Penulis : Sania Nabila Afifah
Komunitas Muslimah Rindu Jannah.

Miris….mengapa tidak, nyawa seseorang mudah sekali melayang. Padahal hanya karena masalah sepele. Betapa rendahnya nilai keimanan pada diri seseorang. Hingga tega berbuat jahat bak binatang buas. Pembunuhan saat ini kian marak. Dengan banyak pemicu yang mendasarinya, entah itu karena cemburu, sulitnya ekonomi, selingkuhan, atau karena masalah yang sepele yaitu HP. Memang banyak fakta perceraian yang pemicu utamanya adalah HP. Dan pembunuhan yang terjadi di Bengkulu ini dipicu dari HP.

Dilansir dari Surya.CO.ID, Bengkulu- beredar Video pengakuan seorang suami yang usai membelah perut Istrinya yang hamil tua. Lalu mengambil bayinya di Bengkulu, menjadi viral Media Sosial (Medsos) dan WhatsApp (WA).

Petugas kepolisian sektor (polsek) Teluk Segara dan Kepolisian Resor (Resor) Bengkulu telah mendatangi lokasi kejadian dan melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Pemicu kemarahan suami yaitu Romi permasalahan cek-cok dengan sang Istri gara-gara HP. Setelah berjalan empat bulanan.

“ pertamakali ribut empat bulanan pak, masalah HP, jadi HP dia tu seperti ada menyimpan seperti kode, trus saya bilang apa, jujur aja gapapa, kata dia gapapa”

Hingga Romi lama-lama bertanya, istri balik ngotot, kadang saya diam kadang saya keluar, kadang juga ribut pokoknya.”

Dalam video itu, pelaku yang bernama Romi Septiawan (30) Mengaku tega membunuh Erni Susanti (29) sang istri yang dalam kondisi hamil tua karena terpancing amarah. Kejadian ini terungkap setelah Romi mendatangi rumah salah seorang warga dengan tangan berlumuran darah.

Astaghfirullah…..

Sadis sekali teganya menghabisi nyawa Istri sendiri hanya karena terpancing amarahnya hingga tega merenggut nyawa istri yang dalam keadaan hamil tua.

Dimanakah hati nuraninya sebagai manusia? 

Nyawa manusia tak ada nilainya lagi. Jika kita melihat banyak sekali kasus pembuhunan. Manusia saat ini menjelma seperti syaithan, dan lebih buas daripada binatang.

Ketakutan akan dosa, halal haram tak lagi menjadi standar dalam melakukan perbuatan. Akal yang seharusnya digunakan untuk membedakan antara dirinya dengan binatang tak lagi berguna sedikitpun.

Semua ini disebabkan karena Sekulerisme yang merong-rong aqidah kaum muslim. Saat ini dijadikan dasar dalam membangun kehidupan bernegara. Sehingga menjadikan kaum muslim terpengaruh hingga memisahkan Agama dalam segala aspek kehidupan. Membunuh tak lagi menjadi hal yang tabu, melacur, selingkuh, membuka aurat, memakan riba dan lain sebagainya sudah menjadi wajar ditemui disekitar kita….kebebasan demi kebebasan menjadikan akhlaq manusia terpuruk jatuh sedalam-dalamnya. Ditambah lagi dengan tidak berfungsinya peran negara dalam mengurus urusan kehidupan manusia. yang saat ini hanya mengurusi urusan orang meninggal saja. 

Mahalnya nyawa seorang Muslim di sisi Allah SWT.

Dari Abdullah bin Amru, dari Nabi SAW., bersabda, “ Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada pembunuhan seorang Muslim.” ( HR an-Nasa’i, at Tirmidzi dan al Baihaqi)

Hadits yang serupa diriwayatkan dari jalur Bara’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasul saw beraabda., “Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada pembunuhan atas seorang Mukmin tanpa Haq.” (HR Ibnu Majah dan Al Baihaqi)

As-Sindi di dalam Hasyiyah As-Sindi ‘ala ibni Majah menjelaskan, bahwa ucapan tersebut ditujukan untuk menyatakan besar dan seriusnya masalah pembunuhan; untuk menyatakan kengeriannya dan bagaimana memberikan impresi (penekanan) lafal. Hal itu karena dunia itu merupakan perkara yang besar dalam jiwa makhluk. Lenyapnya dunia bagi makhluk (menjadi perkara yanh besar) sesuai dengan kadar besarnya dunia itu. Karena itu jika dikatakan lenyapnya dunia lebih ringan dari pembunuhan seorang Muslim, hal itu memberi pengertian betapa besar dan seriusnya pembunuhan seorang Muslim itu; betapa mengerikan, betapa tercelanya dan betapa buruknya pembunuhan seorang Muslim, yang tidak cukup untuk dideskripsikan. Betapa berharganya Nyawa seorang Muslim sehingga dinyatakan dalam riwayat dari Abdullah bin Umar ra; ia menuturkan , Aku melihat Rasulullah saw. Tawaf mengelilingi ka’bah dan bersabda; 

“Alangkah baiknya engkau  dan alangkah harumnya aromamu. Alangkah agungnya kehormatanmu. Demi zat yang jiwa Muhammad ada di genggaman tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang Mukmin lebih agung di sisi Allah dari kamu lebih baik menyangkut harta maupun darahnya, dan agar kami hanya berprasangka baik kepda dirinya (HR Ibnu Majah)

Hadits di atas menyatakan bahwa membunuh seorang Muslim merupakan kejahatan dan dosa besar.

Islam tidak hanya berhenti dengan mengatakan betapa berharganya nyawa seorang Muslim tetapi Islam juga memberikan serangkaian  hukum yang merealisasi  penjagaan atas nyawa layaknya sesuatu yang sangat berharga. Penjagaan nyawa itu hanya bisa terealisasi dengan kekuasaan eksekutif yang melaksanakan serangkaian hukum Islam. Penjaga itu tidak lain adalah Khalifah yang disifati oleh Syariah laksana perisai yang menjadi pelindung. Yang menerapkan hukum syariah Islam yang menjamin pelindungan nyawa manusia. Di antaranya adalah qishash bagi pelaku pembunuhan di sengaja jika tidak dimaafkan oleh ahli waris korban. Jika dimaafkan maka ia wajib membayar diyat 100 ekor unta, 40 ekor unta di antaranya bunting. 

Pelaku pembunuhan selain yang disengaja tidak dijatuhi sanksi qishash, melainkan wajib  membayar diyat.

Diatnya sama dengan yang diatas yaitu 100 ekor unta yang 40 diantaranya bunting. Diyat pembunuhan karena salah adalah 100 ekor unta atau 1000 dinar (4,25 kg emas murni 24 karat). Adapun pembunuhan yang diposisikan seperti pembunuhan karena salah, diyatnya adalah 100 ekor unta atau 1000 dinar (4,25 kg emas 24 karat).

Hanya saja yang wajib membayar adalah ‘aqilah (kerabat pelaku yang menjadi ‘ashabahnya) si pelaku. Padahal pembunuhan yang terakhir ini terjadi tanpa niat si pelaku bahkan tanpa sadar. Namun, di dalamnya tetap ada diyat. Semua ini menunjukkan betapa berharganya nyawa manusia, nyawa seorang Muslim.

Wallahu ‘alam bish-showab.

0 komentar:

 
Top