Penulis : Rasmawati Asri 
(Siswi SMAN 20 Kab. Tangerang)

Capres Jokowi menegaskan butuh keberanian dan ketegasan dalam mengelola negara Indonesia. Jokowi menekankan tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah SWT.
"Kita ingin negara ini semakin baik dan saya akan pergunakan seluruh tenaga yang saya miliki, kewenangan yang saya miliki. Tidak ada yang saya takuti untuk kepentingan nasional, rakyat, bangsa negara. Tidak ada yang saya takuti kecuali Allah SWT untuk Indonesia maju," dia menambahkan. (SINAR HARAPAN. CO, 17/02/2019). 

Ucap sang Capres di atas panggung pada saat debat berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta. Perdebatan pada malam itu menjadi perbincangan hangat dari berbagai kalangan. Mulai dari lingkup pejabat tinggi sampai warung kopi. Dari pegawai kantoran hingga pedagang asongan. Dan dari anak remaja hingga orang dewasa. Bahkan dari tingkat artis borju parlente sampai bakul tempe.

Kandidat yang bernomor urut nol satu bertutur bahwa hanya takut kepada Allah SWT untuk Indonesia maju. Tetapi faktanya rezim saat ini begitu menentang Allah. Bukan ketakutanlah yang dikeluarkan. Antara ucapan dan tindakan yang sangat bersebrangan.  Bila seseorang yang benar-benar takut. Bukan hanya dilontarkan dengan lisan. Tetapi dibuktikan dengan perbuatan. Perbuatan yang menunjukkan suatu pernyataan dari apa yang dikatakan.

Saat ini negara yang bergemar berutang. Dengan dalih untuk rakyat. Memajukan bangsa. Dan sebagainya. Tetapi kenyataannya utang membuat negara itu sendiri terpuruk. Dan jelas-jelas di dalam utang tersebut memiliki suatu keharaman. Yang di dalamnya mengandung ribawi.

Kementerian Keuangan mencatat total utang pemerintah pusat hingga Januari 2019 mencapai Rp 4.498,6 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan posisi utang pada Januari 2018 yang mencapai Rp 3.958,7 triliun. (Liputan6.com, 20/02/2019).

Jelas sudah apakah ini yang disebut takut kepada Allah? Padahal Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba!” (QS Al-Baqarah: 278)

Ketika seorang anak kecil takut kepada ibunya pasti ia akan nurut. Apa yang dikatakan ibunya dipatuhinya. Bukan melawannya. Sebab ia tau konsekuensi dari itu semua. Begitu juga ketika seseorang takut kepada Allah. Tetapi kita bisa lihat sekarang. Justru banyaknya perlawanan kepada Allah.

Bukan hanya itu, tetapi rezim saat ini justru telah banyak menentang Allah. Mulai dari kriminalisasi ulama. Membiarkan perzinahan merajalela. Dengan mengatasnamakan HAM. Bahkan ketika saudara Muslim di luaran sana tertindas dan butuh bantuan. Seperti Uighur, Rohingya, Palestina, dan lainnya. Tidak dapat ditolongkan. Padahal jelas-jelas kita sebagai Muslim bagaikan satu tubuh. Bila tubuh satu sakit. Maka tubuh yang lain pun merasakan kesakitan.

Hingga menentang akan syariat-Nya. Dengan tidak diterapkan hukum Allah SWT. Malah memilih hukum buatan manusia yang jelas-jelas lemah dan terbatas. Bahkan merusak seperti Kapitalisme yang berasas Sekulerisme. Padahal mengambil hukum Allah adalah suatu hal yang wajib dilakukan. Dan niscayaan yang membawa maslahat bagi umat. 

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki ? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50).

Hakikat takut kepada Allah adalah dengan menjadikan satu-satunya tujuan untuk meraih Ridho-Nya. Dengan menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai pegangan. Yaitu dengan menerapkan Islam secara kaffah di bumi Pertiwi. 

Wallahualam.[]

0 komentar:

 
Top