adalah panasnya api neraka. Dengan demikian kekuasaan adalah amanah yang sangat besar dan berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT kelak di yaumil akhir.
Bisa kita bayangkan apabila kekuasaan ini berada di tangan orang -orang yang amanah, jujur, adil, bijaksana dan bertanggung jawab, Pasti segala sesuatunya akan menghasilkan nilai-nilai yang luar biasa gemilang. Misalkan kekuasaan negara, dipegang seorang pemimpin yang baik, pastilah rakyatnya akan hidup damai dan sejahtera. Dapat kita contohkan, kekuasaan yang dipegang oleh raja Sulaiman as. Beliau adalah putra Nabi Daud as. Seorang pemimpin yang amanah, jujur, adil, cerdas, bijaksana, dan bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya. Baik dalam aspek ekonomi, sosial, budaya dan keimanan kepada Allah SWT. Rakyat damai dan sejahtera di bawah kekuasaan raja Sulaiman as. Dan melihat Wibawa dan kesalehan raja Sulaiman as. hingga membuat Ratu negeri Saba, tunduk di bawah kekuasaannya. Maka negeri Saba pun menjadi negeri yang makmur, Sejahtera. Sebagaimana penjelasan Allah SWT di dalam kitab suci Alquran
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ۗ کُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ
laqod kaana lisaba`in fii maskanihim aayah, jannataani 'ay yamiiniw wa syimaal, kuluu mir rizqi robbikum wasykuruu lah, baldatun thoyyibatuw wa robbun ghofuur
"Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun."
(QS. Saba' 34: Ayat 15).
Namun, bila kekuasaan dipegang oleh orang-orang yang dzolim, ringan untuk berkhianat kepada rakyatnya dan penipu. Maka pastilah rakyatnya hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan dan kebodohan. Didalam Alquran telah banyak contoh para pemimpin kufur. Mereka menindas rakyat, mendzolimi, kejam, menghianati dan otoriter. Salah satunya adalah raja Firaun dan Raja Namrud.
Bagaimana dengan rezim saat ini? Apakah termasuk golongan pemimpin arif dan bijaksana, seperti raja Sulaiman as. ataukah termasuk pemimpin dzolim dan otoriter seperti raja Firaun dan Raja Namrud? Kita semua bisa menilai dari seluruh peristiwa yang pernah terjadi di negeri ini. Ekonomi negeri ini semakin merosot, pengangguran meningkat, rakyat terus mengeluh tentang mahalnya sembako, mahalnya kesehatan, mahalnya pendidikan dan mahalnya biaya hidup.
Kemaksiatan merajalela, penipuan, korupsi, pembunuhan, zina, khamr, pencurian, perampokan, hoax dan riba.
Ulama dipersekusi, kajian -kajian Islam dicurigai, bendera tauhid dibakar, ormas Islam difitnah, dituduh dan dibubarkan. Hingga rezim mengeluarkan ancaman, bagi rakyat yang tidak mengikuti aturan mainnya.
Sebagaimana dilansir dari m.katadata.co.id bahwa Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mewacanakan penggunaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme untuk menindak para penyebar hoaks. Sebab, dia menilai hoaks yang kerap beredar telah menganggu keamanan dan menakuti-nakuti masyarakat. Menurutnya hoaks tersebut telah serupa dengan aksi teror, seperti yang terjadi terkait pemilihan presiden (pilpres) atau pemilu 2019. "Kalau masyarakat diancam dengan hoaks untuk tidak ke TPS (tempat pemungutan suara), itu sudah terorisme. Untuk itu maka kami gunakan UU Terorisme," kata Wiranto di kantornya, Jakarta, Rabu (20/3). Wiranto mengatakan, hoaks merupakan ancaman baru dalam Pemilu 2019. Menurut Wiranto, para penyebar hoaks ingin mengacaukan proses demokrasi di Indonesia. Dia lantas geram dengan ulah para penyebar hoaks tersebut, karena sudah membuat ketakutan dalam masyarakat. Untuk itu, Wiranto meminta aparat keamanan untuk dapat menangkap para penyebar hoaks tersebut. Wiranto juga meminta agar masyarakat tak terpengaruh dengan berbagai hoaks yang saat ini marak beredar. Dia pun telah memerintahkan aparat keamanan untuk menjaga dan mengajak masyarakat menghindari hoaks yang dapat memicu konflik horizontal. Lebih lanjut, Wiranto meminta agar aparat keamanan dapat menjamin pelaksanaan Pemilu 2019. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengamankan pelaksanaan Pemilu. Pemerintah telah mengerahkan 593.812 personel TNI dan Polri dalam menjaga Pemilu 2019 berlangsung damai. Ribuan personel tersebut telah disebar di berbagai wilayah Indonesia.
Apakah rezim panik? Hingga undang-undang teroris kembali jadi senjata membungkam lawan politik? Inilah fakta kebusukan sistem kapitalis- demokrasi, kekuasaan dipakai untuk mengancam rakyat. Kekuasaan digunakan untuk memaksa rakyat. Kekuasaan menjadi kunci utama demi terpenuhinya keinginan, kerakusan dan ketamakan penguasa.
Kekuasaan mereka jadikan tameng atas kedzaliman dan sikap otoriter penguasa. Maka dalam politik demokrasi kekuasaan adalah segalanya, sehingga harus dipertahankan denganan berbagai cara. Tak peduli dengan cara-cara yang baik ataupun cara-cara kotor, tak terpuji. Suap, sogok dan sikut menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan.
Berbeda dengan sistem Islam, kekuasaan digunakan untuk menetapkan hukum syara. Sehingga hubungan Penguasa dan umat adalah hubungan saling menguatkan dalam ketaatan kepada sang Maha Pencipta Allah Azza wa Jalla. Yakni dengan menghidupkan budaya Amar ma'ruf nahi mungkar. Hubungan yang selalu meningkatkan kebaikan dan menjauhi segala keburukan, hingga tercipta fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
Allah SWT berfirman:
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَافَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ ۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
wa likulliw wij-hatun huwa muwalliihaa fastabiqul-khoiroot, aina maa takuunuu ya`ti bikumullohu jamii'aa, innalloha 'alaa kulli syai`ing qodiir
"Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 148).
Hanya dengan penerapan sistem Islam dalam naungan Khilafah kekuasaan mampu menghantarkan umat ke gerbang kebahagiaan dunia akhirat mampu menjadikan negeri aman makmur dan sejahtera.
Allah SWT berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
walau anna ahlal-qurooo aamanuu wattaqou lafatahnaa 'alaihim barokaatim minas-samaaa`i wal-ardhi wa laaking kazzabuu fa akhoznaahum bimaa kaanuu yaksibuun
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96).
Jadi kekuasaan mutlak hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kekuasaan manusia adalah kekuasaan semu yang sifatnya sementara, maka pergunakan kekuasaan yang kau memiliki guna kepentingan akhiratmu. Sebab seluruh kebijakan yang kau ambil di dunia ini, menentukan kehidupanmu di akhirat kelak. Gunakan kekuasaanmu untuk menegakkan Khilafah Rasyidah ala minhaj an-nubuwwah yang akan membawa keberkahan di dunia dan akhirat. Wallahu A'lam Bishawab

No comments:
Post a Comment