Penulis : Siti Rima Sarinah S.Pd.i 
(Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

Indonesia adalah negara yang bukan hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah tetapi juga dikaruniakan keindahan alam yang sangat mempesona. Sebagai contoh kota Balikpapan yang merupakan salah satu kota termaju di Indonesia. Kota ini menjadi tempat pengolahan  minyak di Indonesia yang memiliki perkembangan yang pesat. Ternyata di balik julukan sebagai kota minyak dan sebagai kota yang paling mahal biaya hidupnya di Indonesia, menyimpan begitu banyak keindahan dan pesona alamnya.

Selain keindahan alamnya, kota Balikpapan merupakan kota yang bersih ini terbukti dalam 5 tahun berturut- turut meraih penghargaan di bidang lingkungan hidup dari kementrian lingkungan hidup dan kehutanan ( KLHK ). Ada 3 penghargaan adipura yang diraih oleh kota Balikpapan, yaitu penghargaan plakat adipura, adipura TPA (tempat pembuangan akhir) terbaik di Indonesia dan penghargaan sertifikat kinerja pengurangan sampah (Tribunkaltim.co 14/jan/2019). Dan tentu kita masih ingat kebijakan walikota Balikpapan tentang pelarangan penggunaan kantong plastik mulai tanggal 3 juli 2018 untuk mengurangi sampah, upaya ini dilakukan untuk menjaga agar Balikpapan tetap menjadi kota yang bersih, indah dan nyaman di huni.

Keindahan dan kebersihan kota Balikpapan ini  di manfaatkan untuk menarik wisatawan baik lokal maupun wisatawan internasional berkunjung ke kota ini. Mengingat banyak sekali objek wisata di Balikpapan dari kebun binatang, cagar budaya bukti peninggalan sejarah, destinasi pantai dan lain sebagainya yang menjadi daya tarik tersendiri. Oleh karena itu Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) menargetkan kunjungan wisata Balikpapan sekitar 2.9 juta sepanjang tahun 2019. Lokasi wisata yang menjadi andalan disporapar untuk menggaet wisatawan adalah pantai segara sari, mangrove center, pasar inpres pandan sari dan sedang menyiapkan beberapa lokasi wisata baru. 

Disporapar menggandeng komunitas seperti kelompok sadar wisata untuk membuat event- event untuk mempromosikan wisata yang ada di Balikpapan. Karena sektor  wisata menjadi salah satu pendapatan asli kota (PAD) dengan menambah infrastruktur (Balikpapan pos,23/jan/ 2019).

Sektor pariwisata di Indonesia adalah sektor yang sangat menjanjikan, karena pariwisata berada di peringkat keempat sebagai penghasil devisa terbesar Indonesia setelah minyak dan gas (migas) , batu bara dan minyak sawit. Pemerintah melalui kementrian pariwisata (kemenpar) republik Indonesia menargetkan pariwisata berada di posisi 30 besar di tingkat global. Dengan target kemenpar memperhitungkan bahwa tahun 2019 sektor pariwisata memberikan kontribusi pada perekonomian nasional sebesar 15% serta menyerap sebanyak 13 juta tenaga kerja dengan perolehan devisa sebesar 275 milyar (pariwisata travel 15. Wordpress.com).

Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya untuk mendorong pengembangan sektor pariwisata dengan memperkuat koordinasi sekaligus mensinergikan kebijakan antar pemangku kepentingan dengan adanya pengembangan sektor pariwisata, di harapkan dapat mempercepat penerimaan devisa yang akan berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. 

Gubernur Bank Indonesia, Warjiyo  menyampaikan pemerintah telah menargetkan sebanyak 20 juta wisatawan menyambangi Indonesia tahun 2019 mendatang. Jumlah devisa yang didapatkan dari wisatawan mancanegara pun dipatok sebesar 17,6 milyar dolar AS. Dan untuk target jangka panjang, pemerintah menargetkan 25 juta wisatawan  mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia pada tahun 2025 dengan jumlah devisa yang didapatkan sebesar 28 miliar dolar AS. Untuk bisa mencapai target tersebut pemerintah pun merumuskan 9 strategi yang meliputi; 

peningkatan kualitas dan akses destinasi pariwisata, penguatan data dan informasi, peningkatan akses pembiayaan, intensifikasi layanan sistem pembayaran digital, penguatan sinergi promosi destinasi pariwisata antar pemerintah pusat, pemerintah daerah dan bank Indonesia, penguatan akses/konektivitas darat dan udara, pengembangan atraksi yang berintegrasi, peningkatan amenitas dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).(Kompas.com 29 agustus 2018).

Melihat peluang ini barat tentu saja ingin “berkontribusi” dengan dalih  membantu Indonesia dalam pengembangan pariwisata dengan cara mendikte sektor pariwisata melalui United nation world tourism organisation (UNWTO) yang merupakan badan khusus PBB untuk menangani  urusan pariwisata. Yang juga bagian dari unesco global geopark (UGG)  yang berusaha merealisasikan tujuan dari suistainable development goals (SDGs) yaitu mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dan dimana saja serta mempermudah prosedur pembuatan visa, ijin masuk negara lain (permit entry) dan kerjasama bilateral antar negara dalam bidang pariwisata. Dan kementrian pariwisata merancang pembentukan ekonomi khusus (KEK) pariwisata di UGG, yang di harapkan mampu berkontribusi pada peningkatan produk domestik bruto (PDB). 

Sekilas terlihat pengembangan pariwisata sebagai solusi ekonomi masyarakat yang katanya mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menyelesaikan masalah kemiskinan. Namun pada faktanya adanya pengembangan sektor pariwisata hanya menguntungkan para pemilik modal saja seperti pemilik hotel, agen- agen travel dan lain sebagainya. Dan masyarakat tetap dengan kemiskinannya  bahkan mereka harus kehilangan tanah, tempat tinggalnya dan tempat mencari nafkah akibat pembuatan jalan tol, hotel, reklamasi. Belum lagi di tambah dengan kerusakan sosial budaya dari dipermudahnya para wisatawan masuk ke Indonesia.

Dalam peradaban Islam pariwisata, bukan sebagai pendapatan negara. Pariwisata dikelola oleh negara khilafah dengan tujuan membangun dan mengokohkan keimanan seorang hamba untuk menemukan cinta sejati kepada Rabb-Nya. Pariwisata dalam pengelolaan Islam bukanlah ajang bisnis namun sebagai objek diayah ( propaganda dakwah).  Karena pada prinsipnya negara sudah memiliki kas keuangan yang berlebih bersumber dari sektor pengelolaan sumber daya alam kepemilikan umum dan negara, fai, kharaj dan pos sedekah.

Untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan yang diharam dalam didalam Islam dibutuhkan kesabaran, kemauan dan kekuatan yang bersifat ideologis dalam diri penyelenggara negara dan masyarakat. Caranya dengan mengembalikan penerapan ideologi yang berasal dari penguasa alam sebagai jaminan  untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan politik suatu negara. Dan Khilafah dengan keagungannya adalah alternatif tunggal untuk menghadapi penjajahan global kapitalis. Wallahu A’lam bis showab

0 komentar:

 
Top