Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler

Friday, October 02, 2026 | October 02, 2026 WIB Last Updated 2026-10-01T23:49:33Z




Oleh: Nani, S.PdI (Pemerhati Remaja Andoolo) 

Fenomena kesepian tidak sekadar mencerminkan keterasingan fisik, melainkan juga kekosongan batin akibat minimnya keterikatan emosional dengan lingkungan terdekat. Dalam konteks kesehatan masyarakat, kesepian yang berlangsung berkepanjangan memiliki korelasi kuat dengan penurunan kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan bahwa penanganan isu kesehatan mental di Indonesia membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Tanpa penanganan yang memadai, dampak psikologis dari kesepian berpotensi meningkatkan angka krisis mental pada tingkat individu.

Indikasi krisis ini terlihat dari maraknya kasus dugaan bunuh diri yang melibatkan kelompok usia muda. Sebagai ilustrasi, media mencatat insiden yang menimpa seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) yang diduga melompat dari lantai enam gedung kampus pada Kamis, 10 September 2026 (KOMPAS.com). Pada pekan yang sama, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, dengan dugaan serupa (KOMPAS.com). Data dari layanan pencegahan bunuh diri Healing 119.id turut mengonfirmasi dominasi klien pada rentang usia 21–30 tahun. Temuan ini mempertegas bahwa krisis kesehatan mental saat ini berpusat pada generasi muda.

Kerentanan tersebut terasa ironis apabila dikaitkan dengan profil Generasi Z yang tumbuh di tengah pesatnya teknologi digital. Meskipun sarana komunikasi modern mempermudah interaksi antarpribadi, berbagai studi menunjukkan bahwa Generasi Z justru menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kesepian dibandingkan generasi sebelumnya. Aktivitas yang intens di media sosial ternyata tidak otomatis menghasilkan keterhubungan emosional yang bermakna dalam kehidupan nyata. Fenomena yang dikenal sebagai “sepi di tengah keramaian” ini menandakan bahwa tingginya frekuensi komunikasi virtual kerap kali berbanding terbalik dengan kedalaman hubungan psikologis.

Pergeseran pola hubungan tersebut tidak lepas dari pendorong sistemik, seperti penerapan ideologi sekularisme dan sistem kapitalisme. Kapitalisme mendorong terbentuknya interaksi sosial yang dangkal dan masyarakat yang individualistis, sehingga komunikasi tatap muka dan kehangatan dalam keluarga tergeser oleh ketergantungan pada gawai. Di sisi lain, tatanan ini menimbulkan tekanan ekonomi berlipat pada masyarakat berpenghasilan rendah, yang kemudian memperbesar beban psikologis anak akibat tuntutan akademis, keterbatasan fasilitas, serta kecemasan akan kondisi keluarga. Tanpa adanya fondasi akidah yang menuntun hidup, individu kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup, yang pada akhirnya dapat memicu keputusasaan.

Berseberangan dengan pandangan sekuler, Islam membangun ketahanan mental individu melalui penguatan akidah sejak dini. Melalui pemahaman keimanan yang mendasar, seorang Muslim diajarkan untuk meyakini bahwa setiap kesulitan merupakan ujian yang tidak akan melebihi batas kemampuan hambanya, sebagaimana tersirat dalam firman Allah SWT: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Keyakinan ini menanamkan kesadaran bahwa kehidupan adalah amanah, serta menegaskan larangan mutlak terhadap tindakan bunuh diri. Dengan demikian, penderitaan tidak dipandang sebagai akhir yang sia-sia, melainkan sebagai sarana pelebur dosa dan peningkat derajat secara spiritual.

Selain penguatan individu, Islam menawarkan solusi tatanan sosial berbasis ukhuwah Islamiyah dan kepemimpinan negara yang berorientasi pada kepedulian publik. Dalam pandangan Islam, masyarakat diibaratkan sebagai satu tubuh yang saling merasakan penderitaan sesamanya. Negara bertugas untuk memastikan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah dalam membentuk karakter yang kokoh, serta menerapkan sistem ekonomi Islam seperti pengelolaan zakat, penghentian praktik riba, dan pengaturan kepemilikan umum demi menjamin kesejahteraan material masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital pun diarahkan untuk menyebarkan edukasi dan kebaikan. Melalui pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara seimbang, akan terwujud masyarakat yang terbebas dari jerat kesepian dan keputusasaan. Wallahu a’lam bishawab.
×
Berita Terbaru Update