Hijrah dan Cinta

Oleh : Sri Rahmawati

Alhamdulillah, penulis baru saja mendapatkan ilmu baru yang penuh dengan hikmah dari Ustadz Budi Ashari yang bertemakan antara hijrah dan cinta. Beliau menjelaskan betapa pentingnya dialog,  perhatian, dan doa dalam keluarga untuk menjaga kehangatan tali cinta dan kasih sayang yang kuat dalam keluarga sehingga tidak mudah retak, pecah hingga berkeping-keping. Sebuah keluarga utuh bisa pecah apabila suasana di dalamnya terasa dingin dan keruh akibat kurangnya perhatian dan dialog antara suami, istri dan anak-anak. 

Kisah sahabat Abu Hurairah radiallohu anhu, seorang perawi hadist, ibunya tukang menghina nabi,  menghina agama Islam, yang menyebabkan kemarahan Abu Hurairah. Abu Hurairah merasa sudah kehilangan cara dalam menasehati ibunya. Beliau kemudian pergi menemui nabi dan meminta doa dari nabi agar ibunya mendapat hidayah. Beginilah doa Baginda nabi :
“Yaa Alloh berilah petunjuk kepada ibunya Abu Hurairah”
Disini Rosululloh mengajarkan kita untuk memohon kepada Alloh, cukup minta saja kepadaNya, curhat saja kepadaNya.

Kemudian Abu Hurairah pulang. Tiba-tiba di dalam rumahnya beliau mendengar suara air gemericik seperti ada orang sedang mandi. Ibunya keluar, ternyata ibunya yang barusan mandi, kemudian dia mengucapkan dua kalimah Syahadat di hadapan Abu Hurairah. Maasya Alloh sungguh terharu beliau mendengarnya, lalu beliau segera menyampaikan hal ini kepada Rosululloh SAW.

Kita tidak mengetahui urusan hati. Hati seorang hamba ada di tangan Alloh, maka berdoalah, minta kepada Alloh untuk kebaikannya. Hanya Alloh yang bisa merubah hati seseorang yang membenci sesuatu menjadi mencintai sesuatu.
Kita tidak tahu cara doa bekerja, cara Alloh memproses doa kita. 
Ikhtiar penting kita dalam menyelesaikan masalah keluarga adalah dengan memberikan perhatian yang penuh dan doa.

Bagaimana apabila Istri masih belum mau berhijab, belum mau sholat, belum mau mendatangi kajian Islam, belum sholeha, maka perbanyaklah dialog dengannya. Nasehat suami kepada istri sampaikanlah secara terus menerus, kita tidak tahu kalimat yang mana yang mendatangkan hidayah Alloh untuk istri. Dialog sangatlah penting. Namun kadang sulit menghidupkan dialog, mengapa? Karena suami dan istri saling disibukkan dengan urusan dunia, atau telah tergantikan oleh handphone. Suami istri secara fisik bersama-sama namun dengan adanya handphone hatinya berjauhan. 

Nabi sangat rajin berdialog dengan istrinya untuk merawat cinta. Sesungguhnya bergadang malam dalam Islam itu tidak boleh. Suatu hari Aisyah istri nabi kedatangan keponakan, dia menginap di rumah Aisyah. Pada malam hari keponakannya bergadang, tengah asyik mengobrol dengan temannya. Aisyah melarangnya dan berkata :
“Nabi tidak pernah tidur sebelum isya, dan tidak bergadang setelah isya.”

Bergadang yang diperbolehkan yang dicontohkan oleh Nabi adalah untuk tiga urusan, pertama, untuk urusan keummatan, kedua, untuk urusan ilmu, dan yang ketiga bergadang malam antara suami istri demi menjaga cinta, yaitu dicontohkan ngobrol malam nabi dengan istrinya. 
Bergadangnya para suami zaman sekarang kebanyakan bukanlah untuk ketiga urusan di atas. Suami bergadang bukan untuk mengobrol hangat dengan istrinya, tetapi bergadang untuk menonton sepak bola, pertunjukan wayang, nongkrong dan ngopi dengan teman-temannya, main game online, dan kegiatan lain yang tidak berfaedah dan tidak bernilai di mata Alloh SWT. Akibatnya kehangatan jarang terjalin dalam sebuah keluarga, bahkan banyak keluarga yang mengalami kehancuran.

Ada doa yang bagus untuk kita panjatkan, diriwayatkan dari Abu Dar’da Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda tentang doa Nabi Dawud ‘Alaihis Salam, beliau berkata:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي ، وَمِنَ المَاءِ البَارِدِ

“Ya Allah, sungguh aku minta kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu, dan mencintai orang yang mencintaimu, dan amal yang menyampaikan kami kepada cintaMu,. Ya Alah jadikan kecintaan kepada-Mu lebih aku cintai daripada diriku sendiri, keluargaku, dan dari air yang dingin.” (HR. Al-Tirmidzi)
Juga doa berikut ini, yaitu hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi nomor 2.066 dan 3.444. Berikut redaksi singkat doanya: 
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Ya Muqallibal qulubi tsabbit qalbi ‘ala dinika.”
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu.”
  
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tak ada manusia melainkan hatinya berada dalam kekuasaan Allah. Dan Allah lah yang mebolak-balikan hati manusia.

Mari merenungi sejenak bagaimana kondisi dalam rumah kita masing-masing. Apabila kita termasuk orang yang jarang memberi perhatian terhadap keluarga, tidak ada waktu untuk berdialog, maka penting dari sekarang kita hijrah. Sesungguhnya hijrah itu adalah menumbuhkan cinta baru. Hijrah sebagai pintu sabar, apabila pasangan kita belum mau berhijrah, dia tidak seperti apa yang diharapkan, maka bersabarlah, doakan dia dan beri perhatian penuh. Kita berhijrah semata-mata dengan niat dan tujuan utama karena Alloh Ta’ala, sang pencipta, untuk berbakti kepada yang lebih sejati yaitu Alloh Ta’ala.
Wallohu a’lam bish showab.
Previous Post Next Post