Penulis : Dede Ummu Lulu
Ibu Rumah Tangga

Kebijakan di Indonesia terhadap rakyatnya dari hari ke hari semakin aneh dan jika pikir secara logika kadang banyak tidak masuk akal sekaligus menjengkelkan bagi yang masih berfikir waras.

Saat semua negara di dunia menghadapi ancaman kekurangan pangan, dan negara-negara maju mendukung para ahli pertanian untuk pengembangan bibit unggul demi mendukung swasembada pangan, di negeri ini sang penemu di persekusi. Sungguh ironis!

Munirwan seorang kepala desa di daerah Aceh yang telah berhasil mengembangkan padi bibit unggul yang dinamakan IF8 harus ditahan polisi hanya karena benih yang di jualnya tidak berlabel dan belum bersertifikasi. 

Padahal Munirwan berhasil mengembangkan padi dari bantuan Gubernur Irwandi Yusuf beberapa waktu lalu. Atas Inovasi ini Gampong (Desa) Meunasah Rayeuk juga mendapat juara II Nasional Inovasi Desa yang diserahkan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo.

Inovasi tersebut kemudian dikelola melalui Badan Usaha Milik Gampong. Bibit bahkan sudah menjual bibit itu hingga keempat kecamatan karena keunggulannya.

Harusnya Inovasi yang di kembangkan Munirman ini tidak harus berurusan dengan hukum. Apa yang sudah dia kembangkan justru memiliki mamfaat yang luar biasa untuk ketahanan pangan Indonesia di masa depan. 

Penemuan Munirman harusnya diapresiasi, di rangkul pemerintah agar bisa bersama-sama memajukan ketahanan pangan Indonesia. Apalagi jika menilik permasalahan Indonesia di bidang ketahanan pangan yang memiliki ketergantungan pada negara tetangga. Hingga ketika mengalami kelangkaan di bidang pangan solusinya lagi-lagi impor.

Jika negara sudah memiliki ketergantungan pangan pada impor, maka otomatis  akan mengancam pertahanan negara. 

Jadi tidak mungkin, keluar dari ketergantungan itu semudah membalikkan telapak tangan. Sebaliknya, Dwi justru beranggapan Indonesia sudah masuk dalam perangkap impor. Dikutip dari bisnis.com

Jadi siapa yang diuntungkan ketika negara harus terus tergantung pada impor? Rakyat, jelas bukan. Hanya pihak-pihak tertentu yang meraup keuntungan dari hasil impor.

Beginilah jika negara dalam cengkeraman korporasi, rakyat tidak boleh berkembang, apalagi melakukan inovasi-inovasi yang memiliki peran penting untuk kemajuan bangsa. Karena negeri ini kadung cinta pada sesuatu yang berbau impor. 

Kebutuhan pangan impor, gaya hidup impor, pikiran impor, guru impor sampai rektor harus impor. Karena yang berbau impor sangat-sangat menguntungkan. Seakan rakyat di negeri ini sudah bodoh semuanya.

Dalam sistem sistem Demokrasi Liberal yang kebijakannya selalu berubah-ubah karena tekanan Korporasi, untuk menjadi negara yang maju yang bisa melahirkan para ilmuwan yang mampu menemukan inovasi-inovasi dalam segala bidang, itu sulit, karena selalu di hadang oleh mafia kartel sepertinya dalam bidang pangan. Bagi mafia kartel, jika tidak menguntungkan dirinya, maka inovasi-inovasi itu harus dihentikan.

Sedangkan islam sangat menghargai penemuan-penemuan yang dilakukan oleh para ilmuwan, memberi dukungan dan penghargaan, bahkan juga gaji yang besar terhadap mereka. 

Kemajuan dunia pertanian di masa keemasan islam sangat luar biasa, karena negara ikut mensupport para ilmuwan muslim dalam mengembangkan inovasi-inovasi terbaru. Sehingga hasil sumbangsih mereka di bidang pertanian membuat panen melimpah ruah pada masa itu. 

Selain itu para ilmuwan di bidang pertanian sudah mampu menemukan mana tanah yang cocok untuk ditanami dan mana yang tidak. Dan mereka juga bisa membuat pupuk dan menentukan komposisinya.

Hal pertama yang perlu diketahui mengenai pertanian adalah lahan pertanian itu. Apakah lahan tersebut baik atau tidak untuk ditanami, dan juga  mempelajari sistem pengairan.

Maka jika negri ini ingin menjadi negara yang mampu menuju swasembada pangan di era global ini, negara harus belajar pada masa keemasan islam. 

Dengan terus mendorong, memfasilitasi serta membiayai para ahli pertanian untuk terus mengembangkan inovasi mereka, baik di bidang teknologi, pengembangan bibit unggul, sistem irigasi, dan berhenti dari penggunaan pupuk kimia yang merusak unsur hara tanah dengan beralih kepupuk organik.

Dan tentunya untuk mewujudkan itu semua,  kita membutuhkan pemimpin yang mampu meri'ayah umatnya, bukan pemimpin yang berpikir untung rugi akhirnya terjebak pada jeratan impor, yang akan merugikan negara sendiri di kemudian hari akibat dari kemalasan berpikir para pemimpin, dan ketamakan mereka pada keuntungan sesaat, dengan mematikan kreativitas anak bangsanya sendiri
Wallahu’alam Bi Shawwab.
 
Top