Oleh El Syifa Abdurrahman 
(Pendidik Generasi & Member AMK) 


Pemikiran liberal sekuler kian hari kian menancap kuat dalam peradaban manusia modern hari ini. Menyusup ke dalam benteng pertahanan terakhir yaitu keluarga. Tak terkecuali keluarga muslim terpapar pemikiran ini. 

Arusnya yang kuat tak ada yang bisa membendung, selain keimanan dalam diri yang semakin menipis di tengah gempuran peradaban sekuler yang makin ganas melibas sendi-sendi ketakwaan. 

Virus inipun menjangkiti orang tua dalam mendidik anak. Cerita seorang selebriti yang memilih untuk mendampingi anak-anaknya ketika menonton konten porno menjadi gambaran liberalisme telah masuk ke ranah keluarga. Dengan alasan keterbukaan dan edukasi seks mengabaikan dampak negatif akibat menonton konten porno. 

Cara pandang  orang tua yang liberal ini buah dari kampanye peradaban kapitalis sekuler yang mengusung kehidupan permisif. Akibatnya banyak keluarga muslim yang tidak berpijak pada aturan agama dalam mendidik anak. 

Ini bisa dilihat dari komentar netizen dalam menanggapi cerita tersebut, sebagian menganggapnya sebagai pola asuh progresif yang mengedepankan keterbukaan antar anggota keluarga. Walaupun ada juga yang menanggapinya dengan nada miris. 

Mendidik anak di bawah sistem sekuler menjadi PR yang berat bagi keluarga saat ini. Beban itu kian bertambah tatkala negara absen dalam mewujudkannya. 

Edukasi Seks Ala Kapitalis Sekuler VS Islam

Pendidikan seks tak luput dari agenda Barat untuk diimpor ke negeri-negeri muslim. Melalui badan urusan pendidikan dunia UNESCO, ide ini digulirkan ke seluruh penjuru dunia. Program bernama Pendidikan Seks Komprehensif Seksual menjadi jalan bagi masuknya ide kebebasan seks. 

Berawal dari keprihatinan terhadap maraknya kasus pergaulan bebas dan kekerasan seksual di kalangan remaja yang semakin mengkhawatirkan, solusi komprehensif ala kapitalis dijajakan ke seluruh penjuru dunia. 

Dalam buku bimbingan teknis tentang seksualitas disebutkan "Pendidikan seksualitas komprehensif (CSE) proses pengajaran dan pembelajaran berbasis kurikulum tentang aspek kognitif, emosional, fisik, dan sosial seksualitas. Ini bertujuan membekali anak-anak dan remaja dengan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang akan memberdayakan mereka untuk: mewujudkan kesehatan, kesejahteraan, dan martabat mereka; mengembangkan hubungan sosial dan seksual yang saling menghormati; mempertimbangkan bagaimana pilihan mereka memengaruhi kesejahteraan mereka sendiri dan orang lain; memahami dan memastikan perlindungan hak-hak mereka sepanjang hidup mereka." (Muslimah News Id 30/3/2021). 

Konsep pendidikan seks yang sudah diadopsi di beberapa negara di barat ini memicu persoalan baru.

Maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja justru setelah mereka terpapar sex education yang mereka peroleh, mereka justru terlibat dalam seks bebas dengan alasan yang penting aman, sehat, dan terhindar dari kehamilan. 

Pengenalan seks kepada anak usia dini yang tidak tepat juga membuat anak-anak terpapar pornografi, alih-alih ingin mengedukasi justru malah meracuni. Misalnya mengenalkan mereka pada orientasi seks sesama jenis. 

Cara pandang yang salah terhadap seks dan cara pemenuhannya menjadi akar dari tidak tepatnya solusi yang dihadirkan. Barat dengan asas sekularismenya  memandang seks sebagai hal yang mesti dipenuhi dan menjadi bagian dari hak asasi yang dibingkai dalam kebebasan berperilaku. 

Meningkatnya kasus HIV Aids dan berbagai penyakit menular seksual dianggap sebagai kurangnya edukasi seks yang aman dan sehat, bukan akibat dari pergaulan bebas yang membudaya dalam masyarakat mereka. 

Disamping itu, gempuran media yang mengumbar kepornoan menjadi jalan terbukanya perilaku pelecehan seksual. Baik itu menimpa anak maupun orang dewasa berawal dari konten porno yang bisa diakses dengan mudah. 

Berseliwerannya konten berbau kepornoan menjadi hal yang lumrah di masyarakat sekuler karena bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. Tak jarang acara televisi pun dikemas dengan sisipan sensualitas demi meraih rating penonton yang tinggi. 

Berbeda dengan Islam, sebagai sebuah sistem kehidupan yang komprehensif, Islam memiliki aturan terkait masalah ini. 

Keluarga sebagai pilar pertama memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan seks, untuk anak usia dini dimulai dengan mengenalkan batasan-batasan aurat dan kepada siapa saja aurat itu mesti dijaga. 

Anak-anak juga diberi tahu tentang batasan interaksi dengan orang lain, baik dalam memandang, berbicara, berpegangan atau bersentuhan. 

Islam juga memerintahkan orang tua untuk memisahkan tempat tidur anak-anak mereka yang telah berumur tujuh tahun. Ini untuk menjaga agar naluri seks tidak muncul sebelum waktunya. 

Menginjak usia remaja atau akil balig Islam memerintahkan untuk menutup aurat secara sempurna bagi perempuan dan laki-laki. Menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Membatasi interaksi dengan lawan jenis kecuali pada hal-hal yang dibolehkan syara. Termasuk larangan berkhalwat atau berdua-duaan dengan lawan jenis. 

Pemahaman yang telah diajarkan dalam lingkungan keluarga harus didukung dengan adanya peran masyarakat  serta dukungan dari negara dalam menciptakan suasana taqwa. 

Masyarakat dan negara yang terbingkai dalam asas Islam tentu akan menjauhkan hal-hal yang mengandung bahaya bagi moral generasi. Baik itu berupa pemikiran maupun produk film ataupun hiburan sejenisnya. 

Sanksi yang tegas juga menanti bagi pelaku kejahatan seksualitas, baik itu pezina, pemerkosa, liwath (homoseksual), dan kejahatan semisalnya. 

Dalam Islam, hukum bagi pezina adalah dicambuk 100 kali bagi yang belum menikah dan dirajam sampai mati bagi yang sudah menikah. Para pengusung kebebasan akan menganggap hal ini kejam. Padahal, disini ada efek jera dan pencegah bagi yang ingin melakukan kejahatan serupa. Selain itu, juga menjadi penebus dosa, sehingga di yaumil akhir ia tidak akan dihisab lagi.

Inilah solusi yang ditawarkan Islam yang lahir dari akidah Islam yang terpancar darinya hukum-hukum Islam yang mulia. Solusi yang hanya bisa diterapkan ketika kita mencampakkan sistem sekuler buatan manusia. 

Wallahu'alam bishshawab.