Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rasulullah saw. Suri Tauladan yang Hakiki

Thursday, January 30, 2020 | Thursday, January 30, 2020 WIB Last Updated 2020-01-30T08:03:50Z


Oleh : Neneng Sriwidianti
Pengisi Majelis Taklim dan Member AMK


Lagi-lagi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD, menyakiti umat Islam. Hal tersebut ia sampaikan pada Diskusi Panel Harapan Baru Dunia Islam : Meneguhkan hubungan Indonesia - Malaysia di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta, Sabtu ( 25/1).

Menurut Mahfud MD, haram hukumnya meniru sistem pemerintahan Nabi Muhammad saw. Menurutnya, pemerintahan Nabi Muhammad menggunakan sistem legislatif, eksekutif dan yudikatif. Semua peran itu berada dalam diri Nabi Muhammad saw.  sendiri. Nabi berhak dan boleh memerankan ketiga-tiganya karena dibimbing langsung oleh Allah Swt.

Menteri Pertahanan pada era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu mempertanyakan, setelah Nabi Muhammad sendiri, adakah umat Islam yang bisa memerankan ketiga-tiganya seperti Nabi Muhammad? Menurut dia, umat Islam tidak mungkin lagi ada yang menyamainya. Oleh karena itulah, menurut dia, dilarang mendirikan negara seperti yang didirikan Nabi Muhammad.

Pernyataannya itu justru semakin menunjukkan dangkalnya pemikirannya terhadap Islam. Dan semakin memperlihatkan sikap paniknya. Bagi orang yang panik dia akan berbicara apa saja, sekalipun pernyataannya tidak berhujah. Sangat disayangkan ucapan itu keluar dari lisan seorang profesor. Sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan hari ini, telah memalingkan akidahnya dan menentang ketaatan sempurna pada syariat. Kekuasaan dan jabatan telah memalingkannya dari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Islam adalah agama yang paripurna dan satu-satunya agama yang diridai oleh Allah Swt. Islam datang dibawa oleh Rasulullah saw. untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Agama ini datang untuk mengatur seluruh aspek kehidupan dari mulai ibadah sampai masalah pemerintahan. Kita diwajibkan untuk masuk kedalamnya secara kafah.

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (TQS. Al-Baqarah : 208)

Rasulullah saw. adalah teladan yang hakiki bagi kita. Diwajibkan bagi kita sebagai umatnya untuk mengikuti segala sesuatu yang datang dari beliau, baik ucapan, perbuatan, dan diamnya beliau. Itulah yang dinamakan Sunnah.

" Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.(TQS. al-ahzab : 21) 

Rasulullah saw. bersabda : 
Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau : "Siapa yang enggan itu Wahai Rasulullah?" Maka beliau menjawab : "Barang siapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku maka ia enggan (masuk surga)." ( Shahih- Bukhari : 7280)

Kadang kita sering keliru memaknai hakikat Uswatun Hasanah yang ada pada diri Rasulullah saw. Tidak sedikit diantara kita mengkerdilkan makna sifat uswah (keteladanan) Rasululllah saw. hanya sebatas pada masalah-masalah akhlak, sunnah-sunnah dan ritual ibadah yang dikerjakan oleh Rasulullah saja. Padahal, syariat juga menuntut kita untuk meninggalkan atau tidak mengerjakan segala sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah dalam urusan agama ini. Inilah makna uswah yang lebih sempurna, mencakup sunnah fi'liyyah dan juga sunnah tarkiyyah.

Salah satu ajaran Islam yang diwasiatkan dan diwariskan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya adalah al-imamah (khilafah), sebagaimana sabdanya dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad bersabda : 

"Adalah Bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para khalifah yang banyak." (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Rasulullah saw membangun struktur Negara Islam sendiri, yang beliau sempurnakan semasa hidup beliau. Beliaulah yang menjadi kepala negaranya. Beliau pula yang memilih dua mu'awin (pembantu), wali, Amil, Qadhi, pasukan, dirjen-dirjen departemen serta majelis syura. Struktur ini, dengan segala bentuk dan otoritasnya, adalah thariqah (metode baku) yang wajib diikuti.

Sepeninggal Rasulullah saw., para sahabat melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Dengan demikian Rasulullah saw.  telah mewariskan bentuk pemerintahan dan struktur negara yang telah sedemikian dikenal dan teramat jelas dan terbukti pernah diterapkan selama 13 abad dengan peradabannya yang sangat gemilang. Sebuah sistem pemerintahan yang baku sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan wajib diterapkan oleh umat Islam sampai kapan pun dan dimana pun.

Oleh karena itu, kalau hari ini ada yang mengatakan sistem pemerintahan Nabi Muhammad tidak boleh diikuti, ini adalah bentuk penghinaan pada ajaran Nabi Muhammad saw. dan merendahkan martabat ajaran Nabi Muhammad saw. Pernyataan seperti itu tidak boleh keluar dari lisan seorang muslim, dan dia telah gagal memahami ketundukan pada syariah Nabi Muhammad saw.

Wallahu a'lam bishshowwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update