Siswi HSG Khoiru Ummah.
Uni Emirat Arab (UEA) siap memfasilitasi perdamaian Palestina dan Israel, seusai keduanya sepakati gencatan senjata.
Sedangkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Sabtu (22/5/2021) mengatakan permusuhan Palestina dan Israel telah dihentikan dengan gencatan senjata.
Tetapi, untuk mencapai perdamaian abadi harus didasarkan pada solusi dua negara, dialog dan resolusi PBB yang relevan. (https://aceh.tribunnews.com/2021/05/23/uni-emirat-arab-siap-fasilitas-perdamaian-palestina-israel-oki-serukan-solusi-dua-negara)
Lalu ada juga Sudan yang menyambut baik gencatan senjata antara Israel dan Palestina, dikutip dari kumparan.com. Normalisasi dengan Israel dilihat oleh banyak pihak di Sudan sebagai inisiatif yang dipimpin oleh militer, yang menyambut baik kunjungan pejabat Israel dalam beberapa bulan terakhir. (https://kumparan.com/kumparannews/sudan-sambut-baik-gencatan-senjata-antara-israel-dan-palestina-1vn6fucKfal)
Faktanya, gencatan senjata yang banyak diusulkan berbagai pemimpin dunia Islam hanya menegaskan bahwa tidak ada pembelaan yang sempurna terhadap muslim di Palestina.
Gencatan senjata yang merupakan perdamaian semu hanya akan menjadi peluang bagi Zionis Israel untuk memulihkan kekuatan, dan kita tidak akan tahu apa yang akan menimpa saudara kita di Palestina sana, setelah mereka (zionis israel) sudah memulihkan kekuatannya.
Seperti yang baru terjadi beberapa waktu lalu, belum lama saat Palestina-Israel dalam masa gencatan senjata, sudah muncul berita mengenai penembakan gas air mata yang dilakukan polisi Israel ke arah warga palestina setelah shalat jum'at.
Dikutip dari cnbcindonesia.com, "Polisi Israel mengatakan bahwa beberapa pemuda yang berada di kompleks Al-Aqsa melempari polisi Israel dengan batu. Namun, warga Palestina mengatakan bahwa mereka telah dilecehkan sejak dini hari ketika mereka tiba di masjid. Mereka dikepung oleh polisi dan mereka merasakan banyak tekanan," kata Abdel-Hamid, wartawan Aljazeera melaporkan. (cnbcindonesia.com)
Ini menjelaskan kepada kita tentang betapa lemahnya gencatan senjata antara Palestina-Israel dan ini tidak menjamin keamanan muslim di Palestina, ditambah lagi kenyataan bahwa ini bukan pertama kalinya Israel mengkhianati perjanjian.
Sejak dulu sekali, berkhianat, ingkar janji sudah menjadi watak asli kaum Yahudi (Israel). Sudah biasa bagi mereka mempermainkan perjanjian dengan Allah, dihadapan Nabi mereka sendiri, Nabi Musa a.s.
Sebut saja salah satu kisahnya yang terjadi di Madinah, pada masa Rasulullah SAW, saat terjadinya perang Ahzab atau biasa juga dikenal dengan nama perang Khandaq (parit).
Saat itu Yahudi melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati dengan Nabi Muhammad SAW, isi perjanjian itu menyebutkan bahwa mereka akan dilindungi Rasulullah dan mereka (Yahudi) dilarang membantu musuh yang akan menyerang kaum muslimin di Madinah al- mukarromah.
Bukannya menaati isi perjanjian yang bahkan sudah mereka ikut sepakati, yang terjadi justru sebaliknya. Kaum Yahudi malah bersengkokol dengan kaum kafir Quraisy dan menghancurkan pasukan muslimin dari belakang.
Dari sinilah kita bisa lihat, perjanjian dengan Nabi dan Allah SWT saja mereka remehkan dan dengan mudah mereka permainkan. Apalagi dengan kaum muslimin yang sedang tidak memiliki junnah?
Sekarang kita harus sadar bahwa gencatan senjata yang banyak diusulkan ini tidak lain adalah bentuk dari keengganan dunia Islam untuk mengirimkan militer dan memberi solusi menghentikan pendudukan Israel dan mengusirnya dari bumi Palestina.
Padahal mereka sangat cukup mampu untuk mengirimkan pembelaan yang nyata terhadap muslim di Palestina, mereka memiliki ratusan tentara yang siap tempur, pesawat militer, jet perang dan sebagainya. Mereka memiliki kekuatan untuk membabat habis kezhaliman yang menimpa umat Islam.
Namun sayangnya ada terlalu banyak jerat negara besar dan Israel terhadap dunia Islam, melalui ekonomi, hubungan dagang, normalisasi yang sudah terjadi dan hubungan diplomatic. Dan lagi-lagi itu semua adalah ulah mereka (para musuh Islam) untuk membatasi gerak jalan dunia Islam. Inilah yang menjadi hambatan bagi umat Islam untuk bertindak.
Saat ini umat butuh junnah (perisai), yang bisa memberi solusi melalui kacamata Islam, bukan hanya memberi solusi, tapi juga memberi dukungan. Bukan sekedar dukungan yang 'mendukung', tapi juga membantu untuk mewujudkannya.
Seperti dahulu, ketika umat memiliki junnah yaitu Khilafah.
Mari kita lihat kilas balik sejarah Islam, saat Salahudin al-Ayyubi berhasil merebut Palestina pada abad XII M dari tangan pasukan Salib Eropa, karena saat itu umat Islam mendapat dukungan Kekhilafahan Abbasiyah di Baghdad yang saat itu memimpin umat Islam di dunia. Salahudin bahkan bisa menghimpun ratusan ribu mujahid dari berbagai bangsa dengan dukungan itu.
Saat ini satu-satunya solusi atas permasalahan muslim di Palestina adalah dengan Jihad fii sabilillah, tetapi jihad hanya bisa dilakukan dengan adanya Khilafah.
Tanpa adanya Khilafah jihad mustahil dilakukan, sebab sekat-sekat nasional yang ada berusaha membagi-bagi negara Islam menjadi bagian-bagian terpisah yang berbeda, dan membuat masing-masing sibuk dengan urusan negara mereka sendiri.
Disinilah kita bisa lihat masalah umat sekarang, tidak ada Khilafah yang menerapkan syari'at Islam, tidak ada yang bisa menjadi junnah.
Maka sudah menjadi tugas kita sekarang untuk membangun kembali Khilafah Islamiyah yang nantinya akan menjadi junnah (perisai) bagi akidah dan umat Islam.
Wallahu a'lam bii ash-shawwaba

No comments:
Post a Comment