Penulis : Hamsina Halisi Alfatih

Tak terlintas sedikitpun mengapa saya memilih  untuk  menjadi penulis. Tetapi kenyataannya saya mampu menghasilkan goresan pena di beberapa media. Awal ketertarikan sy saat itu ketika melihat tulisan teman-teman yang sering wara wiri di timeline beranda fb. Dari situ saya merasa tertantang ingin dan agar bisa seperti mereka. Menghasilkan karya lewat tulisan, dan tujuan satu yaitu berdakwah lewat tulisan. Dan hal itu saya memulainya dengan mengikuti beberapa kelas menulis.

Sayangnya, setiap mengikuti kelas literasi selalunya gak istiqomah hehe. Dan bahkan ketika dimasukan dalam tim penulis mahalipun sampai berbulan-bulan gak ada satu tulisanpun yg saya mampu setor. Terkadang hal ini membuat saya seprti tercabik-cabik, kenapa teman-teman bisa lalu saya tidak bisa. Hingga saya berfikir apakah seorang aktivis dakwah hanya mampu berkoar-koar lewat lisannya dalam berdakwah namun tak mampu menggoreskan aksara?. Tantangan itu kembali datang ketika saya tergabung dalam sebuah komunitas dimana salah satu tujuan dakwahnya disitu ialah berdakwah lewat udara yaitu media. Disini kami di suport agar setiap minggunya melakukan propaganda lewat tulisan.

Semenjak saat itulah, saya mulai menulis dan menjadikannya sebagai kebiasaan yang menyenangkan. Sebab seorang aktivis dakwah tak hanya mampu mengubah peradaban hanya lewat lisannya saja tetapi paling utama ialah dengan tulisan. Teringat perkataan Sayyid Qurtubi " Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu tulisan mampu menembus jutaan kepala". Dan bagaimana ketika seorang Ustadz Felix merangkai kata perkata lewat tulisan yang mampu mengajak pembaca untuk berfikir. Maka dengan menulis kita mampu mengukir sebuah perubahan, dengan menulis pula kita mampu membungkam kekuatan retorika. Karena itu dibutuhkan semangat yang tinggi serta dukungan dari diri sendiri agar tetap istiqomah.

Semenjak memilih menjadi penulis, hal yang paling tidak bisa saya lewatkan adalah membaca. Disini yang saya maksudkan ialah bukan buku yang biasa orang-orang jadikan sebagai bahan untuk menulis. Tetapi saya lebih tertarik membaca artikel terkait tulisan apa yg ingin saya buat. Meskipun dalam dunia kepenulisan, seorang penulis wajibnya membaca buku minimal 2 buku perhari (koreksi jika saya salah). Tetapi tingkatan seseorang dalam memahami sebuah perkara yang akan dimuat dalam sebuah tulisan itu berbeda-beda. Begitu halnya diri saya sendiri, tingkatan untuk membaca buku kurang tetapi saya perkuat dengan membaca artikel.

Setiap penulis punya gaya tersendiri dalam mengakselerasikan tulisannya baik dari segi bahasa maupun tingkatan dalam menganalisis fakta. Begitu halnya ketika berdakwah dengan lisan, setiap orang punya cara tersendiri agar bagaimana orang yang kita dakwahi itu bisa menerima apa yang kita sampaikan. Sebagaimana ketika seseorang mempunyai bakat seprti memasak, olahraga ataupun aktivitas yang disenanginya. Maka ia akan melakukannya sesuai dengan caranya sendiri agar hobinya itu dilakukan setiap saat. Karenanya dalam dunia kepenulisan tak hanya dibutuhkan niat yang kuat tetapi tujuan dari niat itu sendiri agar kita mampu istiqomah menjalankannya. Dan mampu membuktikan bahwa goresan tinta peradaban ini adalah tujuan kita untuk mengembalikan kejayaan islam.

Tulisan adalah dakwah, dan dari sepenggal coretan sebuah perubahan bisa terukir. 
Tulisan adalah kekuatan jiwa penulis, dari sebuah coretan mampu membakar semangat juang untuk mengubah peradaban. Sebuah perubahan bisa terjadi melalui sebuah tulisan, dan sebuah peradaban bisa terwujud jika seorang penulis istiqomah dalam tulisannya. Hal ini yang membuat saya semakin semangat untuk menulis, meskipun apa yang saya sajikan dalam tulisan tersebut masih dibilang seperti tulisan "kaleng-kaleng" hehe. Ada satu perkataan seorang saudari seperjuangan saya bahwa " Cara terbaik untuk membalas dendam terhadap runtuhnya peradaban islam ialah dengan Berkomitmen menyibak tabir peradaban islam dengan TULISAN berenergi dahsyat". Jadi mulailah menulis,menggoreskan tinta-tinta peradaban islam demi tegaknya kejayaan islam.
Kendari, 10 juli 2019
 
Top