Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Duka Sepak Bola Dan Aroma Kapitalisasi

Monday, October 10, 2022 | Monday, October 10, 2022 WIB Last Updated 2022-10-10T10:30:35Z

Oleh: Siti Zaitun.

Dunia olahraga sangat diminati para pemuda dan juga anak-anak. Mirisnya dunia olahraga sedang berduka karena tragedi Kanjuruhan. 

Turut berduka atas terjadinya tragedi Kanjuruhan Malang. Tercatat 180 suporter sepakbola meninggal dunia, bahkan bisa terus bertambah datanya. Malam kelabu bagi dunia sepak bola di tanah air dan dunia, usai kekalahan dari tim tuan rumah Arema FC Malang dalam laga lanjutan Liga Satu Indonesia kontra persebaya Surabaya. Menurut CNN Indonesia, ( 1/10/2022).

Ribuan penonton menjadi panik setelah aparat keamanan menembakkan gas air mata mencegah massa yang mencoba untuk turun ke lapangan. Sehingga banyak korban akibat aparat menembakkan gas air mata tersebut. 
Penonton yang masuk ke lapangan beragam versi, namun sebagai reaksi kepada para pemain yang meminta maaf atas kekalahannya. Yang sangat disesalka adalah penembakan gas air mata yang dilakukan oleh para aparat keamanan disertai tindakan kekerasan kepada suporter yang dalam aturan FIFA tidak diperbolehkan. 

Olahraga sepak bola saat ini tidak bisa dilepaskan dari atmosfer penonton, terutama yaitu suporter fanatik yang memang sengaja hadir untuk menyaksikan pertandingan dari tim kesayangannya secara langsung. Kehadiran dari penonton ini menjadi aset tersendiri karena dari para penonton cuan akan didapatkan, belum lagi dari penjualan jersey dan merchandise yang tentu membuat permainan si kulit bundar kini menjadi industri yang sangat menggiurkan bagi para konglomerat atau oligarki. 

Dalam catatan sejarah kericuhan sepak bola dunia, sudah pernah terjadi pada tahun 2012 di Stadion Port Saif Mesir saat laga tim Al Masyri dan Al Ahly tercatat 79 korban meninggal dan sekitar 1000 korban luka- luka. Kejadian tersebut adanya  ulah dari suporter fanatik  Ultras yang dimanfaatkan oleh para kapital. 

Sepak bola saat ini bukan lagi sekedar olahraga, namun dijadikan olahdana bagi para kapitalis sebagai lahan bisnis yang sangat-sangat menggiurkan dan sekaligus menjadi alat politik kekuasaan untuk meraih popularitas semata. Namun tidak heran banyak dari kalangan pejabat atau politisi jor-joran menghidupi dunia sepak bola. Semisal Erik Thohir yang pernah menjadi bosnya klub besar Internazionale Milan Italia. 

Saat ini seluruh penjuru dunia masih berlandaskan akidah sekularisme. Pemisahan agama dari kehidupan yang tidak berstandarkan  halal dan haram. Mabda sekularisme ini standar nya adalah materi. Wajar saja dalam sistem ini segala sesuatunya hanya bernilai materi, maka olahraga tujuannya hanya untuk mencari cuan, cuan dan cuan. 

Berbeda ketika islam dijadikan kepemimpinan berpikir, rujukan hukumnya berlandaskan Al-quran dan As-sunnah. 

Kegiatan olahraga dan non- olahraga, bahkan semua urusan kehidupan manusia, karena merupakan bagian dari kehidupan manusia harus diatur, baik dengan Al-Qur'an maupun Sunnah Rasulullah SAW..,, baik dalam bentuk perbuatan, perkataan, termasuk motivasi, dan tindakannya. 

Kehidupan umat Islam pada era ketika hukum Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Dibawah naungan Negara Islam adalah kehidupan Islam dipenuhi ambisi serta cita-cita Islam yang mulia, yaitu dengan menjunjung tinggi kalimah Allah. Dengan dakwah dan jihad, guna mengembangkan dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. 

Nabi bersabda, "Sesungguhnya melancong dan rekreasi umatku adalah berjihad dijalan Allah. " (HR Abu Dawud, Hakim Baihaqi, dan Ath-Thabrani. 

Kehidupan umat Islam bukanlah kehidupan yang dipenuhi dengan senda gurau dan santai, melainkan kehidupan yang serius. Meskipun boleh sesekali diselingin dengan santai dan senda gurau. Namun, selingan ini mendominasi waktu dan hari seseorang muslim. 

Dengan demikian, jika nabi memerintah agar kita mengajarkan renang, berkuda, dan memanah kepada anak-anak kita, konteks perintah tersebut ada dua pertama, menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat dan kedua, melatih kekuatan fisik untuk persiapan berjihad dijalan Allah, tidak lebih dari itu. 

Oleh karena itu olahraga diperlukan dalam dua konteks ini. Bukan untuk olahraga itu sendiri, juga bukan untuk mendapatkan dan mengumpulkan harta, bukan pula untuk mendapatkan popularitas dan ketenaran, yang diikuti dengan arogansi, kesombongan, serta sikap destruktif lainnya, sebagaimana yang banyak ditunjukkan oleh olahragawan dan atlet saat ini. 

Dengan kata lain olahraga ini di-set up sedemikian rupa sebagai bagian dari aktivitas politik dan ideologis. Inilah tujuan dan konteks olahraga, yang pada era permulaan Islam dikenal dengan istilah Furusiyyah ( latihan berkuda untuk memberikan, membela dan mengembalikan hak-hak yang dirampas dari pemiliknya. 

Dalam konteks inilah, olahraga ini disyariatkan. Allah berfirman, "Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang mampu kalian upayakan." (QS Al-Anfal:60). 

Kebijakan olahraga yang salah ketika kehidupan umat Islam dipimpin oleh ideologi kapitalisme, dengan asas manfaat sebagai pandangan hidupnya, maka orientasi hidup kaum Muslim pun berhasil disesatkan. Mereka bukan hidup untuk Islam dan umatnya, apalagi persiapan untuk kehidupan akhirat. Namun, mereka hidup untuk kesenangan duniawi dan materi. 
Dunia olahraga pun disulap menjadi industri untuk mewujudkan ambisi materi, duniawi, dan popularitas. 

Inilah industri olahraga yang telah keluar dari konteksnya untuk menjaga kebugaran tubuh persiapan berjihad dijalan Allah. Di negara-negara Barat, olahragawan dan atlet pun terlibat skandal seks, minuman keras, kecanduan obat, dan moralitas. 

Kehidupan mereka pun telah membuat kaum Muslim mengikuti berita dan agenda olahraga dengan sangat mendalam, sehingga menjauh umat islam dari urusan agama dan umat mereka. Semuanya ini telah menyeret mereka dari berbagai usia, dari anak-anak dan orang dewasa. 
Inilah masalah yang dihadapi oleh kaum Muslim saat ini. 

Bahkan, olahraga digunakan sebagai sarana untuk meracuni mereka dan menghalang-halangi mereka dari zikir salat, dan jihad di jalan Allah. Sehingga mereka tidak peduli terhadap peristiwa atau kondisi yang menimpa kaum muslim. Ini jelas dilarang oleh Islam. 

Jihad sebagai ujung tombak Islam ( dzarwah sanam al- Islam) dan cara yang disyariatkan oleh Allah untuk meraih kemuliaan didunia dan akhirat, jelas membutuhkan persiapan, antara lain kebugaran badan. Dalam hal ini, olahraga dan latihan fisik jelas membutuhkan persiapan, antara lain kebugaran badan. Dalam hal ini, olahraga dan latihan fisik jelas mempunyai peranan. Sebagai contoh, keahian memanah, melempar lembing, dan menembak, misalnya, jelas sangat dibutuhkan dalam berjihad. 

Demikian juga kebugaran fisik, merupakan prasyarat yang dibutuhkan dalam berjihad agar bisa mengarungi medan jihad yang sangat berat. Ini membutuhkan latihan dan olahraga, seperti jalan kaki, lari sprint, termasuk renang yang sangat membantu kebugaran fisik dan pernafasan. Selain itu, olahraga seperti karate, taekwondt, kungfu, ninja, dan keterampilan sejenisnya yang olahraga ini berguna untuk mempertahankan diri dan menyerang lawan, juga dibutuhkan. 

Hanya saja, olahraga tersebut bukan untuk olahraga itu sendiri sehingga tidak untuk diperlombakan, sekaligus menjadi ajang pertunjukan, tontonan, dan bisnis. Karena tradisi perlombaan seperti ini tidak ada dalam budaya Islam. 

Budaya ini merupakan budaya Yunani, dengan gimnasiumnya, dan ada sebelum Islam. Ketika Islam berkuasa, budaya dan tradisi seperti ini tidak pernah ditemukan dalam kehidupan Islam. Oleh karena itu, apa yang kini berlangsung di tengah-tengah kaum muslim, sesungguhnya bukan warisan budaya Islam dan bertentangan dengan cita-cits Islam. Semua ini tidak akan bisa terwujud tampa adanya disistem Islam yang menerapkan hukum Allah. Wallahualam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update