Banjir Berulang Setiap Tahunnya : Negara Tidak Serius Menyelesaikannya?


Oleh: Dwi lestari 


Setiap memasuki musim penghujan, banjir selalu menjadi masalah yang selalu menyapa setiap tahunnya di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti yang terjadi di Dusun Ai Mual, Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) Sabtu, 17 Februari kemarin. “Sebanyak 117 rumah terdampak banjir bandang ini. Selain rumah warga, ada juga sawah yang ikut terdampak lebih kurang 50 hektar. Banjir meluap 15 cm sampai 20 cm”, kata Rusdianto selaku Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbawa (Kompas 18/02/2024). Sementara banjir yang terjadi di Kabupaten Demak yang menggenangi 19 desa di Kecamatan Karanganyar dan Kecamatan Gajah hingga Sabtu (17/2/2024) belum surut sepenuhnya. Kedalaman air yang menggenang masih mencapai 30 sampai 60 cm, yang sebelumnya mencapai 2,7 meter (Kompas 17/2/2024).

Tak ketinggalan Ibu Kota Jakarta, wilayah sentral yang selalu menjadi langganan banjir. Tercatat ada sebanyak 7 RT dan 21 jalan terendam banjir sejak hari pencoblosan lalu, dengan ketinggian air yang beragam bahkan ada yang nyaris sampai 2 meter. Beralih ke Tangerang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, mencatat ada 5.413 jiwa terdampak banjir  dari total yang terdampak di tiga desa dengan dua kecamatan (okenews 17/2/2024).

Secara umum, banjir yang terjadi di sejumlah wilayah ini karena  curah hujan yang tinggi sehingga terjadi peningkatan debit dan volume air yang ada di daratan yang tidak diimbangi dengan adanya daerah resapan. Kesalahan pada sistem tata kelola ruang juga turut andil dalam hal ini. Adanya kesalahan tersebut, biasanya air akan sulit menyerap ke dalam tanah dan menyebabkan aliran air menjadi lambat. Belum lagi kebiasaan buruk manusia, dalam membuang sampah sembarangan, penebangan hutan secara liar, kebiasaan membakar sampah, polusi kendaraan, dan asap industri yang menyebabkan pemanasan global, yang secara tidak langsung bisa menjadi penyebab terjadinya banjir. 

Mengatasi masalah ini, pemerintah telah melakukan berbagai program diharapkan bisa mengurangi atau mencegah terjadinya banjir. Program yang dilakukan tidak berorientasi pada betonisasi, seperti program Gerebek Lumpur dengan mengintensifkan pengerukan pada selokan, kali, situ, waduk, lalu membuat olakan-olakan, memperbaiki saluran air, mengintensifkan instalasi sumur resapan atau drainase vertikal, mengimplementasikan Blue and Green, yaitu taman yang menjadi kawasan tampungan air sementara saat intensitas hujan tinggi, penyediaan alat pengukur curah hujan, dan perbaikan pompa air. 

Sebenarnya banjir bukanlah masalah baru atau terjadi satu, dua kali. Bahkan ia adalah masalah klasik yang selalu berulang setiap musim setiap tahunnya. Harusnya jika masalah ini sudah sering terjadi, pemerintah lebih bisa mengatasi atau bahkan mencegah agar tidak sampai terjadi lagi di kemudian hari. Tapi faktanya masalah ini masih saja terjadi dan terus terjadi. Agaknya marilah kita renungkan bersama apa yang menjadi firman Allah dalam QS. Ar Rum : 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Air hujan yang turun dari langit harusnya menjadi rahmad, nikmat, dan berkah bagi seluruh alam. Baik manusia, hewan, ataupun tumbuh-tumbuhan, bukan malah menjadi azab atau musibah bagi makhluk. Maka dari sini kita bisa instropeksi diri, dan sadar diri. Dengan begitu kita bisa memperbaiki diri. Allah telah memperingatkan kepada kita sebagaimana dalam QS. Ar Rum : 41, bahwa kita manusia telah terlalu banyak berbuat kerusakan dan kedholiman di muka bumi ini. Kerusakan dan kedholiman terbesar adalah yakni, kita telah berpaling dari hukum-hukum(aturan)Nya dan membuat hukum(aturan) sendiri. Mengambil segaian hukum-hukumNya, dan meninggalkan sebagian yang lainnya. Padahal, Allah memerintahkan untuk mengambil hukumNya (islam) secara menyeluruh. “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208)

Padahal jika kita mau mengambil Islam secara keseluruhan, islam mempunyai solusi dalam mengatasi masalah banjir. Solusi tersebut mencakup sebelum, ketika, dan pasca banjir.Pada kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, baik akibat hujan, gletser, rob, dan lain sebagainya, maka negara akan menempuh upaya-upaya sebagai berikut:

Pertama, membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai dan curah hujan. Bendungan-bendungan dengan berbagai macam tipe akan dibangun sesuai kebutuhan untuk mencegah banjir maupun untuk keperluan irigasi. Kedua, memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air (akibat rob, kapasitas serapan tanah yang minim dan lain-lain). Selanjutnya, membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut. Ketiga, negara membangun kanal, sungai buatan, saluran drainase, atau apapun namanya untuk mengurangi dan memecah penumpukan volume air, atau untuk mengalihkan aliran air ke daerah lain yang lebih aman. Secara berkala, mengeruk lumpur-lumpur di sungai, atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan. Keempat, membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu. Sumur-sumur ini, selain untuk resapan, juga digunakan untuk tandon air yang sewaktu-waktu bisa digunakan, terutama jika musim kemarau atau paceklik air.

Selain itu, dalam aspek undang-undang dan kebijakan, islam telah mengatur beberapa hal penting. Seperti, kebijakan tentang master plan, mengeluarkan syarat-syarat tentang izin pembangunan bangunan, membentuk badan khusus yang menangani bencana-bencana alam yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan, dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana, menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai daerah cagar alam yang harus dilindungi, menetapkan kawasan hutan lindung, dan kawasan buffer yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin, dan juga memberikan sanksi tegas kepada oknum oknum yang melakukan aktivitas pembalakan hutan dan ilegal logging. Di samping itu, terus-menerus menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta kewajiban memelihara lingkungan dari kerusakan.

Dalam menangani korban-korban bencana alam, harus bersegera bertindak cepat dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana. Negara menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban bencana alam tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. Juga mengerahkan para alim ulama untuk memberikan tausiyah-tausiyah bagi korban agar mereka mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa, sekaligus menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.

Dengan demikian, masalah banjir bisa ditangani dengan tuntas dan tidak berulang, insyaAllah. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al A’raf : 96)

Post a Comment

Previous Post Next Post