Oleh: Yuliyati, S.Pd
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan antara israel, uni Emirat Arab (UEA) Bahrai digedung putih pada Oktober lalu mengatakan akan lebih banyak negara Arab yang menjalin kontak diplomasi dengan israel di masa mendatang.(Inews.id 19/12/2020)
Trump juga optimis bisa memediasi pemulihan hubungan diplomatik anatara Israel dan Arab saudi. Akan tetapi, upaya trump akan sulit terwujud. Pasalnya, saudi tetap pada sikapnya mendukung pengakuan kedaulatan serta kemerdekaan palestina, memasukannya kedalam syarat normalisasi.
Bahkan, mentri luar negeri Arab saudi pangeran Faisal Bin Farhan mengatakan negaranya terbuka untuk melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel dan sebelum hal itu terjadi Mentri Luar Negri Arab Saudi lagi-lagi menekankan palestina harus memperoleh kemerdekaan. Pernyataan tersebut merespon spekulasi bahwa saudi akan menjadi negara terbaru yang menjalin hubungan diplomatik penuh dengan israel.
Pembicaraan mentri saudi tentang normalisasi negara arab dengan israel muncul satu bulan setelah UEA dan Barhrain menandatangani dua perjanjian yang disponsori untuk normalisasi dengan israel di washington, meski ada penolakan dan kecaman yang meluas dari pihak kapitalis.
Kapitalis sumber penghianatan Arab
Barat mengerti betul, potensi kebangkitan islam terletak di timur tengah “Tanah air” bagi muslim sedunia dan pusat kekhilafahan sangat amat kuat. Untuk mencegah kebangkitan Islam berbagai cara yang dilakukan, bahkan sejak awal kelahiran negara-negara nasionalis, barat telah menanam antek-anteknya di lini lekuasaan. Karena itu mayoritas penguasa arab sejak dahulu adalah penghianat Islam.
Selain tumpul dari ruh Islam, negara-negara yang menjalin hubungan dengan Israel memang terjebak jeratan kapitalisme. Penjajah kafir telah mengancam mereka untuk tidak memberi ruang bagi kebangkitan khilafah. Karena itu Hizbut Tahrir, yang berjuang untuk menegakan Khilafah kembali menjadi parpol terlarang dibeberapa negeri Arab. Adapun sebagai gantinya, barat menyodorkan kapitalis sebagai solusi perbaikan. Sehingga mengaburkan solusi yang berbau islam.
Kapitalis memang cerdik ketika membaca apa yang menjadi kesusahan yang terdapat didalam suatu negara. Lihat saja sudan. Demi imbalan materialistis, barat menuntut kesediaan sudan menjadi pelayan kapitalisme. Setelah rezim Omar al Bashir yang diidentikkan sebagai garda terdepan negara Islam”, kemudian berhasil dilengserkan April 2019 lalu, AS berhasil”mengganti arah” negara itu menjadi sekuler demokratis, termasuk melakukan manuver frontal: membuka diplomasi dengan israel. Imbalannya, AS dan beberapa negara akan meringankan utang luar negeri sudan yang lebih dari USD60 miliar atau 880 triliun.
As serikat selalu memunculkan taringnya sebagai solusi, hadir ketika adanya ancaman dan menjadi penolong dikala ada negara yang membutuhkan. Nyatanya solusi yang ditawarkan selalu meminta tumbal untuk menjadi budak kapitalisme.
Israel hanya paham masalah jihad
Israel adalah kafir harbiy fi’lan negara yang terang-terangan bertujuan memusnahkan bangsa Palestina, pemilik asli bumi Syams. Syekh taqiyudin an Nabhani dalam kitab Asy Syakshiyyah islamiyyah jilid II menyampaikan bahwa negara kafir harbiy yang sedang berperang riil dengan kaum muslimin, tidak boleh diadakan perjanjian sebelum berdamai, dan tidak diberikan jaminan keamanan bagi rakyatnya kecuali mereka masuk islam atau menjadi kafir dzimmi.
Maka, jihad adalah jawaban atas masalah palestina, bukan normalisasi dengan israel. Sungguh amat disayangkan jika para penguasa Arab percaya akan tawaran israel, dan mengatakan akan mundur dari rencana aneksasi tanah palestina di tepi barat. Padahal Allah SWT elah mengganbarkan tabiat yahudi dalam Al-Quran sebagai kaum yang ingkar, tamak, pendengki, zalim, hingga gemar membunuh para Nabi.
Rasulullah merupakan Tauladan, bahkan perihal politikpun sudah dicontohkan oleh Rasulullah, maka menuntaskan permasalahan palestina atau menghentikan teror yang menimpa kaum muslimin hanya bisa dilakukan oleh kekuasaan yang berani menerapkan jihad sebagai ajaran Islam, meneladani syariat Rasulullah dan mencintai sesam muslim.
Jihad yang dimaksud bukan dibawah kendali budak kapitalisme, melainkan khilafah, karena hanya khilafah yang mampu menghentikan semua penghianatan penguasa. Khilafah merupakan sistem yang akan melindungi nyawa dan mengembalikan hak kaum muslim yang telah dirampas selama ini, termasuk membebaskan semua tanah kaum muslim.

No comments:
Post a Comment