Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fatamorgana Ketahanan Keluarga dalam Kapitalisme

Friday, March 20, 2020 | Friday, March 20, 2020 WIB Last Updated 2020-03-20T05:23:48Z


Oleh : Fika Anjelina S.(Member AMK dan pemerhati generasi)

Harta yang paling berharga, adalah keluarga.
Istana yang paling megah, adalah keluarga.
Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga.
Mutiara tiada Tara adalah keluarga.

Lirik lagu diatas mengingatkan kita tentang makna sebuah keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga memegang peranan penting dalam masyarakat. Karena keluarga sebagai tumpuan untuk mencetak generasi unggul di masa depan. Setiap individu yang berkeluarga pasti menginginkan keluarga yang utuh. Apabila keluarga rusak,maka akan mempengaruhi kondisi generasi bangsa.

Namun saat ini, nyaris setengah juga pasangan suami istri (pasutri) di Indonesia cerai sepanjang 2019. Dari jumlah itu, mayoritas perceraian terjadi atas gugatan istri. Berdasarkan Laporan Tahunan Mahkamah Agung (MA) 2019 yang dikutip detikcom, Jumat (28/2/2020) perceraian tersebar di dua pengadilan yaitu Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. Pengadilan Agama untuk menceraikan pasangan muslim, sedangkan Pengadilan Negeri menceraikan pasangan nonmuslim. 

Dari data Pengadilan Negeri seluruh Indonesia, hakim telah memutuskan perceraian sebanyak 16,947 pasangan. Adapun di Pengadilan Agama sebanyak 347. 234 perceraian  berawal dari gugatan istri. Sedangkan 121.042 perceraian di Pengadilan Agama dilakukan atas permohonan talak suami. Sehingga total di seluruh Indonesia sebanyak 485.223 pasangan.

 Kasus penceraian tersebut sudah inkrah di pengadilan. Untuk kasus perceraian yang masih dalam proses, baru terdaftar atau kasus perceraian di bawah tangan belum masuk daftar hitungan. Dan bisa jadi jumlahnya lebih besar lagi. 

Alasan yang sering menjadi penyebab perceraian adalah alasan ekonomi. Ketika kebutuhan dalam rumah tangga  tidak dapat dipenuhi dengan baik. Kebutuhan bulanan seperti untuk makan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anak sering menjadi penyebab masalah ekonomi pada keluarga. Selain itu masih ada juga alasan karena KDRT, perbedaan prinsip, perselingkuhan dan terlalu sibuk dengan media sosial.

Dengan maraknya kasus perceraian di negeri kita tercinta, menunjukkan bahwa ketahanan keluarga semakin rapuh. Pemahaman tentang sakralnya pernikahan mulai memudar dan hilang. Sedikit demi sedikit masyarakat hanya memahami pernikahan  sekedar perjanjian yang bisa dibatalkan kapan saja. Bahkan mereka mengganggap pernikahan seperti muamalah atau jual beli. 

Dari banyaknya kasus perceraian tersebut, menyisakan banyak masalah terutama anak. Anak akan kehilangan peran ayah dan ibu secara utuh. Sehingga anak mudah stres dan depresi. Hal ini memicu banyak kasus kenakalan remaja, mulai narkoba, free sex, tawuran dan lain sebagainya. Selain itu masih banyak masalah yang mengancam ketahanan keluarga. Mulai dari dekandensi moral yang mengakibatkan perselingkuhan, kasus suka sesama jenis, dan incest. Ditambah lagi merebaknya kemiskinan dan pengangguran. Semua ini menunjukkan ada yang salah dengan ketahanan keluarga kita.

Mayoritas masyarakat menginginkan keluarga yang utuh, damai, dan tentram. Namun saat ini  sangat sulit mempertahankan keutuhan keluarga.  Penyebab yang mendasar adalah karena  diterapkan sistem kapitalis sekuler dalam kehidupan masyarakat dan Negara.  Penerapan sistem kapitalis sekuler telah memunculkan masalah muldimensi. Sistem ekonomi kapitalis berhasil membuat jurang kemiskinan yang sangat dalam. Gap antara si miskin dan si kaya semakin lebar. Sumberdaya alam yang melimpah hanya dinikmati segelintir orang dari kapitalis. Sehingga yang kaya semakin kaya.  Yang miskin semakin miskin. 

Maraknya kasus PHK yang semakin menambah jumlah pengangguran di negeri ini. Malah negara membuka kran untuk tenaga kerja asing, mulai dari tenaga kasar hingga ahli.  Belum lagi biaya kebutuhan sehari-hari semakin meningkat. Biaya pendidikan dan kesehatan ditanggung sendiri oleh keluarga tanpa ada peran negara.

Sistem sosial kapitalis yang serba bebas tanpa batas memunculkan masalah dekandensi moral. Contohnya perselingkuhan, suka sesama jenis, narkoba, tawuran dan lain-lain.  Dekadensi moral ini telah merusak generasi bangsa. Sistem ini juga mencetak individualis dan masyarakat hedonisme. Semua serba bebas mengatasnamakan hak asasi manusia.

Miris sekali kondisi keluarga dalam sistem kapitalis sekuler saat ini. Mewujudkan ketahanan keluarga dengan sistem ini sangatlah sulit . Buktinya adalah ketika ada sekelompok orang ingin menyelamatkan keluarga dengan mengajukan RUU Ketahanan Keluarga, mereka malah dipersulit. Alasan yang kontra RUU ini adalah melanggar HAM dan Negara tidak boleh mengurusi privasi, dll. Inilah fakta dalam kapitalis sekuler tidak boleh memasukkan norma agama dalam bernegara. Sampai kapanpun pasti akan ada perlawanan terhadap agama.

Islam adalah agama paripurna. Apapun masalahnya, Islam ada solusinya. Dalam Islam, negara dan agama ibarat saudara kembar. Agama sebagai asas berdirinya  negara dan negara sebagai wadah penerapan syariat Islam.
  
Setiap keluarga muslim berkewajiban memperkuat ketahanan keluarganya masing-masing. Allah berfirman : 
“Wahai orang-orang yang beriman ! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”  (TQS. At-Tahrim : 6).

Ketahanan keluarga adalah konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga islami dari nilai-nilai liberalisasi dan sekulerisasi yang dapat mengancam eksistensi keluarga tersebut dalam mengamalkan nilai-nilai yang islami.

Didukung peran negara yang menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai aspek ekonomi, sumberdaya alam dikelola oleh negara untuk melayani rakyat. Dengan demikian, negara mampu memenuhi kebutuhan rakyat secara menyeluruh. Aspek politik, negara akan membuat kebijakan untuk melindungi keluarga dan masyarakat. 

Aspek pendidikan, negara menyediakan pendidikan yang  murah untuk rakyat dan kurikulum berbasis aqidah. Aspek kesehatan negara menjamin kesehatan dan memberikan fasilitas kesehatan dengan murah,  dan lain-lain. Penerapan Islam kaffah inilah yang akan mewujudkan ketahanan keluarga yang hakiki.
Wallahu a’lam bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update