Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jangan Sempitkan Cinta kepada Rasulullah Hanya pada Kedermawanan

Monday, September 07, 2026 | September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T06:38:58Z






Oleh : Rismayanti
Pengemban Dakwah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sering menjadi momentum refleksi teladan Rasulullah. Berbagai kegiatan dilaksanakan, salah satunya dengan mengajak umat meneladani kedermawanan beliau. Sebagaimana yang disampaikan Ketua BAZNAS  dalam kegiatan Gebyar Maulid Nabi di Kabupaten Bandung. Dalam pidatonya, Dr. K.H. Yusuf Ali Tantowi, Lc., M.A. mengajak masyarakat  meneladani akhlak beliau saw. salah satunya yaitu sifat kedermawannya.(jabar.mili.id, 25-08-2026)

Kedermawanan Rasulullah merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia yang wajib diteladani. Namun, ini hanya salah satu bagian dari teladan Rasulullah, bukan  keseluruhannya. Apakah kecintaan kepada Rasulullah  cukup diwujudkan hanya dengan meneladani akhlak dan kedermawanan beliau saja?

Ittiba kepada Rasulullah Harus Menyeluruh

Bentuk kecintaan kepada Rasulullah sesungguhnya tidak hanya dicukupkan pada aspek akhlakiyah individual semata. Rasulullah bukan sekadar seorang pribadi yang dermawan, penyayang, dan berakhlak mulia saja. Lebih dari itu, beliau adalah seorang Rasul yang membawa risalah Islam secara menyeluruh.

Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, seperti hablum minallah (hungan manusia dengan Allah) melalui akidah dan ibadah, hablum binafsih (hubungan manusia dengan dirinya sendiri) melalui makanan, pakaian, dan akhlak, serta hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia) melalui muamalah dan aturan kehidupan bermasyarakat lainnya. Ketiganya harus diarahkan kepada satu tujuan: menjalani seluruh kehidupan dalam ketaatan kepada Allah Swt., baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.

Karena itu, mencintai Rasulullah berarti berusaha ittiba (meneladani) dengan seluruh risalah yang beliau bawa, bukan dengan memilih bagian yang mudah diterapkan secara individu dan meninggalkan bagian yang dianggap menyulitkan dirinya atau tidak sesuai dengan realitas kehidupannya.

Ketika Sekularisme, Memisahkan Agama dari Kehidupan 

Umat seringkali diarahkan mamahami Islam sebatas ibadah mahdah saja seperti urusan pribadi: rajin shalat, baca Al-Qur'an, berakhlak baik, bersedekah, dan menjadi pribadi yang jujur. Mereka hanya mencukupkan pada ranah individualis saja.
Semua sifat tersebut memang harus dimiliki oleh setiap individu. Namun, ketika Islam hanya ditempatkan pada ranah individu, sementara persoalan yang lain seperti aspek ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan pemerintahan diserahkan kepada sistem yang rusak seperti saat ini, maka pemahaman yang seharusnya mendalam terhadap Islam menjadi tidak utuh dan dianggap asing.

Inilah salah satu dampak sekularisme, dimana agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan. Sementara Kapitalisme dengan orientasi materi dan asas manfaatnya semakin memperkuat individualisme serta menjadikan persoalan kemiskinan seolah hanya dapat diselesaikan melalui kedermawanan pribadi dan solusi-solusi yang pragmatis.
Akibatnya, ketika melihat kemiskinan, umat sekadar didorong untuk bersedekah. Padahal Islam memiliki mekanisme pengelolaan ekonomi yang sangat relevan, distribusi kekayaan yang dikelola oleh Baitulmal (kas negara), jaminan kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan), bahkan tanggung jawab negara dalam riayatul ummah (mengurusi urusan umat). Semua ini merupakan hal yang dicontohkan Rasulullah dalam kepemimpinannya sebagai kepala negara.

Rasulullah: Bukan Hanya Teladan Akhlak, tetapi Pemimpin Umat

Kepribadian dan akhlak Rasulullah tidak dapat dipisahkan dari risalah Islam yang beliau serukan dan terapkan.
Ketika di Madinah, Rasulullah tidak sekadar mengajarkan ibadah maupun akhlak semata. Beliau merupakan sosok pemimpin masyarakat yang mengatur kehidupan umat dengan aturan Sang Khaliq. Beliau merupakan teladan sebagai pemimpin yang adil, mengurus kepentingan rakyat, mengatur ekonomi, menjaga keamanan, menyelesaikan perselisihan, serta menerapkan hukum tanpa menjadikan status sosial, ras, agama sebagai ukuran kebenaran.
Maka, jika kita ingin benar-benar meneladani Rasulullah, kita tidak cukup bertanya, “Sudahkah kita menjadi orang yang dermawan?” tetapi juga perlu bertanya,
“Sudahkah kita memahami dan memperjuangkan diterapkannya Islam secara kaffah sebagaimana Rasulullah mencontohkannya?”

Kedermawanan yang Menjadi Solusi

Kedermawanan Rasulullah juga bukan sekadar sikap personal dan pragmatis. Kedermawanan ini hadir dalam bentuk riayatul ummah atau pengurusan terhadap umat.
Sebagai contoh, ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau membangun sebuah masjid yang bukan hanya digunakan sebagai tempat ibadah saja. Salah satu bagian serambinya beliau gunakan sebagai tempat tinggal bagi kaum fakir yang tidak memiliki tempat tinggal, yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah.
Ini menunjukkan bahwa persoalan umat menjadi tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya diserahkan kepada individu masing-masing. Bahkan beliau memastikan umat bisa mendapatkan kehidupan yang layak.

Di sinilah kita dapat melihat relevansinya dengan kehidupan hari ini. Ketika kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, dan sulitnya memenuhi kebutuhan dasar masih menjadi persoalan. Solusi tidak disempitkan hanya dengan mengajak masyarakat bersedekah.
Sedekah memang cukup membantu individu. Namun, Islam juga mengatur sistem agar kebutuhan rakyat dapat dijamin dan harta tidak hanya berputar di kalangan agnia (orang berada) saja.

Maulid sebagai Momentum Muhasabah

Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk memperdalam kecintaan kita kepada Rasulullah. Bukan sekadar memperbanyak acara seremonial atau mengingat kedermawanan beliau saja, tetapi lebih kepada memahami risalah Islam yang beliau bawa dan perjuangkan.

Sebagai muslimah, kita dapat mengambil peran dengan memperkuat akidah, meningkatkan ibadah, memperbaiki akhlak, mendidik keluarga dengan Islam, sekaligus memahami Islam sebagai aturan kehidupan yang menyeluruh. Sebab, Rasulullah datang tidak hanya untuk mengajarkan bagaimana menjadi manusia baik, tetapi beliau membawa Islam sebagai risalah yang mengatur kehidupan manusia secara kaffah.

Maka, bukti cinta dan bentuk kita ittiba terhadap Rasulullah bukan sekadar meneladani kedermawanan beliau, tetapi juga dengan berusaha mengikuti perjuangan bahkan metode beliau dalam mendakwahkan dan menerapkan Islam secara menyeluruh. Mencintai Rasulullah bukan hanya dengan ucapan tetapi harus ada aksi yang nyata seperti mencintai risalahnya, mempelajarinya, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan berusaha mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Islam. Wallahualam bissawab.


×
Berita Terbaru Update