Oleh : Syifa Putri
Ibu Rumah Tangga, Kab. Bandung.

Bagaikan ikan tidak mau hidup didalam air, itulah gambaran umat Islam sekarang. Mereka beragama Islam akan tetapi tidak mau diatur oleh aturan Islam. Ironisnya lagi, ada yang malah takut dengan ajaran agamanya sendiri yaitu Islam, sampai-sampai simbolnya juga ditakuti.

Seperti Beberapa waktu ke belakang terjadi kasus pengibaran bendera hitam bertuliskan tauhid di lembaga pendidikan. Adapun kejadian itu terjadi di saat kegiatan pesantren Ramadan di wilayah Kabupaten Bandung Barat, di salah satu SMA di Kabupaten Bandung dan MAN 1 Kabupaten Sukabumi.

Pemprov Jawa Barat tengah mendalami temuan itu sebagai langkah pencegahan masuknya radikalisme di lembaga pendidikan. Pemprov Jawa Barat sebagai pembina SMA dan SMK negeri, bekerja sama dengan TNI dan Polri akan melaksanakan kegiatan pencerahan ke guru dan murid tentang cinta tanah air dan sebagainya.

"Kami selaku Pemprov dengan kewenangan atas SMA, akan mempelajari lebih dalam atas kasus ini," ujar Uu .Jabar Okezone news.

Ada juga seorang taruna Akademi Militer (Akmil) Enzo Zenz Ellie yang terancam dikeluarkan, karena viral di media sosial foto Enzo sedang memegang bendera bertuliskan tauhid, seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia. Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu meminta taruna akademi militer (Akmil) keturunan Prancis bernama Enzo Zenz Allie langsung diberhentikan jika benar menjadi pendukung paham radikalisme.

"Kalau benar saya suruh berhentiin," kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (7/8).

Dari fakta di atas kita bisa simpulkan, mereka takut atas simbol Islam yaitu bendera tauhid bendera umat Islam "al-Liwa dan ar-Rayah". Bagaimana mungkin seorang muslim menaruh curiga terhadap ekspresi keislaman saudara-saudaranya yang lebih ingin menghayati dan mengamalkan Islam???

Hal ini terjadi karena setelah keruntuhan Khilafah di Turki tahun 1924, negeri-negeri Islam terpecah-belah atas dasar konsep nation-state (negara-bangsa) mengikuti gaya hidup Barat. Implikasinya, masing-masing negara bangsa mempunyai bendera nasioanalnya. Sejak saat itulah, al-Liwa dan ar-Royah seakan-akan tenggelam dan menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat muslim.

Kondisi inilah yang mengakibatkan munculnya pandangan curiga dan phobia dari penguasa sekular terhadap bendera Islam. Ini pun kemudian sering dicap atau dihubungkan dengan terorisme dan radikalisme.

Pandangan curiga tersebut sesungguhnya lahir dari kebodohan yang nyata terhadap ajaran Islam selain karena adanya sikap taklid buta terhadap konsep nation-state (negara-bangsa) yang membelenggu dan memecah-belah umat Islam di seluruh dunia.

Bendera tauhid atau bendera dengan kalimat tauhid itu memang tidak otomatis mencerminkan bobot ketauhidan kita. Namun sebagai sebuah simbol, ia jelas bukan tanpa makna dan tanpa nilai. Menurut Imam Abdul Hayy al-Kattani, sebagai simbol, bendera dengan tuiisan kalimat tauhid mencerminkan persamaan kaum Muslim (ijtima'u kalimah Muslimin) dan kesatuan hati mereka (ittihadu qulubihim). Dalam hal apa? Pertama, dalam keyakinan atau akidah. Kedua, simbol persatuan umat. Ketiga, simbol perjuangan.

Keimanan yang bersemayam dalam diri seorang muslim sejatinya melahirkan takwa. Baik secara lahir maupun bathin. Secara lahir antara lain tampak dari sikapnya mengagungkan syiar-syiar Islam. Allah swt. berfirman:
Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan kalbu (TQS al-hajj [22]: 32).

Begitulah, sikap mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar dan ajaran Islam, juga simbol dan berbagai ekspresi keislaman, hanyalah cerminan ketakwaan dan kecintaan pada Islam yang terkandung di dalam hati.

Sedangkan isu radikalisme adalah upaya untuk melemahkan Islam. Sejatinya pengertian radikal, jika dilihat dari asal katanya dalam bahasa latin istilah radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Sejalan dengan hal ini KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan istilah ini sebagai segala sesuatu yang sifatnya mendasar sampai ke akar-akarnya atau sampai pada prinsipnya. Dengan demikian memang sudah seharusnya seseorang yang beragama islam mempelajari Islam sampai ke akar-akarnya atau secara keseluruhan. Seperti firman Allah swt. :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian. (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Ini adalah perintah dari Allah kepada semua orang mukmin untuk mengambil dan mengamalkan semua ajaran Islam dan syariatnya, termasuk mengagungkan syiar-syiarnya. Ini berarti, setiap mukmin harus mencintai Islam sepenuhnya sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah swt. Kecintaan kepada Allah itu harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya, yakni Rasul saw.:
Katakanlah, "Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (TQS Ali Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir mengatakan, "Ayat yang mulia ini menjadi pemutus atas tiap orang yang mengklaim mencintai Allah, sementara dia tidak berada di atas jalan Muhammad, maka dia adalah pendusta dalam klaimnya pada perkara yang sama, sampai dia mengikuti syariat Muhammad dan agama kenabian dalam semua ucapan dan syariatnya.

Hendaknya setiap muslim menunjukan kecintaannya pada Islam dengan mengamalkan syariat Rasul Muhammad SAW. secara menyeluruh di tengah kehidupan ini.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.
 
Top