Oleh : Fatmawati pensiunan guru dan pegiat dakwah


Ahad, 13 Agustus 2019, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1440 H, umat Islam sedunia insya Allah akan merayakan Hari Raya Idul Adha secara bersama-sama.

Idealnya Idul Adha adalah hari sukacita, kegembiraan. Namun sayang sebagian umat Islam sukacita itu masih terkubur oleh dukacita. Kegembiraan masih ditutupi oleh kabut kesengsaraan. Dan masih diselimuti oleh ragam penderitaan. 

Palestina, misalnya, masih terus dirundung duka. Puluhan tahun decengkram Zionis sang durjana. Rohingnya masih menderita. Terus menjadi mangsa rezim Budha yang hina. Uighur masih tersungkur. Dipenjara dan terus disiksa, oleh rezim kejam Cina. Suriah masih terluka parah. Menjadi korban kebiadaban rezim haus darah.

Di belahan bumi yang lain, termasuk di negeri ini, kaum Muslim masih tetap terpinggirkan, menjadi korban ketidakadilan. Sekaligus tumbal kebencian para pembenci Islam. Isu radikalisme terus digaungkan.

Yang makin mengiris hati, ajaran Islam masih banyak dipersoalkan. Simbol-simbolnya sering dipermasalahkan. Justru oleh mereka yang mengaku Muslim toleran. Jilbab dan busana Muslimah, fenomena artis berhijrah, isu syariah dan Khilafah, hingga pengibaran Liwa dan Rayah seolah makin membuat mereka gerah.

Disisi lain, ragam krisis terus melanda negeri ini, khususnya krisis ekonomi, kemiskinan dan angka pengangguran makin tinggi. Hutang luar negeri makin menjadi. Kasus korupsi terus menjerat. Terutama yang melibatkan para pejabat.

Karena itu dalam momen Idul Adha tahun ini, kita layak merenung sejenak. Mentafakuri pesan-pesan Nabi saw. saat khutbah Wada', sekitar 14 abad yang lalu dihadapan sekitar 140 ribu jamaah haji. Khutbah Beliau antara lain sebagai berikut:

Wahai manusia, sungguh darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian sama sucinya dengan sucinnya hari ini, negeri ini dan bulan ini... Siapa saja yang memiliki amanah, tunaikanlah amanah itu kepada orang yang berhak menerimanya. Ingatlah, semua perkara jahiliah sudah aku campakkan di bawah telapak kakiku... Urusan (pertumpahan) darah jahiliah juga sudah dihapus, sungguh riba jahiliah pun sudah dileyapkan...

Wahai manusia... Sungguh aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian suatu perkara yang amat jelas. Jika kalian berpegang padanya, kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Wahai manusia... Sungguh setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain...

Wahai manusia, ingatlah, Tuhan kalian satu. Bapak kalian juga satu. Setiap kalian berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kalian...

Ingatlah, hendaknya orang yang hadir dan menyaksikan menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir...

Demikianlah sebagian isi khutbah Baginda Nabi saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad.

Dari apa yang Baginda Nabi sampaikan di atas, selayaknya kita  renungkan dan sungguh-sungguh kita amalkan. Diantaranya:

Pertama, kita diperintahkan untuk menjaga darah, harta dan Ć¾kehormatan sesama.

Kedua, kita diperintahkan untuk memberikan amanah kepada ahlinya. Termasuk amanah kepemimpinan. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

Sungguh Allah telah memerintahkan kalian agar menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya...(TQS an-Nisa'[4]: 58).

Ketiga, kita diperintahkan agar meninggalkan semua muamalah tradisi, hukum dan sistem jahiliah. Sebab semua itu bertentangan dengan Islam (Lihat juga: QS al-Maidah[5]: 50).

Keempat, kita diingatkan untuk tidak merasa unggul dari bangsa dan umat lain. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain disisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya ( Lihat pula: QS al-Hajurat [49]: 13).

Kelima, kita diharuskan untuk senantiasa memelihara tali petsaudaraan dengan sesama kaum Muslim. 

Namun sayang, hari ini tali persaudaraan  Islam seolah lenyap. Asal berbeda mazhab, bisa saling bertindak tak beradab. Beda paham bisa saling melemperkan tudingan. Beda organisasi, bisa saling mem-bully. Bahkan tega memperkusi. Beda kepentingan , bisa saling menggunting dalam lipatan. Asal teriak "Saya Pancasila", bisa seenaknya menista pihak yang berbeda.

Keenam, kita juga seharusnya selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Diantara nasihat yang paling utama adalah basihat yang ditujukan kepada penguasa. Agar mereka tidak terus melakukan kezaliman.

Karena itu tugas kitalah, segenap komponen umat Islam, apalagi para ulama dan para da'inya, untuk terus mendorong penguasa agar memerintah dengan al-Quran.

Ketujuh, kita diwajibkan untuk selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Nabi saw. telah menjamin. Siapapun yang istiqamah berpegang teguh pada keduanya, tak akan pernah tersesat selama-lamanya.

Namun sayang, apa yang dipesankan Nabi saw. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh kita hari ini. Kecuali sebatas bacaan saja. 

Disisi lain, syariah Islam seolah haram untuk diterapkan. Institusi penerap syariah, yakni Khilafah, juga terlarang diperjuangkan. Bahkan tak boleh meski sekedar diwacanakan. Para aktivisnya mereka kriminalisasikan. Organisasinya mereka bubarkan. Dengan tuduhan yang diada-adakan. Padahal jelas, Khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam, yang harus diperjuangkan  dan wajib untuk ditegakkan.

Wallah a'lam bi ash-shawab
 
Top