Batas Cinta


By Joulee

Terhitung 20 tahun sudah saat kulewati jalan ini bersamamu. Debu jalanan yang tebal tersapu angin saat truk tronton keluar masuk wilayah industri, panas menyapa wajah yang bergulir butir keringat, lelah.

Di belianya umur ku saat itu, sepulang dari kunjungan ke rumah bu Nia, guru sosiologi kita, jarangnya kendaraan umum yang lewat membuat semua orang berebut mendapatkan tumpangan.

Satu-persatu pasukan putih abu-abu beranjak meninggalkan tempat menanti mikrolet berwarna merah yang datang setiap lima belas menit sekali.


"Ayo terminal..terminal...terminal"

 Suara lelaki dari kendaraan yang datang, dan waktu menunjukkan pukul 15.00 tandanya putaran terakhir, selepas ini tidak akan ada yang lewat lagi sampai esok pagi.

Dan semua temanku telah pulang, hanya tinggal aku dan kau dengan sepeda BMXmu, memboncengpun aku tak akan sanggup dengan rok seragamku yang panjangnya diatas lutut, belum lagi posisinya harus berdiri di belakang memegang pundakmu, atau duduk di depanmu mengendali kemudi. Benar-benar tak bisa dipilih.


Aku hanya bisa mendengus kesal, dan menatapmu yang tersenyum kearahku, aku paham dengan tatapan kekhawatiran itu, kau bisa saja meninggalkan aku saat itu dan berlalu dengan roda dua kesayanganmu, tapi kau tak lakukan, bahkan kau mengiringi langkahku, perlahan, di sampingku.

"Gak papa, Mas, duluan aja.. ntar juga ada kendaraan yang lewat" 

Aku hanya tak ingin merepotkan pemuda bermata sipit yang ada di dekatku.

"Ndak lah, nanti aja kalo dah ada mikrolet, kalo gak dapat naik yang merah, nanti di pertigaan depan ada yang biru dari arah Mojokerto"

"Aku jalan aja, nanggung sudah separuh paling kurangnya dua setengah kilo meter lagi, aku masih kuat"
Kulempar senyum padanya nyaris tanpa tertolak.

Aku melenggang dengan aman di sampingmu, kita hanya bicara sesekali, sampai saat jalan menuju gang rumahku nampak, kau pun pamit pulang dengan laju yang tak selamban  tadi.

***

Meski tak berseragam putih abu-abu lagi, jeda ruang dan waktu tak menyurutkan jemariku mencari kabarmu.

Kini, ku hanya bisa tertegun memandang namamu di kontak layar handphoneku. 

Banyak perubahan dalam kehidupan ini, bertahun aku mencari keberadaanmu, kutelusuri tiap laman sosial media berharap akan menemukanmu. Sampai group alumni putih abu-abu mempertemukan kita. Aku ingin perkenalkan dia yang menjadi imamku dan akupun ingin mengenal dia belahan jiwamu.

"Mas, Aku tak sanggup berbicara denganmu"

Aku tak mampu jelaskan apapun. Mataku nanar melihat photo profil di nomormu, senyum bahagia mengembang di wajah sepasang pengantin, sang pria bermata sipit mengenakan setelan jas hitam tak berkurang ketampanannya seperti dua puluh tahun lalu sedang memeluk wanita bergaun pengantin putih khas pernikahan gereja.

Terputar kembali dalam ingatanku betapa engkau mahir membaca ayat-ayat Alquran saat mengimami shalat Zuhur kala itu.

Sebuah pesan yang tak pernah ku sangka  membuka luka yang tersayat.

Perih.

[Kau, perempuan yang pernah ku sukai, tapi belum sempat ku ucapkan] 

Sempat muncul kata "andai" dalam benak ku.

_Andai hari itu tak kudengar carita orang tentangmu dan tak meninggalkanmu,_
_Mungkin kau akan tetap bersamaku dalam cahaya yang sama, jikapun tak bertemu denganmu di dunia ini, aku masih bisa menemuimu di akhirat nanti._

Tapi bisakah itu menjadi jaminan? Bukankah setiap pilihan akan menanggung resikonya.

Sungguh aku menempuh jalan hijrahku pun tak semudah menggoreskan pena pada kertas kosong.

_Mas, aku hanya bisa berdoa semoga Allah beri hidayah padamu dan belahan jiwamu, lakum diinukum waliadiin._


(tamat)

Post a Comment

Previous Post Next Post