By : Novianti
Praktisi Pendidikan (Penggiat Revowriter)
Presiden Joko Widodo menyatakan pemerintah saat ini tengah bersiap untuk menghadapi kenormalan baru atau new normal. Setelah hampir 3 bulan lamanya masyarakat terpaksa berdiam di rumah. Mulai dari belajar, bekerja hingga beribadah. Terkecuali bagi mereka yang harus menjalani aktivitas di luar rumah.
Dalam new normal life, masyarakat menjalankan aktivitas normal namun dengan perubahan perilaku untuk tetap mencegah penyebaran virus corona. Dan untuk itu, aparat TNI-Polri akan dikerahkan di tempat-tempat umum untuk memastikan masyarakat menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan membatasi jumlah kerumunan dalam satu tempat.
New normal dijalani dengan cara masyarakat harus menerima hidup berdampingan dengan virus corona yang masih menjadi ancaman. Ini dilakukan hingga ditemukannya vaksin yang efektif. Dengan kata lain, masyarakat menjalaninya hingga tahun depan atau bahkan lebih karena para ahli meyakini vaksin corona baru ditemukan pada tahun 2021.
Pandemi ini memang telah membuat perubahan ekstrim dan memberikan dampak besar bagi masyarakat serta berbagai sektor. Roda perekonomian hampir lumpuh, pengangguran di depan mata, naiknya kemiskinan sudah tak mungkin dinafikan. Negara sekarat ibarat manusia yang sudah pucat kekurangan aliran oksigen dan darah. Warga bisa mati karena virus corona atau virus kelaparan.
Dalam situasi yang kian memburuk, kebijakan new normal life sepertinya merupakan solusi. Masyarakat diajak kembali produktif agar memperoleh penghasilan dan ekonomi pun akan mulai bergeliat. Kehidupan normal kembali berjalan meski tidak sama dengan pengertian normal sebelum pandemi. Dalam new normal life ini, akan terbentuk sebuah kenormalan baru dalam kehidupan masyarakat di segala sektor kehidupan.
New normal life menjadi exit strategi di banyak negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, untuk keluar dari pandemi corona. Namun kebijakan ini seyogianya berdasarkan pertimbangan yang mendalam terkait kondisi yang ada. Apakah negara Indonesia memang sudah siap? Jangan sampai sekedar coba-coba karena ini menyangkut keselamatan nyawa manusia. Semua harus direncanakan secara matang agar tidak menimbulkan hal yang lebih buruk yaitu lonjakan pasien yang lebih tinggi dari gelombang pertama. Alih-alih memberikan manfaat, kehidupan normal baru justru berpotensi menciptakan dampak negatif lebih besar.
Tidak ada seorangpun yang ingin berlama-lama dengan virus corona serta berdiam diri di rumah. Semua orang ingin kembali bekerja, berangkat ke sekolah, berolah raga di tempat terbuka, berkunjung ke kerabat, memakmurkan tempat ibadah.
Namun, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada tanggal 23 Mei menunjukkan bertambahnya 949 kasus. Pada tanggal 21 Mei terjadi peningkatan kasus positif corona sebanyak 973. Jumlah ini merupakan angka kasus corona harian yang pernah terjadi di Indonesia. Satu hari sebelumnya, kasusnya mencapai 693 orang. Total hingga 23 Mei tercatat 21.745 yang terkonfirmasi virus corona. Artinya angka kasus corona belum menunjukkan pelandaian.
Sementara menurut pakar epidemologi UI, Pandu Riono, relaksasi PSBB bisa dilakukan jika memenuhi 3 indikator. Pertama, penurunan kasus secara konsisten selama 2 minggu mulai dari jumlah ODP, PDP dan yang meninggal. Testing harus meningkat karena dengan ini akan memunculkan data penyebaran yang lebih akurat. Kedua, perilaku masyarakat yang disiplin terhadap protokol kesehatan. Dan terakhir adalah kesiapan layanan kesehatan masyarakat seperti jumlah tenaga medis, APD, ICU di berbagai RS, dana kesehatan tersedia.
Harus ada road map yang jelas sebelum masyarakat memasuki kehidupan baru pasca pandemi. Hingga hari ini, ketiga indikator tersebut belum terpenuhi. Dengan kata lain, ajakan new normal life belum menjadi kebijakan yang kokoh karena tidak berdasarkan bukti yang kuat dan jalan ke arah sana masih harus melalui beberapa tahapan.
Sikap optimisme tetap harus dibangun namun kebijakan yang menyangkut rakyat harus berpijak pada data akurat. Sudah banyak korban berjatuhan termasuk tenaga media kesehatan. Seharusnya menghitung nyawa yang hilang bukan dilihat dari angka, tetapi ada jiwa yang harus dihargai dan dilindungi. Ada yang kehilangan orang tercinta, penopang nafkah keluarga, relawan yang membantu sesama, ibu dari anak-anak, orang berilmu yang masih dibutuhkan masyarakat banyak.
Penanganan pandemi corona harus ditangani secara terintegrasi, dari sisi kesehatan, sosial dan ekonomi. Tugas negara adalah melindungi nyawa setiap rakyatnya tanpa pandang bulu. Jangan sampai new normal life memberikan secercah harapan bagi sekelompok orang namun memakan korban lebih banyak dari rakyat.
*Roadmap Penanganan Wabah Dalam Islam*
Islam membebankan secara penuh tanggung jawab penanganan wabah terhadap penguasa (khalifah). Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Dalam kondisi pandemi, Islam memberikan solusi dengan memberlakukan lockdown atau karantina wilayah bagi kawasan zona merah. Melakukan proses isolasi serta pengobatan dan perawatan terbaik bagi yang sakit, sampai mereka sembuh. Serta menjamin warga yang sehat agar tetap sehat dan jangan sampai tertular wabah. Semua kebutuhan rakyat menjadi tanggungan negara.
Seorang khalifah harus bergerak cepat. Jangan menunda tindakan yang akan memperbanyak jumlah korban. Karena bagi Khilafah, satu nyawa warganya, adalah jiwa yang harus dipertanggungjawabkan pengurusannya di hadapan Allah di akhirat kelak.
Firman Allah Subhaba wa ta'ala:
مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
“… Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS Al-Maidah [5] : 32).
Menjaga satu nyawa begitu berharga sehingga khalifah melakukan segala cara agar angka korban tak bertambah. Perekonomian negara bisa jadi mati suri namun satu nyawa mustahil dibangkitkan kembali.
Karena itulah Khalifah Umar bin Khaththab ra berjuang keras saat terjadi wabah di wilayah Syam. Beliau mendengarkan pendapat dari berbagai kalangan sebelum memutuskan kebijakan bagi rakyatnya. Wabah yang dikabarkan telah menghantarkan kematian tidak kurang dari 30 ribu rakyat. Bukan saja warga negara biasa, tapi menyerang beberapa sahabat Khalifah Umar seperti Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, dan Suhail bin Amr yang mengantarkan pada wafatnya mereka.
Menghadapi bencana besar ini, Khalifah Umar tidak kehilangan kendali. Beliau berpatokan pada cara Rasulullah dalam menangani wabah. Sebagai seorang pemimpin, beliau bersegera menyelesaikan masalah rakyat yang menjadi tanggung jawabnya.
Kesuksesan melawan wabah yang telah diraih khalifah Umar ini bukan hanya terletak pada beliau sebagai pribadi, namun disebabkan karena sistem aturan yang diterapkan yaitu sistem Islam. Sistem yang dilaksanakan secara sempurna mengikuti jejak pendahulunya yaitu Baginda Rasulullah ﷺ dan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ra yang disebut Khilafah.
Sistem yang bisa diteladani oleh siapa pun dengan syarat menjadikan hukum Allah sebagai rujukan, Rasulullah ﷺ dan para khalifah setelahnya sebagai panutan.
Cukup ganti sistem sekarang menjadi Khilafah, in syaa Allah manusia akan keluar dari masalah. Manusia akan mendapat layanan yang tulus dari penguasanya yang bekerja demi menolong urusan agama Allah, tak terkecuali dalam langkah penanganan pandemi. Dan saat manusia sudah dinaungi oleh sistem khilafah, tibalah pada fase "real" new normal life yaitu sistem yang sesuai fitrah manusia. New normal life is new system and new leader.

No comments:
Post a Comment