Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Skenario Terburuk Covid-19

Monday, March 30, 2020 | Monday, March 30, 2020 WIB Last Updated 2020-03-30T05:50:40Z
Oleh: Erni Yuwana 
(Aktivis Muslimah)

Corona atau Covid-19 telah meluluhlantakkan dunia. Virus itu menghancurkan China. Bahkan, Italia tidak berdaya karenanya. Eropa pun takhluk di bawah kendalinya. Lock down di mana-mana. Perekonomian negara maju lumpuh. 

Ketika dunia disibukkan bagaimana cara mengatasi pandemi Corona, Indonesia tampil angkuh. Indonesia pernah mengklaim bebas Corona. Sejumlah pejabat pernah memberikan pernyataan bahwa Indonesia satu-satunya negara besar di Asia yang bebas Corona, hingga pernyataan jika orang terjangkit corona bisa sembuh dengan sendirinya. 

Kesombongan Indonesia kini tengah meminta bukti. Wabah Corona masuk ke Indonesia dengan persebaran yang sangat cepat. Indonesia mencatat jumlah 'fatality rate' atau tingkat kematian tertinggi di dunia akibat Covid-19. Korban terus bertambah, termasuk petugas medis. IDI (Ikatan Dokter Indonesia) berduka cita yang amat dalam atas berpulangnya para dokter sebagai korban Pandemi Covid-19.

Kasus virus corona meningkat luar biasa. Ini terlihat dari lonjakan kasus positif Corona yang meningkat ratusan orang setiap harinya. Menurut peneliti, melonjaknya kasus virus corona di Indonesia tak lain karena respons pemerintah yang dinilai lambat dalam menangani penyebaran wabah SARS-CoV-2. Selain itu, jumlah kasus yang dilaporkan juga diprediksi akan jauh lebih banyak dari jumlah yang sudah tercatat selama ini. Mengingat tingkat pengujian yang rendah berbanding terbalik dengan tingkat kematian yang tinggi. 

Hasil studi yang dilakukan para ilmuwan di Center for Mathematical Modelling of Infectious Diseases yang berbasis di London, Inggris, bahkan mengestimasikan hanya 2 persen kasus virus corona di Indonesia yang berhasil dikonfirmasi. Ini artinya, jumlah kasus yang sebenarnya bisa mencapai 34.300 kasus, lebih banyak dari Iran. Penelitian lain memproyeksikan kasus COVID-19 di Indonesia bisa meningkat hingga 5 juta kasus pada akhir April 2020 di bawah skenario terburuk. (KumparanSAINS, 26/03/2020)

Apalagi, sistem dan fasilitas kesehatan yang dimiliki Indonesia memang jauh dari kata memadai, jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga terdampak SARS-CoV-2. Budi Waryanto, ahli epidemiologi di Universitas Indonesia, menilai bahwa rumah sakit yang dimiliki sekarang tidak cukup siap untuk menangani kasus-kasus potensial, dan perawatannya pun sangat 
terbatas. Terlihat, sejak kasus virus corona meningkat, beberapa rumah sakit mulai kewalahan menangani pasien virus corona. Padahal, jumlah pasien masih dalam kisaran ratusan orang. Banyak staf yang kehabisan peralatan pelindung dan terpaksa menggunakan jas hujan plastik yang tidak sesuai standar untuk merawat pasien-pasien COVID-19. 

Meninggalnya sepuluh dokter dan satu perawat (hingga 29 Maret 2020) karena terpapar virus corona bisa menjadi bukti bagaimana gagapnya sistem kesehatan Indonesia dalam menghadapi pandemi. Di Italia, dengan fasilitas yang jauh lebih memadai, sudah ada 6.077 kematian akibat virus corona, di mana 23 di antaranya adalah dokter. 

Sesungguhnya wabah ini bisa dicegah, jika dari awal pemerintah Indonesia bersedia melakukan lockdown. Namun, hingga detik ini solusi lockdown sebatas ilusi karena alasan perekonomian negeri. Perekonomian negara akan tumbang jika lockdown diberlakukan, begitulah pernyataan pemerintah. Padahal, negeri ini memiliki seabrek kekayaan alam yang melimpah ruah. Cukup bahkan berlebih untuk membiayai segala kebutuhan masyarakat selama masa lockdown diberlakukan. Ke manakah kekayaan alam Indonesia? Kemanakah tambang emas Papua? Kemanakah kekayaan barang tambang negeri ini? Bukankah Indonesia dianugerahi tanah yang subur, laut dengan garis pantai terpanjang, hutan yang luas? Sudahkah sistem pertanian, kelautan dan perhutanan negeri ini dikelola dengan baik? Ke manakah segala potensi kekayaan Indonesia ini? Kenapa masyarakat masih pontang-panting mencari nafkah di tengah pandemi Corona?

Paradigma kepemimpinan kapitalis menunjukkan jatidirinya di negeri ini. Dimana rakyat bukanlah hal penting yang harus didahulukan kepentingannya. Dalam sejarahnya, wabah penyakit menular sudah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan mematikan serta belum ada obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasul memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut.

Dengan demikian, metode karantina atau lockdown telah diterapkan sejak zaman Rasulullah untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul membangun tembok di sekitar daerah wabah.

Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).

Dari hadits tersebut, maka kebijakan karantina dan isolasi harus segera dilakukan jika terjadi wabah penyakit menular. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Selama isolasi, diberikan petugas medis yang mumpuni dan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada penderita. Petugas isolasi diberikan pengamanan khusus agar tidak ikut tertular. Pemerintah pusat tetap memberikan pasokan bahan makanan kepada masyarakat yang terisolasi.

Islam juga memahamkan konsep Qadar sebagai salah satu yang harus diyakini. Allah telah tetapkan terkait gen, mekanisme mutasi, dampak fisiologi sebuah virus tertentu. Dari situ, kita tahu bagaimana mekanisme penyakit. Contohnya, identifikasi terhadap kuman Mycobacterium sebagai penyebab TBC yang menyerang paru, dan kita bisa pelajari antibiotik untuk mengobatinya dan juga mengenali mutasi kuman kuman Mycobacterium TB sehingga bisa menjadi resisten. Ukuran-ukuran ini yang bisa dipelajari dan digunakan untuk memprediksi resiko penyakit. Dan dari situ dapat diteliti obat/ vaksinasinya.

Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi Pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman negara Islam, yakni Khilafah Utsmani, bahkan sudah dirintis di jaman khilafah Abbasiyah. Inilah realitas sistem khilafah yang pernah mewujud belasan abad lamanya. Sistem yang tegak di atas landasan keimanan sangat berbeda jauh dengan sistem yang tegak di atas paradigma kapitalisme.

Sebagai muslim kita harus waspada dan optimis sekaligus. Waspada, bahwa virus corona ini bisa juga menyebar ke negeri-negeri muslim yang lambat mengantisipasi. Namun juga optimis bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya. Sudah saatnya kita berbenah, beralih ke Sistem illahi Rabbi yang sudah terbukti dan teruji berabad lamanya. Sistem andalan bukan abal-abal. Wallahu ‘alam Bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update