Oleh : Aubi Atmarini Aiza
 Member Akademi Menulis Kreatif

Duka muslim di seluruh dunia adalah duka kita pula. Seolah duka ditimpa duka, di negeri ini yang makmur, namun rakyatnya hidup dengan penuh penderitaan. Setiap hari dirundung kekhawatiran tanpa jeda. Ekonomi membelit sampai ke akar-akanya, hingga kerusakan mental tak tanggung-tanggung menyergap. Dalam dunia kapitalis ini, kita saksikan betapa kesenjangan begitu pesat. Ada negara yang sangat maju, sampai-sampai mengalami surplus ekonomi namun di lain sisi banyak sekali negara yang masih terjajah fisik dan ekonominya. Ketika diusut, negara maju tersebut telah berdiri di atas darah-darah kaum lemah. Berdiri di atas mayat-mayat mereka yang dibombardir, dengan kejahatan di balik organisasi dunia.

Dilansir oleh Republika.com (25/06/2019) Pembakaran desa-desa Rohingya masih terus dilakukan Myanmar, yang terungkap dari analisis citra satelit. Kondisi ini menyebabkan keraguan lebih dalam atas kesiapan Myanmar menerima kembali warga Rohingya. Saat ini sekitar 700 ribu warga Rohingya berada di kamp-kamp pengungsian Cox’s Bazar, Bangladesh. Mereka melarikan diri dari Rakhine akibat kekerasan militer Myanmar di Negara Bagian Rakhine pada Agustus 2017. PBB menyebutnya sebagai aksi genosida.

Pembantaian di Rohingya telah lama lenyap dalam time line pemberitaan, namun kembali muncul dengan kembali menyesakkan dada. Apa kabar mereka? Mereka kini tengah berada di kamp-kamp pengungsian Bangladesh. Nasib mereka masih digantung, nyawa-nyawa yang telah terbunuh nyatanya belum cukup menjadi bukti bahwa umat muslim adalah korban, bukan teroris. Rumah-rumah mereka nyatanya tak cukup menjadi bukti, betapa muslim adalah umat yang terampas hartanya.

Nasib mereka masih saja dipermainkan di atas meja bundar internasional. Tubuh-tubuh kurus mereka masih saja dipertimbangkan untuk sebuah pembelaan. Sebuah laporan dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI) yang dilansir Guardian, Rabu (24/7), mengungkapkan bahwa pembakaran desa-desa Rohingya di Rakhine berlanjut hingga tahun ini. Sekitar 58 permukiman Rohingya menjadi target penghancuran pada 2018. Berdasarkan 'citra satelit', pembakaran dan penghancuran desa-desa Rohingya juga terjadi pada 2019. "Hal paling mengejutkan saya adalah skalanya," kata Nathan Ruser, salah seorang penulis laporan yang dirilis oleh ASPI. Tidak hanya desa atau rumah tertentu yang dibakar pada 2018 dan 2019.

Kita sudah melihat keberpihakan PBB dan negara-negara barat bahwa mereka tengah berkoalisi dengan para musuh Islam. Secara kasat mata mereka berusaha untuk membela atau menyelesaikan persoalan yang terjadi di negeri-negeri muslim, namun sebenarnya mereka hanya menampung laporan-laporan tersebut, kemudian memberikan harapan-harapan kosong dengan bantuan-bantuan materi, tapi pada dasarnya mereka tidak ada niatan membela, bahkan tersenyum dibalik hipokrit kapitalisme, ketika melihat muslim benar-benar diinjak dibawah kaki para negara adidaya.

Sistem kapitalis jelas hanya untuk menyejahterahkan segelintir orang, sehingga kesenjangan begitu pesat. Kapitalisme sejatinya hanya memberi kebebasan bukan untuk semua, namun hanya segelintir orang. Tidak untuk kaum lemah, namun untuk kaum-kaum yang memiliki materi terbanyak di seluruh dunia. Penindasan tidak akan berhenti ketika umat Islam masih dalam kungkungan sistem kapitalis, kecuali kembali kepada sistem Islam yang sudah terbukti nyata, membela harga diri seluruh kaum muslim di seluruh dunia. Sistem Islam ini, terangkum dalam negara yang bernama khilafah. Negara yang 95 tahun silam terkubur dalam sejarah. Padahal kehebatannya mampu menguasai 3 1/4 bagian dunia, kekuatan militer, ilmu pengetahuan, spiritual, arsitektur, kedokteran dan pemerintahan, bahkan ekonominya sangat maju, sehingga tidak ada rakyat miskin yang layak menerima zakat.

Bukti bahwa negara khilafah menyejahterakan umat dan peduli pada negeri lainnya. Dan negara-negara Eropa, adalah negara yang paling berhutang pada khilafah. Will Durant seorang sejarawan barat. Dalam buku yang dia tulis bersama istrinya Ariel Durant, Story of Civilization mengatakan, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia yang menjabat dari tahun 1997 sampai 2011. Dia juga seorang anggota Delegasi Gereja Katolik Episkopal untuk Forum Irlandia Baru pada 1984 dan anggota delegasi Gereja Katolik ke North Commission on Contentious Parades pada 1996. Dalam pernyataan persnya terkait musibah kelaparan di Irlandia pada tahun 1847 (The Great Famine), yang membuat 1 juta penduduknya meninggal dunia. Terkait bantuan itu, Mary McAleese berkata:

“Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini. Selain itu, kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita.”

Begitulah khilafah memberikan harta mereka untuk membantu negara lain yang sedang kesulitan. Bukan menindas atau memainkannya di atas meja organisasi internasional, apa lagi mengambil keuntungan darinya. Islam membawa kemaslahatan bagi semuanya, karena sejarah telah menjadi bukti betapa Islam menjadi rahmatan lil alamin. Maka dari itu, sudah selayaknya kita perjuangkan Islam Kaffah dan menerapkan khilafah, demi kemaslahatan umat di seluruh dunia. Agar tidak ada duka yang ditimpa duka, melainkan duka yang dibalut dengan penyelesaian dengan landasan syariat, yang langsung dari Allah Swt, Tuhan pencipta semesta alam. Dan pastinya, segala aturan yang berasal dari sang pencipta adalah yang terbaik untuk seluruh alam semesta, kehidupan, dan sesuai dengan fitrah manusia.
Wallahu a'lam bishshowab
 
Top