Oleh. Puji
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) berinisial RR (19) lompat dari lantai 6 gedung fakultas pertanian. Diduga RR hendak melakukan percobaan bunuh diri. Peristiwa RR lompat terjadi pada Kamis (10/9/2026) pagi. Dari hasil penyelidikan kepolisian terhadap saksi saksi mulai dari rekan kuliah, dosen hingga pacar korban terkuak bahwa aksi nekat mahasiswa angkatan 2025 itu dipicu asmara (https://news.detik.com/12/9/2026).
Sungguh miris melihat berita tentang mahasiswa bunuh diri. Peristiwa ini menunjukkan adanya krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda. Apa jadinya bangsa ini kalau generasi muda banyak yang mencoba melakukan bunuh diri ataupun mengalami krisis identitas dan kesehatan mental? Padahal generasi muda itu mempunyai banyak potensi untuk membangun bangsa ini menuju kemajuan teknologi.
Kapitalisme melahirkan masyarakat yang individualis dan kurang adanya rasa empati dan kebesamaan dalam lingkungan sosial. Setiap orang berjuang sendiri tanpa ikatan masyarakat yang kuat. Kesepian pun merajalela bahkan diantara mereka yang secara materi berkecukupan. Adanya pengaruh budaya positivisness yang fokus mengejar sukses individu sehingga bersikap asosial. Ini salah satu faktor adanya generasi muda melakukan percobaan bunuh diri.
Apalagi, sekularisme mencabut akidah dari kehidupan sehingga generasi muda kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Tanpa iman sebagai benteng maka kesulitan terasa berat dan berujung pada keputusasaan. Hal inilah yang melanda generasi muda saat ini sehingga mereka berbuat nekat untuk melakukan bunuh diri agar bisa terlepas dari masalah kehidupan. Semua itu adalah buah dari negara yang menerapkan sekularisme dan kapitalisme. Negara ini yang membentuk individu rapuh dan masyarakat individualis melalui pendidikan sekuler dan ekonomi kapitalisme.
Islam membangun akidah dan keimanan sebagai pondasi dasar sejak dini. Islam menekankan keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah dan bahwa bunuh diri itu hukumnya haram bagi umat manusia utamanya kaum muslimin. Keimanan dan ketaqwaan itu sebagai benteng jiwa dan menjadi penahan terkuat bagi seorang muslim dari keputusasaan. Islam menekankan bahwa negara berperan penting untuk menjadikan Alquran sebagai benteng jiwa individu dan masyarakat dalam menghadapi permasalahan agar tidak putus asa. Sehingga lahirlah individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli bukan generasi muda yang rapuh dan kesepian. Dengan Islam sebagai pedoman hidup diharapkan bisa menjadi solusi bagi generasi muda agar beriman, bertakwa dan berprestasi. Islam sebagai jalan dari kegelapan menuju cahaya bagi generasi muda agar tidak terjerumus pada potret kelam jahiliyah.
