Zaman Tak Merubah Peran Ibu Sebagai Pendidik

Oleh : Desi Wulan Sari 
(Member Revowriter Bogor)

Tantangan seorang Ibu di zaman milenial ini semakin berat dan membutuhkan usaha yang lebih keras untuk dapat mendidik anak-anaknya. Zaman yang sudah tidak lagi mengedepankan adab dan santun kepada orang tua atau para guru, ustaz dan para  pengajar keilmuan.

Besarnya pengaruh nilai-nilai budaya barat yang mengusung sekuleris, kapitalis dan liberalis menjadi penghalang besar tugas seorang Ibu dalam mendidik anak yang sesuai dengan koridor syariat yang telah di tetapkan. 

Bagaimanakah kondisi perkembangan generasi penerus umat, saat era sepilis menguasai sistem negara saat ini? Berbagai macam bahaya pemikiran kufur telah menglilingi pemahaman anak-anak Zaman sekarang. Kemudahan informasi yang di dapatkan menjadi salah satu faktor teracuninya pemikiran mereka dengan akidah kufur yang dianggap modern dan keren.

Segala hal yang berbau kebarat-baratan adalah yang wajib di tiru bagi anak muda. Padahal gaya tontonan yang tidak mendidik telah menjamur ke berbagai kalangan. Akses pornografi yang mudah di dapat dari internet menjadi alasan mereka untuk mengetahui pendidikan seks yang tidak sepantasnya. Idola-idola kufur yang banyak di puja-puja menjadi nilai lebih bagi eksistensi mereka di dunia maya ataupuan nyata. 

Adab-adab seorang anak pada orangtuanya banyak yang telah ditinggalkan. Mereka menganggap orang tua hanya sebagai teman atau sebatas pengasuh saja. Padahal tugas utana orang tua khususnya seorang  Ibu adalah mendidik anak-anaknya kembali kepada syariat. 

Lalu bagaimana langkah para Ibu muslimah menghadapi hambatan pendidikan dalam lingkaran sepilis ini? 
Adapun langkah-langkah pendidikan syariat yang tidak pernah boleh dihilangkan ataupun tidak akan pernah berubah karena Zaman yaitu mendidik dasar-dasar akidah kepada seorang anak dan itu wajib diajarkan oleh seorang Ibu, antara lain:

1. Pendidikan dalam mengenalkan tauhid sedini mungkin.
2. Pendidikan tentang shalat, puasa, zakat.
3. Pendidikan adalah hak anak yang harus diberikan.
4. Pendidikan tentang Ibadah dan amalan-amalan lainnya. 
5. Mengajarkan anak untuk betutur kata yang sopan dan santun baik pada orangtua, orang lain maupun teman sebayanya. Usahakan untuk selalu menghindari kata-kata kasar.
6. Awasi dengan siapa anak bergaul dan perhatikan pergaulannya karena teman atau lingkungan bisa mempengaruhi karakter sang anak.
7. Mengajarkan anak untuk sabar dan selalu menjaga emosi apabila marah.
8. Mengajarkanpada anak untuk berdoa dan memohon segala seuatu hanya kepada Allah SWT.
9. Mengajarkan komunikasi yang baik kepada anak dengan bahasa yang baik dan melatihnya untuk tidak malu berbicara dengan orang lain terutama untuk melatihnya bersosialisasi.
10. Memisahkan ranjang maupun kamar anak perempuan dengan laki-laki saat mereka telah berusia lebih dari enam tahun. 
11. Mengawasi anak saat menonton tayangan di telavisi serta saat anak bermain gadget atau perangkat lainnya. Beri pengertian pada anak mana yang boleh ia tonton, mainkan dan sebagainya.
12. Mengawasi anak saat ia tumbuh remaja dan pergaulannya dengan lawan jenis (baca pergaulan dalam islam). Orangtua sepatutnya memberikan pengertian padanya bahwa pacaran dalam islam haram hukumnya dengan bahasa yang baik mengingat pacaran dapat menjerumuskan anak pada perbuatan zina (baca zina dalam islam) dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
13. Senantiasa mendoakan anak agar anak menjadi anak yang berbakti dan bertaqwa kepada Allah SWT serta kedua orangtuanya. Ridho Allah adalah ridho orangtua oleh karena itu orangtua wajib mendoakan anaknya dalam hal kebaikan.

Tiga belas langkah diatas merupakan beberapa ikhtiar seorang ibu tangguh saat mendidik anaknya. Apapun zamannya syariat Islam tetap menjadi pedoman pendidikan bagi seorang Ibu pencetak generasi rabbani. Walau saat ini kita betada dalam lingkaran zaman yang penuh kekufuran di dalamnya yaitu Kapitalis, sekuleris dan liberalis, akan tetapi hanya satu yang mampu menghadapi kekufuran tersebut yaitu dengan syariat Allah SWT, bukan yang lain. Wallahu a'lam bishawab. []

Post a Comment

Previous Post Next Post