Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tepi Barat Diserang, Anak-anak di Palestina Menjadi Korban.

Thursday, August 27, 2026 | August 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-27T09:16:10Z




Oleh : Seni Rosdiana

(Kontributor Pena Cemerlang)

Kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur terus menimbulkan korban jiwa dan luka-luka termasuk dikalangan anak-anak. Serangan, penangkapan, pengusiran, hingga kekerasan bersenjata terus menghantui kehidupan anak-anak Palestina, situasi ini menjadi saksi penderitaan panjang rakyat Palestina. Sepanjang Januari 2024 hingga Juli 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memverifikasi sebanyak 174 anak Palestina di Tepi Barat kehilangan nyawa. Angka tersebut berarti lebih dari satu anak meninggal setiap minggunya akibat berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut. Wakil Koordinator Khusus PBB Ramiz Alakbarov dalam pidatonya dihadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai isu Timur Tengah termasuk Palestina, mengatakan bahwa hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid di Tepi Barat sepanjang tahun 2026, termasuk 18 anak dibawah umur. (Republika, 12/02/2026)

Serangan Zionis Makin Brutal di Tepi Barat

Tidak hanya kehilangan nyawa, ribuan anak kecil jPalestina lainnya juga mengalami luka-luka. Lebih dari 1.500 anak dilaporkan terluka, dan hampir separuh dari mereka mengalami luka akibat peluru tajam. Fakta ini memperlihatkan betapa seriusnya dampak kekerasan bersenjata terhadap anak-anak yang semestinya mendapatkan perlindungan khusus. Penderitaan anak-anak Palestina juga tidak berhenti pada kematian dan luka fisik. Data menunjukkan bahwa 355 anak Palestina dari Tepi Barat masih berada dalam tahanan militer Israel. Penahanan tersebut menambah panjang daftar penderitaan anak-anak yang hidup di tengah situasi konflik dan ketegangan. 

Rangkaian fakta tersebut memperlihatkan bahwa anak-anak bukan sekadar menjadi pihak yang menyaksikan konflik, tetapi turut menjadi korban langsung. Kejahatan Zionis Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya anak-anak, telah menimbulkan penderitaan yang begitu besar. Kekerasan yang terus berlangsung juga meninggalkan trauma mendalam serta kerusakan nyata terhadap kehidupan dan masa depan anak-anak Palestina. Mereka kehilangan anggota keluarga, rumah, sekolah, lingkungan tempat bermain, bahkan rasa aman yang seharusnya menjadi hak dasar setiap anak. 

Israel menciptakan tekanan yang semakin besar terhadap masyarakat Palestina. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Palestina bukan sekadar konflik bersenjata, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup sebuah masyarakat yang terus menghadapi berbagai bentuk kekerasan dan pemindahan paksa. Yang lebih memprihatinkan, kekerasan di Tepi Barat kerap berlangsung dengan perhatian dunia yang jauh lebih kecil dibandingkan situasi di Gaza. Padahal, penderitaan rakyat Palestina di Tepi Barat juga membutuhkan perhatian dan tindakan nyata dari masyarakat internasional. Para penguasa di negeri-negeri Muslim pun memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk tidak membiarkan penderitaan rakyat Palestina berlalu tanpa pembelaan. 

Haram Membiarkan Kezaliman

Kezaliman terhadap anak-anak, perempuan, maupun rakyat yang tidak berdaya merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan yang wajib dihentikan, bukan dibiarkan berlangsung tanpa tindakan. Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi kehormatan, keselamatan, dan kemuliaan manusia. Karena itu, pembiaran terhadap kejahatan yang menimpa anak-anak dan masyarakat sipil tidak dapat dibenarkan. Dalam menghadapi kejahatan Zionis Israel terhadap rakyat Palestina, kepedulian umat Islam tidak boleh berhenti pada rasa prihatin. Ukhuwah Islamiyah dan persatuan negeri-negeri Muslim menjadi sangat penting agar umat memiliki kekuatan politik yang mampu melindungi rakyat Palestina dan menghadapi berbagai bentuk agresi serta penjajahan. 

Dalam pandangan perjuangan politik Islam, penegakan Khilafah dipandang sebagai sarana untuk menyatukan negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan dan membangun kekuatan yang mampu membela kaum Muslim yang dizalimi. Dengan persatuan tersebut, persoalan Palestina tidak semestinya dipandang sebagai persoalan satu bangsa saja, tetapi sebagai persoalan umat yang menuntut perhatian dan pembelaan bersama. Rasulullah saw bersabda : _“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling menyayangi dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”_ *(HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)*

Seruan untuk membela Palestina juga perlu terus disampaikan melalui perjuangan politik dan dakwah yang konsisten. Jihad dan pengerahan kekuatan militer merupakan bagian dari upaya pembebasan Palestina. Namun, pelaksanaannya tidak boleh diserahkan kepada tindakan individu atau kelompok secara serampangan, melainkan harus berada dalam kerangka otoritas yang sah dan aturan syariat. Karena itu, perjuangan membela Palestina harus terus digaungkan hingga kezaliman berakhir dan rakyat Palestina memperoleh hak-haknya. 

Dengan demikian, tujuan utama dari perjuangan tersebut bukanlah sekadar konflik atau permusuhan, melainkan terciptanya keadilan dan kedamaian. Islam mengajarkan bahwa syariat diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh manusia. Karena itu, sebagian kaum Muslim yang berfikir, berpendapat bahwa solusi jangka panjang bagi berbagai konflik global adalah dengan menjadikan nilai-nilai hukum Islam yang menekankan kepada keadilan, perlindungan hak, dan keseimbangan sosial—sebagai inspirasi dalam tatanan hukum yang lebih luas. Dengan demikian, nilai tersebut diharapkan dapat mewujudkan prinsip rahmatan lil ‘alamin, yaitu membawa rahmat, keadilan, dan kedamaian bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bish-shawwab
×
Berita Terbaru Update