Oleh: Alifvia An Nidzar
Mahasiswa/Anggota Komunitas
Muslimah Menulis Depok
Jiwa muda identik dengan energi yang
berlimpah dan berdasarkan kepada kaum milenial yang
berada pada usia remaja. Namun sayang seribu sayang, jiwa muda ini tidak
diarahkan kepada hal-hal yang bisa dikatakan berfaedah.
Banyak milenial menganggap masa remaja atau masa muda merupakan masa untuk menikmati kesenangan hidup. Masa untuk menghabiskan uang, tenaga, waktu dan kesehatan. Bila boleh dikata memang masa remaja adalah masa untuk kita bisa eksplorasi juga mengenal banyak hal dalam hidup ini. Namun, di balik semua kesenangan itu terdapat dampak besar yang ditimbulkan.
Salah satu contohnya adalah aborsi. Tahun memang berlalu silih berganti, namun perilaku buruk ini masih saja ada dan bertumbuh semakin besar dari waktu ke waktu. Pergaulan remaja hanyalah salah satu bentuk ‘kesenangan hidup’ yang mereka nikmati sebebas mungkin.
Remaja yang seakan-akan tahu dan ingin merasakan kesenangan hidup ini bermain tanpa menggunakan batas yang jelas. Mereka dengan leluasanya menggunakan kesempatan yang datangnya hanya sekali ini saja dalam hidup. Mereka seakan-akan lupa bahwa hidup di dunia hanya sementara saja.
Bagaimana mereka tidak lupa, hal yang dapat menyebabkan kerusakan ini karena kondisi masyarakat serta negara yang memfasilitasinya. Masyarakat seakan-akan lupa, bahwa apa yang mereka lakukan sudah keluar dari batasnya. Masyarakat hanya terfokus pada satu titik yakni bertahan hidup.
Masyarakat yang terfokus pada satu titik ini pada akhirnya bersikap individualis dan mengacuhkan apa yang sebenarnya terjadi di kalangan anak usia remaja. Mereka merasa bertahan hidup jauh lebih penting, karena ini tentang urusan perut mereka. Sedangkan negara dengan asyiknya membuka luas jalur ‘investasi’ kepada para pemilik modal agar mendatangkan keuntungan.
Terlalu munafik bila kita katakan, negara peduli kepada kaum milenial dengan cara mengadakan berbagai macam program pendidikan. Pendidikan pada masa ini terbilang gagal, dalam mendidik muridnya juga mencetak agen perubahan. Pendidikan pada masa ini hanyalah lahan untuk ajang ‘bisnis’ para pemilik modal.
Abainya masyarakat dan negara dalam membina para remaja ini mengakibatkan mereka salah langkah dalam menjalani hidupnya. Maka konsekuensi yang akan diterima saat ini hingga masa ke depan hanyalah kerusakan akibat aturan yang diterapkan di negeri maupun dunia ini. Indonesia hanyalah satu di antara banyak negeri yang ada. Lantas hingga kapan kita hanya berdiam seakan tidak terjadi apa-apa?[]

No comments:
Post a Comment