By : Nora Putri Yanti
(mahasiswa iain bukittinggi dan aktivis dakwah)
Dilansir dari jakarta raya. Pemerintah mengatakan anggaran kesehatan untuk penanganan Covid-19 yang sebesar Rp87,55 triliun tidak akan bertambah hingga akhir tahun walaupun kasus positif Covid-19 saat ini semakin banyak dengan jumlah penambahan rata-rata per hari di atas 1000 kasus. Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan kasus positif saat ini memang semakin tinggi karena tes yang semakin banyak, namun rasio kasus sebenarnya sama “Anggaran yang dialokasikan tersebut sudah mempertimbangkan perkiraan dan modeling untuk jumlah kasus hingga ratusan ribu orang yang positif Covid-19 hingga akhir tahun,” ungkap Kunta dalam diskusi virtual, Jumat. Anggaran tersebut juga sudah mempertimbangkan jumlah pasien yang harus dirawat di rumah sakit untuk penambahan kasus yang mungkin saat ini belum terdeteksi.
Rincian alokasi anggaran kesehatan penanganan Covid-19 yang sebesar Rp87,55 triliun tersebut antara lain untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp65,8 triliun, insentif tenaga medis Rp5,9 triliun, santunan kematian Rp0,3 triliun, bantuan iuran jaminan kesehatan nasional (JKN) Rp3 triliun, anggaran Gugus Tugas Covid-19 Rp3,5 triliun, dan insentif perpajakan di bidang kesehatan Rp9,05 triliun. “Realisasi penyerapan anggaran kesehatan hingga 24 Juni baru 4,68 persen,” kata Kunta. Kunta menjabarkan realisasi anggaran tersebut antara lain insentif tenaga medis baru tersalurkan Rp0,1 triliun dari jumlah Rp5,9 triliun, bantuan iuran JKN belum terealisasi dari jumlah Rp3 triliun, kemudian anggaran Gugus Tugas Covid-19 sudah terserap Rp2,9 triliun dari jumlah Rp3,5 triliun, serta insentif perpajakan di bidang kesehatan baru terserap Rp1,3 triliun dari jumlah Rp9,05 triliun.
Tatanan kehidupan baru atau new normal menjadi wacana yang digulirkan pemerintah untuk memulihkan produktivitas masyarakat dan membuat kondisi perekonomian kembali bergairah. New normal merupakan salah satu opsi untuk menjadi tonggak kebangkitan ekonomi Indonesia. Namun nyatanya bukan malah membuat keadaan masyarakat semakin normal tapi memunculkan ketakutan terbaru akan kebangkitan pandemi gelombang kedua yang diibaratkan bom waktu menunggu kapan memuntahkan isi perutnya kembali. Dapat kuta ssksikan Saat ini beberapa pusat perbelanjaan sudah mulai dibuka, aktivitas masyarakat pun berangsur kembali seperti sedia kala ditengah badai corona belum reda, bahkan jumlah yang terkonfirmasi positif belum menunjukkan adanya penurunan dan cenderung mengalami peningkatan, namun dengan istilah new normal membuat banyak masyarakat beranggapan bahwa virus ini telah tiada. Tak dapat dipungkiri, dahsyatnya pandemi ini menghempas perekonomian dunia tak terkecuali Indonesia. Kehancuran ekonomi kapitalisme seakan mulai dihitung mundur.
Dikutip dari CNBC, Rabu (17/6/2020) saat ini terlepas dari kondisi perekonomian dunia yang telah dibuka di beberapa negara, IMF memproyeksi realisasi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun bakal lebih buruk dari proyeksi yang sebelumnya mereka lakukan. "Untuk pertama kalinya sejak depresi besar, baik negara berkembang maupun negara maju akan mengalami resesi di tahun 2020. Dalam outlook perekonomian dunia Juni nanti pertumbuhan ekonomi nampaknya akan jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan prediksi yang sebelumnya sudah dilakukan.."ujar Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam keterangannya. Selain itu, Gopinath pun memaparkan, krisis yang terjadi saat ini yang disebut dengan the Great Lockdown merupakan krisis yang sebelumnya tidak pernah terjadi di dunia.
Terbukti sistem kapitalisme yang cacat dan rusak tidak mampu menyelesaikan masalah pandemi. Aturan aturan di dalam sistem demokrasi kapitalisme adalah aturan buatan manusia yang lemah dan terbatas, serta tak lepas dari kepentingan dan hawa nafsu. Mengakhirinya adalah pilihan paling tepat untuk mengakhiri masalah pandemi ini. Allah Subhanahu Wata'ala menegaskan dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)
Dunia saat ini membutuhkan tatanan dan peradaban kehidupan yang berbeda. Yang mampu membebaskan dunia dari cengkeraman pandemi. Dan satu-satunya peradaban yang terbukti telah berhasil menyelesaikan masalah wabah dengan tuntas hanya Islam. Penyakit menular yang mewabah bukan hal baru bagi umat Islam. Berabad-abad yang lalu, umat Islam pernah diuji oleh wabah thoun. Wabah mematikan tersebut bahkan mensyahidkan beberapa sahabat Nabi, namun berkat penanganan yang syar'i dan tepat wabah tersebut bisa diselesaikan. "Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya" (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits tersebut menjelaskan betapa pentingnya lockdown areal sumber munculnya wabah, agar tidak menyebar ke tempat yang lain. Rasulullah saw juga bersabda: "Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat." (HR. Imam Bukhari)
"Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa." (HR. Abu Hurairah). Lucunya negara kita malah mengundang singanya dan membiarkan hidup bebas tanpa dikandangi, dalil kuatnya rakyat butuh makan namun jika boleh melempar pertanyaan rakyat yang mana? Para pemilik modal kah?
Karna dalam Islam, kesehatan merupakan kebutuhan publik yang utama. Maka negara akan mengerahkan berbagai upaya agar kebutuhan terhadap kesehatan bisa terpenuhi. Termasuk menyiapkan anggaran khusus agar masyarakat bisa menikmati pelayanan kesehatan dengan gratis tanpa memperhatikan untung rugi. Umat Islam memiliki bekal yang cukup dalam menangani pandemi, baik secara syar'i maupun histori. Oleh karena itu bisa dipastikan pandemi covid19 bisa teratasi jika solusi yang diterapkan sesuai dengan syariat Islam. Hanya saja yang jadi persoalan adalah mampukah sistem sakit saat ini bisa menerima dan menjalankan solusi yang berasal dari sistem Islam yang sehat? Tentu kontradiktif. Maka kembali pada aturan-aturan Allah SWT dalam tatanan khilafah Islamiyyah sangat dibutuhkan saat ini karna itulah solusi agar kembali normal bukan baru memulai kehidupan normal ditengah badai pamdemi yang menggentayangi.
#KKN-DR2020
#IAINBUKITTINGGI
