Kampanye dari para aktor politik sudah mulai kencang akhir-akhir ini yaitu setelah kampanye Pemilu 2024 dimulai pada Selasa (28/11/2023). Kampanye dilakukan melalui berbagai media komunikasi mulai dari baliho yang penuh di setiap jalan, terjunnya aktor politik ke masyarakat, dan aktifnya upaya-upaya di media sosial. Beriringan dengan itu, tentu masing-masing dari aktor politik memiliki pendukung maupun tim sukses untuk menyukseskan kampanye tersebut.
Para aktor politik menyerukan gagasan demi gagasan, rencana demi rencana, dan beragam janji, bahkan pencitraan. Belum lagi tidak dapat dipungkiri adanya kampanye hitam yang bisa memantik perselisihan dan konflik di tengah masyarakat. Ketua Bawaslu Provinsi Jambi, Wein Arifin pun mengimbau supaya dalam pelaksanaan kampanye ini untuk menghindari “Black Campaign” seperti menyebarkan berita hoax atau bohong dan yang mengandung sara. (Jambi Bawaslu, 27/11/2023).
Upaya-upaya kampanye di Indonesia pun mendapatkan banyak respon dari media asing. Sebagaimana di media Jepang, Nikkei Asia menulis artikel “Indonesia’s Prabowo leads as presidential campaign kicks off Race highlights growing rift between Jokowi and his political party". Yaitu dikatakan bahwa pada saat berkampanye, Prabowo-Gibran masih unggul. (CNBC, 30/11/2023).
Masyarakat Hendaknya Lebih Kritis
Untuk bisa menelaah apakah calon pemimpin memiliki kompetensi yang layak dan memprioritaskan rakyat tentu tidaklah bisa hanya sebatas menelan kampanye-kampanye sederhana yang jauh dari esensi. Kita perlu mengetahui bahwa aktor politik, partai, dan rentetan tim suksesnya berstrategi supaya meraih suara masyarakat sebanyak-banyaknya. Maka, masyarakat perlu menelaah dengan konsen apakah betul para aktor politik bertujuan membuat negara ini menjadi lebih baik atau lebih condong pada meraih kekuasaan dan ego materialistik semata.
Aktor politik dengan mudah menggunakan latar belakang identitas masyarakat untuk menumbuhkan kecenderungan, seolah mewakili aspirasi anak muda misalnya, mewakili mayoritas agama tertentu, atau bahkan masuk ke tataran seakan-akan menjadi pahlawan yang membawa angin segar namun di belakangnya tetap bersengkokol dengan para oligarki yang merenggut hak-hak rakyat.
Maka, menyeleksi antara aktor-aktor politik dengan memilih “mana yang lebih baik” tidaklah cukup, masyarakat pun perlu menelaah lagi jauh dan mendalam dari landasan yang saat ini diterapkan. Sebagaimana diketahui, saat ini kita hidup dengan landasan kapitalisme.
Kapitalisme Titik Problem Hari Ini
Di dalam sistem kapitalisme, landasannya adalah kemanfaatan secara materi semata. Maka, upaya-upaya di dalamnya tidak akan jauh dari urusan bisnis dan perkawinan antara penguasa dan pengusaha. Dengan itu, upaya-upaya politik di dalam sistem kapitalisme ini sebaik apapun yang terlihat, maka akan sulit terlepas dari kepentingan tertentu yang tentu saja kepentingannya akan sesuai dengan keinginan sang pengatur skenario, dan menomor-sekiankan kepentingan masyarakat.
Hal ini bisa dilihat dari hal-hal yang sudah terjadi beberapa waktu ke belakang. Bagaimana para calon pemimpin atau perwakilan rakyat dengan manis meminta suara dari masyarakat, lalu setelah mendapatkan jabatan mereka mencampakkan masyarakat dan berenang dalam uang-uang korupsi dan penyelewengan kebijakan.
Dengan demikian, masyarakat hendaknya tidak lagi termakan oleh intrik, tipu daya, dan serba-serbi kampanye begitu saja. Tidak bisa dianggap sepele karena hal ini akan berpengaruh pada nasib masyarakat itu sendiri selama bertahun-tahun ke depan.
Mencontoh Islam, Kelak Terlahir Pemimpin yang Amanah
Di dalam Islam, landasan melakukan sesuatu tentu bukan atas materi atau kepentingan segelintir pihak saja. Islam melandasi semua hanya karena Allah SWT semata. Dengan itu, keimananlah yang menjadi titik awal seseorang dalam melangkah. Tak lupa, kesejahteraan rakyat adalah hal yang pastinya sangat diupayakan.
Dengan landasan yang benar, maka akan terlahir pemimpin yang amanah, tahu prioritas, dan menjalankan semua dengan penuh keterhubungan dengan Sang Pencipta. Pemimpin di dalam Islam, tahu betul bahwa amanah kepemimpinan bukanlah hal remeh, semua akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Jabatan dunia adalah tugas besar yang perlu kompetensi, bekal, dan tujuan yang benar.
Maka, sudah pasti jika landasannya benar, kebijakan yang dilimpahkan pun akan sesuai dengan hukum syara yang memang sudah Allah SWT sediakan untuk mengatur umat manusia secara sempurna. Tidak akan ditemukan praktik-praktik curang, konflik, atau perselisihan atas nama dunia semata seperti hari ini. Semua bersama-sama menuju ketaatan dan menuju kebahagiaan yang hakiki. Yaitu kebahagiaan di dunia dengan kebijakan dan fasilitas yang adil, dan menuju kebahagiaan hakiki dengan meraih keridhaan Allah SWT.
Dengan demikian, jangan hentikan sikap kritis kita hanya sampai tataran sepele, tapi mari masuk lebih dalam sampai kita temukan bahwa Islamlah sebaik-baiknya landasan dalam kepemimpinan. Jangan pula masyarakat disibukkan dengan konflik maupun perselisihan yang sama sekali tidak menciptakan perbaikan.
Saat ini waktunya kita menyadari bahwa semua perbaikan hakiki hanya mampu diciptakan melalui penerapan Islam secara menyeluruh. Yaitu meneladani kegemilangan Islam terdahulu yang mampu mengantarkan masyarakat pada kehidupan yang terbaik dan menjauhkan masyarakat dari hal-hal yang merugikan seperti kebanyakan hari ini.
Wallahu a’lam bishawab.

No comments:
Post a Comment