Oleh: Sumiati 
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK )

Di tahun ini geliat umat muslim terkait keislamannya semakin menguat dari berbagai aspek, baik kesadaran pentingnya penegakan sistem Islam dan lainnya, bahkan merambah kepada hal yang hampir dilupakan, yaitu kesadaran umat tentang pentingnya sanad dalam berbagai Ilmu, salah satunya ilmu al Quran. 

Di majelis-majelis ta'lim terutama akhwat atau tepatnya ibu-ibu muda di usia produktif, mereka terlihat semakin rajin untuk melayakan diri di hadapan Allaah ta'ala, semangatnya bahkan terlihat melebihi semangat kaum laki-laki.

Begitupun yang berlangsung di Masjid Al Muhajirin, di salah satu perumahan di Cibiru Kabupaten Bandung. Tepatnya hari Sabtu tanggal 03 Agustus 2019. 

Ustadz. H. Ahmad Fudholi Husni Mubarok, LC. Beliau adalah Pewaris Sanad al Quran dengan 14 Qira'at, Alumni Universitas al Azhar, Mesir, dan Pembina LTQS Darul Qoror, Beliau Ustadz yang humoris, ceria, menyenangkan dalam mengajarnya. Alhamdulillah hari itu mendapat penjelasan yang luar biasa, menyejukan qalbu, Ustad sempat mengingatkan niat belajar ke beliau bukan semata-mata untuk mendapatkan sanad, namun kata beliau sanad itu nomor sekian saja. Bahkan beliau juga berpesan, jangan membanggakan diri dengan memposting kegiatan belajar tajwid bersanad di medsos, sementara ibaratnya mendapat sanadnya saja karena diberikan kelebihan menghafal, sehingga cepat dalam menghafalkan matan padahal hadirnya jarang, jadi belum menunjukkan kesungguhan dalam belajar..
SubhanaLlaah, syukron pengingatnya Ustad. 

Masya Allaah, hari yang menyenangkan bisa belajar langsung dari ahlinya. Teringat sebuah permainan anak-anak yaitu kata berantai, anak-anak di minta berjejer dengan jumlah banyak, sehingga panjang sekali barisannya. Nah, anak yang baris paling depan dibisikan sebuah kata-kata oleh gurunya, kemudian dibisikan lagi kepada anak berikutnya, dan seterusnya sampai akhir, biasanya ketika sampai akhir, kata-kata yang dibisikan guru bisa berubah, baik bertambah ataupun berkurang.
SubhanaLlaah, itulah lemahnya manusia, tidak ada yang sempurna. 

Itulah pentingnya belajar kepada ahlinya, agar meminimalisir  dari kesalahan. Walaupun manusia memang penuh dengan kekurangan, setidaknya berusaha. Allah ta'ala tidak pernah menilai hasil, namun yang dinilai adalah upaya, proses dalam setiap perjuangan.

Begitupun dalam belajar al Quran, ketika belajarnya kepada ahlinya, dipastikan tidak ada yang membingungkan, karena sesuai dengan kaidah ilmu tajwidnya, yang berada dalam kitab Muqodimah al Jazariyah. Puji syukur kepada Allah ta’ala, semoga Allaah ta'ala menjaga keikhlasan hati dalam belajar ini.

Ini adalah anugrah dari Allaah ta'ala, masih ada para ulama yang terus menerus menjaga keaslian ilmu apapun itu terkait dengan keislaman.

Seandainya seluruh buku, catatan dan dokumen yang ada di dunia ini musnah, termasuk seluruh data di computer dan internet menghilang dan tak bisa dikembalikan, maka hanya akan ada satu buku yang bisa ditulis kembali, sempurna huruf per huruf hingga tanda bacanya. Tak perlu berminggu-minggu untuk menuliskannya kembali, cukup hitungan jam. Itulah kitab suci Al-Quran. Mengapa?

Sanad, itulah jawabannya. Adanya pewarisan hafalan al-Quran 30 juz dari Rasulullah SAW, Shahabat, Tabiin, Tabiut tabien, para Imam Qiraaah (Qiraah Sab’ah), bersambung hingga generasi sekarang. Dengan adanya sanad maka keaslian dan keotentikan Al Quran tetap terjamin sejak era hidupnya Nabi Muhammad SAW hingga hari kiamat kelak.

Satu lagi pesan beliau, beliau mengatakan "ana belajar ke banyak guru di daerah Jawa, tidak mengejar sanad, tapi beliau yakin yang didapatkan dari guru-gurunya adalah benar walaupun tidak bersanad yang berupa sertifikat. 

Semoga bagi yang belum bersanad yang tertulis, tetap bersemangat untuk mengajar atau berdawah, dan terus semakin giat belajar melayakan diri, sehingga sanad disematkan dalam dirinya.

Umat Islam berbeda. Umat ini pemilik tunggal metodologi periwayatan. Berita yang didapat umat ini, diriwayatkan oleh pewarta yang kuat daya ingatnya, jujur, dan amanah dalam menyampaikan berita. Nabi ﷺ telah memberi isyarat bahwa ilmu ini akan kekal di tengah-tengah umatnya. Beliau ﷺ bersabda,

تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ، وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ

“Kalian mendengar dan didengar dari kalian. Dan orang-orang yang mendegar dari kalian akan didengarkan.” (HR. Abu Dawud, Bab Fadhl Nasyrul Ilmi 3659).

Urgensi Sanad atau Isnad

Para ulama telah menjelaskan tentang urgensi sanad. Mereka menjelaskan pentingnya ilmu ini dengan pemisalan yang tinggi. Seperti ucapan ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah,

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

Sufyan ats-Tsaury (ulama tabi’ at-tabi’in) rahimahullah mengatakan,

اَلإِسْنَادُ هُوَ سِلَاحُ المُؤْمِنِ. فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ سِلَاحٌ فَبِأَيِّ شَيْءٍ يُقَاتِلُ؟

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Kalau bukan dengan senjata itu, lalu dengan apa mereka berperang?” (al-Majruhin oleh Ibnu Hibban)

Berperang maksudnya, perang argumentasi. Mengkritik orang yang menyampaikan kabar bohong dan membela agama ini dari kepalsuan.

Abdullah bin al-Mubarak (ulama tabi’ at-tabi’in) rahimahullah mengatakan,

اَلإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu bagian dari agama. Kalau bukan karena Isnad, pasti siapaun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” (Riwayat Muslim).

Dengan adanya sanad, setiap orang yang mencatut nama Rasulullah ﷺ atau para sahabatnya dalam suatu nukilan, tidak serta-merta diterma ucapannya. Ucapannya diteliti, dari siapa dia mendengar. Apakah ucapan tersebut memiliki periwayat yang bersambung hingga ke Rasulullah ﷺ atau tidak. Satu per satu nama-nama itu diteliti latar belakang kehidupan mereka, kualitas daya ingatnya, kejujurannya, keshalehannya, dan lain-lain. Apabila dikategorikan sebagai seorang terpecaya dan memenuhi syarat-syarat lainnya. Barulah nukilannya diterima. Jika tidak memenuhi syarat, maka tidak diterima. Sehingga seseorang tidak bisa berbicara semaunya dalam agama ini.

Ilmu ini bisa diterapkan pada ilmu-ilmu lainnya. Seperti ilmu sastra Arab, sejarah, pengobatan, dll. Dari ilmu ini pula, lahir cabang keilmuan yang lain. seperti, Jarh wa Ta’dil. Apabila seorang pewarta tidak mencukupi syarat, ia di-jarh (dicela). Tidak dinilai layak. Jika si pewarta mencukupi syarat, ia di-ta’dil (dipuji). Dianggap layak beritanya diterima.

Perkembangan Ilmu Sanad/Isnad

Kaum muslimin mulai memperhatikan sanad setelah terjadi musibah pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Di masa itu, mulai muncul orang-orang yang memalsukan ucapan. Para ahli hadits maupun ilmu al Quran mengambil sikap untuk membentengi syariat dan sejarah Islam dari dusta dan kepalsuan. Sanda menjadi senjata untuk membantah para pemalsu. Sufyan ats-Tsaury rahimahullah mengatakan, “Ketika para pendusta membuat sanad-sanad bohong, kami bantah mereka dengan tarikh dan nama-nama periwayat.” (Isham al-Bayir dalam Ushul Manhaj an-Naqdu ‘Inda Ahlu al-Hadits, Hal: 80).

Wallaahu a'lam bishawab.
 
Top