Oleh Irawati, S. Pd
(Alumni Univ. Negeri Malang)
Generasi penerus akan selalu hadir di setiap masanya dengan segala kreativitas dan inovasinya. Hal ini tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak mulai dari diri sendiri para generasi, keluarga, masyarakat- sekolah hingga negara. Semua pihak saling mendukung dan memfasilitasi. Memang akan tampak perbedaan perlakuan peran dan dukungan ketika dikaitkan dengan sistem kehidupan yang dijalankan manusia. Terlebih saat ini, nuansa sistem pendidikan ala kapitalisme sekuler masih 'merajai' sejak sistem pendidikan di masa Islam Kaffah diruntuhkan sekitar tahun 1924.
Seperti dilansir oleh Jakarta (ANTARA) - Siswa Sekolah Menengah kejuruan (SMK) Model PGRI I Mejayan, Madiun, Jawa Timur, merakit mobil listrik yang efisien dan ramah lingkungan dengan peralatan sederhana. "Ide inovasi mobil listrik UMKM ini bermula dari gagasan pembuatan kereta cinta atau sepeda cinta dengan sumber tenaga geraknya ayunan kaki manusia," kata Kepala SMK Model PGRI 1 Mejayan Sampun Hadam sebagaimana dikutip dalam siaran pers sekolah yang diterima di Jakarta, Rabu.
"Pada awalnya, kami merancang pembuatan kereta cinta, tapi dari prospek profit tidak mendukung. Akhirnya kami inovasi menjadi mobil listrik UMKM dan lebih prospek profit dan membuka peluang usaha," ia menambahkan. Mobil yang dirakit siswa dengan bantuan guru itu, menurut dia, bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan wirausaha. "Mobil ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berwirausaha, karena pada masa pandemi COVID-19 ini banyak pengangguran dan berdampak pada penyerapan lulusan SMK," katanya.
Selain untuk kegiatan pembelajaran, ia menjelaskan, perakitan mobil listrik tersebut dilakukan untuk mendukung program kemitraan sekolah dengan 72 desa di Kabupaten Madiun. https://m.antaranews.com/berita/1583570/siswa-smk-model-mejayan-merakit-mobil-listrik?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=also_read
Hal tersebut salah satu kreasi dan inovasi dari generasi penerus yang luar biasa di saat sistem pendidikan di negeri ini sedang mengalami beragam ujian ketika Pandemi covid-19 melanda seluruh negeri di dunia tak terkecuali Indonesia. Lalu, bagaimana gambaran sederhana ketika sistem pendidikan dalam Islam Kaffah?
Sistem Kehidupan Islam Kaffah Menyokong Dunia Pendidikan dan Teknologi Untuk Kegemilangan Peradaban Islam
Jika kita cermati dari beragam sumber, belum ada suatu peradaban yang mampu bertahan dalam jangka waktu lebih dari 13 abad lamanya. Hanya sstem Islam Kaffah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. beserta para Khulafaur Rasyidin hingga akhirnya diruntuhkan sekitar tahun 1924 dengan beragam bukti menunjukkan hal tersebut. Sejak Rasulullah Saw. membangun negara Islam pertama di Madinah dan kemudian dilanjutkan oleh para khalifah, Islam Kaffah diterapkan di tengah masyarakat dengan beragam suku, agama, budaya dan kemajemukan lainnya secara nyata. Hasilnya, beragam kemajuan inovasi generasi lahir dan terus berkembang hingga dikenal saat ini.
Buku berjudul “What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006), karya Tim Wallace-Murphy, memaparkan data tentang bagaimana transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada zaman yang dikenal di Barat sebagai Zaman Pertengahan (the Middle Ages). Didalamnya disebutkan bahwa Barat telah berutang kepada Islam. ”Utang Barat terhadap Islam adalah hal yang tak ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun,” kata Tim Wallace-Murphy. Islam "rahmatan lil alamin” pernah terwujud ketika umat Islam mengikuti dan menerapkan perintah Alquran untuk belajar dan bekerja keras. Umat Islam juga menjadi umat yang disegani dan dicontoh oleh peradaban lain dengan memegang kokoh dan menerapkan Islam. Itulah sederhananya Islam Kaffah ketika diterapkan.
Adapun dalam hal pendidikan dan teknologi, tentu ini menjadi perhatian para khalifah kala sistem kehidupan Islam kaffah diterapkan kala itu. Perhatian Nabi terhadap dunia pendidikan juga dicontoh para khalifah setelahnya. Misalnya saja para khalifah pernah membangun berbagai lembaga pendidikan dengan jenjang pendidikan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tujuan utamanya yakni untuk meningkatkan pemahaman umat terhadap agama, sains dan teknologi dengan pembiayaan pendidikan ditanggung negara hingga kita sering mendengar dalam sistem Islam Kaffah, pendidikan menjadi salah satu kebutuhan masyarakat dan tidak dipungut biaya sepeserpun.
Mengingat tujuan sistem pendidikan dalam Islam Kaffah tersebut, tentu berbeda dengan tujuan sistem pendidikan dalam sistem kapitalisme sekuler. Belum lagi, biaya yang fantastis hingga ada perbedaan kebijakan penting semisal kurikulum yang berganti hingga bingungnya generasi menyampaikan inovasinya untuk keperluan masyarakat dengan kurangnya fasilitas dan lainnya. Beberapa lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang dari dulu hingga sekarang termasuk bagian dari kegemilangan peradaban Islam kaffah antara lain, Nizhamiyah (1067 -1401 M) di Baghdad, Al-Azhar (975 M-sekarang) di Mesir, al-Qarawiyyin (859 M-sekarang) di Fez, Maroko dan Sankore (989 M-sekarang) di Timbuktu, Mali, Afrika.
Lembaga tersebut memiliki sistem dan kurikulum pendidikan yang sangat maju mengarah pada tercapainya tujuan pendidikan dalam sistem Islam Kaffah. Tak heran jika lahir tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan Muslim yang sangat disegani seperti, Ibnu Ruysd, Ibn Khaldun, Al-Farabi, al-Khawarizmi, al-Firdausi dan lainnya. Adapun penerimaan murid dari lembaga pendidikan tersebut dari berbagai kalangan dan juga lintas negara.
Dalam hal teknologi, abad ke-8 dan 9 M, teknologi pertanian dan irigasi dengan mampu memproduksi gandum telah ditemukan. Selain itu, arsitektur masjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M juga bukti dari kemajuan teknologi kala sistem kehidupan Islam kaffah diterapkan dalam sistem pendidikan dan bidang lainnya.
Itulah gambaran sederhana dunia pendidikan dan teknologi dalam penerapan sistem Islam Kaffah. Oleh karenanya, mari kita bangun dalam diri kita untuk semakin antusias mengenal Islam Kaffah bukan dari kulit luarnya tetapi perlahan dengan penuh kesabaran dan ketekunan hingga berbuah keikhlasan ikut menyampaikan kebenarannya. Segala lini kehidupan akan mendapatkan barokah serta rahmatNya dengan dukungan serta peran yang benar dari masyarakat hingga penguasa dalam mengurusi urusan rakyatnya. Semoga Rabb melindungi kita. Aamiin []
