Oleh: Nuni Toid 
Member AMK3 dan Alumni BFW 212
                   
     “Suatu saat pasti kan datang
      Saat-saat paling menakutkan 
      Sang malaikat pencabut nya
      wa, kan merenggut ruhmu dari
      badan.”

Sebait lagu  kematian yang pernah hits yang dibawakan oleh Raja dangdut, Rhoma Irama. 

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian. Begitupun dengan yang namanya manusia pasti akan mengalami kematian. Seperti yang baru dialami oleh suami sahabat, sekaligus seperti ibu bagi saya, kemarin masih bisa duduk, berbincang, dan bercanda, hari ini  Allah telah memanggilnya karena derita sakit yang tak terobati. 

Kematian pasti akan datang, tak bisa ditawar, tak bisa ditunda. Seperti dalam firman Allah SWT: “Setiap jiwa pasti akan merasakan yang namanya kematian.”(TQS Ali Imran[3]: 183).
Kematian adalah suatu hal yang membahagiakan bagi orang yang beriman. Sebaliknya, kematian adalah suatu hal yang menakutkan bagi mereka yang durhaka dan ingkar kepada-Nya. Allah SWT akan memberikan ujian bagi setiap manusia baik berupa kebaikan maupun keburukan. Bagaimana seorang Muslim yang beriman akan menyikapinya. Maka hendaknya kita sebagai orang yang beriman senantiasa harus berpegang teguh dengan Syariah-Nya. Karena kematian itu datangnya tiba-tiba tak ada yang tahu kapan malaikat maut mencabut nyawa kita. 

Sungguh amat merugi manusia yang ketika dalam kematiannya masih dalam kemaksiatan dan kebodohan. Mereka hanya mengejar kemewahan, kehormatan, jabatan dan kekuasaan seakan mereka akan hidup seribu tahun. Mereka tak sadar maut senantiasa selalu mengintainya. Bahkan demi kebahagiaan dan ketenaran di dunia, mereka rela tak mengindahkan akan hukum Syara. Halal-haram mereka tabrak, riba merajalela, korupsi makin menjadi, dusta sana-sini. Mereka lakukan demi kedudukan dan kekuasaan yang semu. Padahal itu adalah bentuk ujian bagi mereka. Karena Allah SWT telah berfirman: 

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”(TQS al Anbiya[21]: 35). 

Itulah akibat negara menjadikan kapitalisme sebagai ideologi  hingga lahir sekulerisme dan liberalisme, agama dipisahkan dari kehidupan dan kebebasan dijadikan nafas dalam segala lini kehidupan. Mereka tak sadar,  telah terjerat dalam hukum jahiliyah, yakni hukum buatan manusia. Dimana manusia dipaksa harus tunduk dan patuh pada aturan yang rusak dan merusakkan. Bagaimana tidak, seorang Muslim hanya berorientasi pada kehidupan dunia saja. 

Sedangkan setiap manusia jelas akan kembali pada yang menciptakannya yakni Allah SWT. Manusia manapun tak bisa menolak datangnya kematian. Tak ada yang kekal di dunia ini, semua akan binasa, akan hancur dan musnah. Maka siapkan sedini mungkin bekal yang akan kita bawa kelak. Bukan harta, rumah mewah, jabatan atau  yang berbau keduniawian, namun hanya amal sholeh yang akan kita bawa. 

Lalu apa yang harus kita siapkan?  Apakah sudah cukup dengan kita menjalankan ibadah mahdoh saja? Tentu tidak bukan? Kita tak ingin menyesal dikemudian hari. Karena bila kita sudah mati, tak akan bisa kembali, dan hanya penyesalan  yang akan kita rasakan selamanya. 

Bila tak ingin mati dalam keadaan jahiliyah, hendaknya kaum Muslim jangan meninggalkan Syariah Islam. Jangan terlena dengan buaian dunia, kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menjalankan semua aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. 

Maka jadilah pengemban dakwah yang senantiasa selalu berhati-hati dan waspada terhadap nikmat dunia dan jadikan Syariah Islam sebagai pijakan kita dalam melakukan segala aktivitas kita di dunia. Hingga kelak kematian kita dalam keadaan beriman dan mendapat ridha Allah SWT. 

Wallahu a’lam bi ashawwab. []
 
Top