Oleh: Maryam
( forum pena ideologis maros )
Covid19 yang belum juga redah dan hilang dari muka bumi ini. Keresahan, ketakutan dan kekhawatiran menjadi pengisi hari-hari masyarakat. Bagaimana tidak, korban covid19 kian hari semakin meningkat. Ketakutan yang menghantui kini menyebabkan sebagian orang kehilangan hati nurani. Seperti yang terjadi kepada para korban covid19 yang kadang mendapat cibiran, cap negatif, bahkan penolakan dari sejumlah masyarakat di suatu wilayah.
Tidak berhenti disitu berbagai penolakan pun terjadi oleh jenazah korban covid19. Bukan hanya kepada rakyat namun hal serupa juga dialami oleh para medis yang notabene sebagai garda terdepan dalam peperangan melawan virus ini. Disejumlah wilayah ada beberapa kasus penolakan jenazah perawat yang bertugas menangani pasien corona. Bukan hanya jenazah perawat yang mendapat penolakan pemakamannya. Namun para medis yang masih berjuang pun mendapat perlakuan serupa . Salah satunya para medis yang diusir dari tempat kos atau penginapan mereka.
Sebagaimana yang dilansir dalam Liputan6.com, Jakarta.( Rabu 25/03/2020). Di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19, tenaga medis mulai dari dokter hingga petugas kebersihan rumah sakit, menjadi pejuang di garda terdepan dalam menolong masyarakat. Namun begitu, rasa takut selalu dapat mempengaruhi nurani tiap orang. Seperti yang dialami dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Paramedis tersebut justru mendapat perlakuan tak menyenangkan karena tiba-tiba diusir dari kosan yang disewa.
Tidak bisa dipungkiri bahwa covid19 saat ini benar-benar telah menekan psikologis masyarakat karena ketakutan akan tertular. Hal-hal tersebut terjadi karena Minimnya edukasi dan informasi akurat penanganan covid 19 yang sampai ke masyarakat. Ini membuat masyarakat melakukan upaya pencegahan secara mandiri sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Dalam kondisi wabah seperti sekarang ini sangat memerlukan pemimpin untuk mengetahui, memenuhi, menjaga, dan mengedukasi rakyat. Namun realita justru menegaskan kelalaian pemimpin dalam mengurus kebutuhan rakyatnya.
Hal ini terjadi tidak lain karena paradikma kapitalisme sekuler yang menjadi landasan berpikir pemimpin negeri ini. Sekularisme dengan paham pemisahan antara agama dan kehidupan membuat penguasa mengacuhkan hukum syara’. Sedangkan kapitalisme membuat penguasa menuhankan materi. Maka wajar penguasa lebih memprioritaskan ekonomi diatas kepentingan rakyat.
Berbeda dengan paradigma pemimpin islam yang selalu menjadikan rakyat sebagai prioritas yang paling utama. Sehingga ketika wabah terjadi khalifa akan menjaga jiwa rakyatnya dengan usaha yang optimal. Hal ini khalifa lakukan karena tanggungjawab dalam mengayomi rakyatnya layaknya pelayan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “ Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” [H.R. Abu Nu’aim].wallahu ‘alam

No comments:
Post a Comment