Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Nussa Rara, Taliban dan Kebebasan Berpendapat Semu

Friday, July 02, 2021 | Friday, July 02, 2021 WIB Last Updated 2021-07-02T14:44:15Z
Penulis : Ummu Haura

Siapa yang tidak kenal Nussa Rara?? Sebuah tayangan edukasi untuk anak berisikan nilai- nilai islami yang sangat digemari berbagai kalangan. Kabar terbaru menyebutkan bahwa film animasi yang di sutradarai Bony Wirasmono ini akan tayang perdana di 25th Bucheon International Fantastic Film Festival atau BIFAN 2021 yang berlangsung di Korea Selatan. Sebagai perwakilan dari Indonesia, film animasi Nussa Rara masuk kategori film keluarga.

Film animasi panjang pertama Visinema dan The Little Giantz, studio animasi asal Jakarta berkisah tentang seorang bocah laki- laki bernama Nussa yang sedang menghadapi permasalahan baru dalam hidupnya. Seorang anak baru datang dan mengalahkan dirinya dalam lomba sains, serta kekecewaan mendalam akibat sang Abi yang tak memenuhi janji. Padahal selama ini, Nussa dikenal sebagai anak yang pintar dalam sains, terobsesi bisa menerbangkan roket, serta soleh juga berbakti kepada orang tuanya.

Dalam pergulatan batin tersebut, Nussa mengalami pembelajaran baru yang membuatnya semakin memahami kehidupan dan menjadi anak yang lebih dewasa.

Sayangnya, prestasi anak negeri ini terusik dengan adanya cuitan dari pegiat media sosial Eko Kuntadhi yang menyebut pakaian yang dipakai oleh karakter utama Nussa mempromosikan Taliban. Eko Kuntadhi menyebut bahwa pakaian Nussa tidak mencerminkan anak Indonesia, melainkan pakaian khas anak Taliban. Dikutip dari akun Twitter Eko Kuntadhi pada Senin, 21 Juni 2021, dia mengungkapkan film Nussa dan Rara mempromosikan Indonesia sebagai cabang khilafah.

Cuitan ini langsung ditanggapi oleh netizen juga produser film animasi tersebut, Angga Sasongko. “Saya orang yang terbuka dan respect dengan sikap berseberangan, saling tidak sepakat dan berbeda pendapat. That’s the beauty of democracy. Yang saya benci adalah ketika ruang itu terbuka, tapi menolak dipakai untuk diskusi, lalu terus menerus mempolarisasi dan bermain politik identitas.”

Politik identitas adalah sebuah alat politik suatu kelompok seperti etnis, suku, budaya, agama atau yang lainnya untuk tujuan tertentu, misalnya sebagai bentuk perlawanan atau sebagai alat untuk menunjukan jati diri suatu kelompok tersebut.

Angga sendiri dalam cuitannya yang lain sudah menyediakan ruang untuk mendiskusikan film animasi Nussa Rara tersebut kepada Eko tetapi ajakan itu tidak ditanggapi.

Yah, itulah kebebasan berpendapat semu dalam demokrasi. Demokrasi adalah ‘anak’ dari ideologi Sekulerisme. Ideologi ini mengatur kehidupan manusia dengan asas memisahkan kehidupan manusia dari aturan- aturan agama. Maka, orang- orang yang mengasong ideologi ini akan ‘alergi’ ketika aturan agama muncul di kehidupan manusia contohnya adalah baju yang dipakai Nussa dalam film animasi tersebut. Sedangkan ketika anak- anak negeri ini disuguhi tayangan orang- orang berpakaian minim mereka tidak akan mengkritisinya. Sekalipun ada aturan agama dalam sistem sekulerisme, pastilah aturan- aturan itu akan terus digoyang untuk seutuhnya manusia diatur oleh peraturan yang berasal dari akal mereka bukan atas perintah Illahi. Padahal akal manusia itu sangat terbatas.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 208: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Cuitan Eko yang mengaitkan pakaian Nussa dalam film animasi tersebut jelas tidak memiliki dasar sama sekali. Masih banyak yang harus dia kritisi. Di saat negeri ini sedang babak belur menghadapi serangan pandemi Covid 19 gelombang kedua, tetapi masyarakat disajikan dengan drama murahan. Dengan perilaku buzzer yang seperti ini jelas merugikan kredibilitas pemerintah sendiri. Karena pemerintah terkesan membiarkan ulah para buzzer dengan berbagai dramanya yang membuat muak masyarakat.

Saatnya pemerintah membereskan ulah buzzer- buzzer ini untuk menciptakan kondisi Indonesia yang tentram. Fokuslah dengan berbagai tanggung jawab pemerintah mengurusi negeri. Hutang yang semakin menumpuk, pandemi yang tak kunjung usai dan semakin menelan nyawa rakyat, korupsi di berbagai bidang , meruginya BUMN, juga naiknya angka kemiskinan, kejahatan dan berbagai permasalahan lainnya.

Janganlah buzzer ini dibiarkan demi menutupi kebobrokan kinerja pemerintah dengan memainkan isu- isu recehan. Pun rakyat Indonesia harus semakin sadar bahwa iklim politik di negeri ini sudah tidak sehat dan juga harus menyadari kebebasan semu yang ada dalam system di ngeri ini. Sistem yang rusak dan merusak ini harus segera diganti dengan sistem yang mampu membawa ketentraman bagi seluruh lapisan rakyat.

Islam adalah sebuah sistem yang datangnya dari Tuhan pencipta manusia. Islam mampu menaungi umat muslim maupun umat beragama lainnya. Islam mengakui dan menghargai adanya perbedaan selama perbedaan itu tidak menyalahi aturan- aturan hukum syara. Sejarah mencatat hal tersebut, tinggal maukah kita mempelajarinya.
Wallahu’alam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update