Oleh: Sumiati  
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK )

Siapa bilang..
Remaja kita durhaka..
Siapa bilang..
Merosot akhlaq mereka..
Siapa bilang..
Pergaulan muda-mudi penuh noda..
Siapa bilang..
Bermalas-malasan jadi budak manja..
Siapa bilang..
Memang-memang ada yang tak berbudi..
Memang ada muda-mudi penjudi..
Memang ada pecandu ganja..
Memang ada pergaulan yang ternoda..
Namun tidak semua begitu oo..tidak semua tidak semua tidak semua...

Itulah lirik lagu Siapa bilang milik Nasida Ria yang sudah cukup lama di dengar oleh penikmat lagu-lagu qasidah tempo dulu, lagu yang menggambarkan remaja kita sejak dulu demikian, walaupun sebagai hiburan tidaklah semua demikian. Sistem kapitalis demokrasi sungguh tidak berpihak kepada seluruh manusia bukan hanya remaja, termasuk kisah pilu di bawah ini.

Kasus pembunuhan terhadap anaknya sendiri yang oleh remaja berinisial SNI (18) di dalam toilet Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Beriman pada Rabu 24 Juli sekira mendapat kritikan pedas dari masyarakat. Banyak yang mempertanyakan mengapa pelaku bisa tega membunuh dengan keji terhadap buah hatinya yang ia lahirkan.

Bayi berjenis kelamin perempuan itu tewas setelah mulutnya disumpal tisu toilet dan tali pusarnya dicabut. Setelah tewas, jasad bayi dimasukkan kedalam kantong plastik dan berencana membuangnya di luar. Aksinya pun ketahuan petugas rumah sakit saat hendak melarikan diri.

Dari keterangan SNI dihadapan awak media mengatakan bahwa perempuan asal Tenggarong ini sejatinya tak ingin hal ini terjadi. Namun lantaran belum siap menikah dan belum siap punya anak, ia pun terpaksa melakukan hal itu. Padahal sang pacar diakui SNI telah siap untuk mengarungi rumah tangga bersamanya.

"Bukannya tega, cuma belum siap untuk dinikahi gitu aja. Pasangannya mau nikah cuma aku belum mau nikah, umurku kan juga masih muda," kata SNI, Minggu (28/7/2019).

SNI menjelaskan bahwa saat itu dirinya sendiri tidak mengetahui tentang kehamilannya. Ia mengaku sulit buang air besar (BAB) dan buang air kecil pasca terjatuh dari toilet rumah. Lantaran khawatir, ia meminta urut kepada sang kakak yang tinggal dikawasan Kecamatan Balikpapan Barat. Sang kakak pun mengatakan tidak ada tanda-tanda kehamilan pada perutnya, padahal saat itu usia kehamilan SNI telah masuk delapan bulan.

"Kalau tanda-tanda melahirkan kan ada di perut, cuma kakak saya bilang enggak ada tanda-tanda, jadi saya sendiri enggak tahu kalau saya ini hamil. Kalau sebulan itu keluar darah empat hari atau tiga hari gitu jadi nggak ketahuan," ujarnya.

Setelah itu ia pergi ke RSUD Beriman yang berada di Jalan Mayjen Sutoyo, Gunung Malang, Kecamatan Balikpapan Kota. Ia pun diminta untuk mengambil sampe urin untuk diperiksa. Setelah berhasil mengeluarkan sedikit urinnya, sampel tersebut diperiksa oleh tim medis. Tak lama berselang SNI mendadak alami mules dan hendak ingin buang air besar ke toilet. Dalam toilet ruang IGD inilah rupanya SNI melahirkan.

"Saya periksa pertama itu saya disuruh tes urin, keluar sedikit aja. Pas saya keluarin (buang air kecil) yang kedua itu ngeden keluar langsung. Pas keluar itu enggak ada suaranya, jadi langsung saya gendong. Habis itu saya pangku saya tepuk sininya (bokong) enggak ada gerak juga," tuturnya.

Sungguh miris kisah SNI, inilah akibat sistem sekuler memberi ruang kebebasan kepada remaja dalam berprilaku maksiat yang mencabut fitrah manusia. Sejatinya seorang wanita yang pada umumnya, tak akan sanggup berbuat demikian, karena manusia memiliki akal berbeda dengan hewan. Padahal hewan sendiri tidak membunuh anaknya sendiri, jika manusia sampai melakukan ini, tentu lebih jahat atau lebih hina di banding hewan.

Sebagaimana Firman-Nya 

Surat Al-A’raf Ayat 179

 وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ 

 Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Sungguh negara telah gagal mendidik remaja berkarakter siap bertanggung jawab atas segala pilihannya dan melindungi mereka dari pergaulan bebas. 

Semestinya negara mampu menghilangkan berbagai sarana yang dapat menjerumuskan remaja, seperti tayangan TV yang tidak pantas, maupun akses internet di medsos. Di sana banyak celah yang bisa menjerumuskan mereka. Namun kenyataannya justru remaja diarahkan dan dibiarkan mengikuti arus liberalisasi yang diagungkan barat dan diikuti oleh remaja kita.

Bagaimana dengan sistem Islam? 
Islam adalah sistem paripurna yang melindungi remaja dari kemaksiatan dan mendidik mereka dengan karakter syakhshiyyah Islam, siap bertanggung jawab di hadapan Allaah ta'ala dalam menjalani kehidupan dunia. Islam mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan, bahkan Allaah ta'ala memerintahkan menundukkan pandangan sebagaimana Firman-Nya:

Surat An-Nur Ayat 30

 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ 

Arab-Latin: Qul lil-mu`minīna yaguḍḍụ min abṣārihim wa yaḥfaẓụ furụjahum, żālika azkā lahum, innallāha khabīrum bimā yaṣna'ụn 

Terjemah Arti:

 Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".

Wallaahu a'lam bishawab.
 
Top