Oleh : Ayukhawlah
Bulan Rabiul Awal menjadi bulan yang sangat dimuliakan oleh seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia. Bagaimana tidak, Momen Rabiul Awal ini adalah momen kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kelahiran manusia agung yang mendapatkan mandat menyelamatkan manusia dan dunia dari kehancuran. Risalah Islam sebagai kunci keselamatan dunia dan akhirat.
Tepatnya pada tanggal 12 Rabiul awal Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada hari senin tahun Gajah di Makkah (Ibnu Hisyam, as-Sirah, 1/142; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/264; Ibnul Qayyim, Zad al-Ma’ad,1/28).
Sebagai umat Islam, Mengenang momentum kelahiran Nabi saw. Sangatlah penting. Terutama sebagai upaya memfokuskan kembali perhatian kita pada sosok manusia yang paling berjasa sepanjang peradaban. Tidak lain agar kita mampu menjadikan beliau sebagai satu-satunya sosok pegangan, model perilaku dan suri tauladan (uswah) dalam segala aspek kehidupan.
Allah SWT berfirman : “ Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Akhir serta banyak menyebut Allah” (TQS Al-Ahzab [33]:21).
Aspek Teladan Rasulullah saw.
Sungguh dalam diri Rasulullah saw. Terdapat suri tauladan dalam berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Beliau adalah pribadi yang paling mulia akhlaknya. Beliau juga teladan terbaik dalam bertetangga, bergaul, berteman, berkawan dan bermuamalah. Dalam semua itu kita diperintahkan untuk menjadikan beliau sebagai teladan dan model panutan.
Teladan Rasul saw. Bukan hanya dalam aspek akidah, spiritual, moral dan sosial saja. Namun beliau juga memberikan teladan kepemimpinan dalam bernegara, berpolitik, menjalankan pemerintahan, menerapkan hukum dan menyelesaikan persengketaan. Teladan Rasul saw. dalam segala aspek harus kita contoh dan berusaha merealisasikan keteladanan beliau didalam menjalani hidup. Hal itu sebagaimana yang Allah SWT perintahkan kepada kita :
“Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukuman-Nya” (TQS al-Hasyr [59]:7).
Maka dari itu, kita harus total menjadikan Rasulullah saw. sebagai panutan dan suri tauladan dalam segala aspek, baik dalam aspek individu, keluarga, maupun negara. Salah satu aspek teladan Rasul saw. yang saat ini penting untuk diaktualisasikan adalah teladan kepemimpinan Rasul saw.
Rasulullah Muhammad saw. bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga pemimpin politik. Dalam konteks saat ini, beliau dapat disebut sebagai pemimpin negara (ra’is ad-daulah). Allah swt berfirman : “Tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk ditaati dengan izin Allah (QS An-Nisa [4]:64.
Ayat ini menegaskan bahwa kehadiran Rasulullah saw. tidak sebatas penyampai risalah semata. Beliau juga sekaligus pemimpin yang wajib untuk ditaati setiap perintah dan larangannya. Hal ini ditegaskan dalam ayat selanjutnya, bahwa diantara bukti kesempurnaan iman adalah menjadikan Rasul saw. sebagai hakim dan keputusan beliau diterima tanpa ada keberatan sedikitpun. Sepeninggal Rasul saw., hal itu adalah dengan menjadikan syariah sebagai hukum untuk memutuskan segala perkara (lihat :QS an-Nisa’[4]:65).
Rasul saw. juga memberikan teladan bagaimana menjalankan sistem pemerintahan Islam. Beliau membangun struktur Negara. Beliau menunjuk dan mengangkat para penguasa, baik mu’awin wali maupun ‘amil. Beliau menunjuk para panglima dan komandan pasukan. Beliau mengangkat qadhi (hakim) untuk berbagai wilayah. Beliau juga mengangkat para pegawai administratif untuk berbagai urusan. Semua merupakan penjelasan atas kewajiban menerapkan hukum-hukum Islam.
Maka sudah seharusnya kita harus meneladani apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, baik itu qaul (perkataan), fi’lun (perbuatan) maupun taqrir nya beliau. mengikuti dan meneladani Rasulullah saw memang sesuai fitrah manusia.
Kita perlu memahami bagaimana mengikuti Rasul dalam melakukan aktivitas kesehariannya, seperti memperlakukan pekerjanya, istri-istrinya, para sahabatnya, termasuk memimpin negara dalam berbagai urusan; politik, ekonomi, sosial, budaya, pengadilan, hukum, dan pemerintahan. Dan, kita pun insyaAllah bisa menjadikan beliau sebagai teladan dalam aktivitas keseharian kita.
Allah Swt. berfirman:“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3]: 31)
Cinta Nabi, Terapkan Syariah
Adalah Rasulullah, Kegundahannya hanya memikirkan nasib umatnya. Bahkan kegundahan memikirkan nasib umatnya tersebut terbawa hingga menjelang wafatnya. Beliau gundah akan nasib umatnya sepeninggal beliau. Apakah umatnya tetap berpegang teguh dengan syariat yang dibawanya? Ataukah justru umatnya ini banyak menelantarkan syariat yang dibawanya?
Dengan Memperingati momentum kelahiran Nabi saw.,seharusnya kita dapat memaknainya secara mendalam. Agar peringatan Maulid tak sekadar seremonial tahunan yang kosong makna. Mencintai Nabi sudah seharusnya mencintai seluruh syariat yang dibawanya. Tidak pilah pilih sekehendak hati. Tak ada dikotomi dalam meneladani Nabi saw. Saat shalawat mengingatnya, saat menjalani kehidupan kita melalaikan sebagian syariatNya.
Mencintai Nabi adalah dengan meneladani Rasulullah saw. dalam segala aspek kehidupan. Meneladani Rasulullah tak sebatas pada tatanan akhlak dan pribadi Rasulullahnya semata, tanpa meneladani apa yang Rasulullah contohkan sebagai kepala negara.
Sebagai bukti nyata bahwa kita mencintai Nabi, tentu kita harus taat pada segala yang diperintahkan yakni menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam kehidupan. termasuk dalam tatanan negara, semua harus berlandasakan pada syariah-Nya.
Oleh karena itulah, orang yang mengaku mencintai Allah, mencintai Nabi dan Rasul-Nya seharusnya memperlihatkan tanda-tanda kecintaannya tersebut, yakni mencintai dan menerapkan segala syariah yang dibawa oleh Rasulullash saw.
Namun menjadi sebuah pertanyaan jika ada yang mengaku cinta, namun menolak penerapan syariah secara kaffah ? menentang ajarannya dan mempersekusi para pejuangnya. Bagaimana kita mengaku diri mencintai nabi dan berharap nabi juga mencintai kita ? sementara banyak diantara kita justru terang-terangan memusuhi dan bersikap sinis dengan syariat Islam ?
Allahu a’lam bishawab
No comments:
Post a Comment