Oleh: Yuli Mariyam
(IRT, Member Akademi Menulis Kreatif)


Umat Islam saat ini mulai merasakan bahwa demokrasi tidak dapat dijadikan kendaraan menuju perubahan yang hakiki. Terbukti dengan adanya rekonsiliasi antara kubu 01 dan 02 yang menjadi trending media beberapa waktu ini.

Pengkhianatan atas hati nurani umat yang menginginkan perubahan hidup di atas ratusan nyawa yang melayang dicederai saat upaya mendapatkan keadilan ke Mahkamah Konstitusi masih dilakukan. Ini merupakan bukti bahwa tidak ada kawan atau lawan yang sejati, yang ada hanya kepentingan sejati. 

Dilansir oleh REPUBLIKA.CO.ID, pada tanggal 13 Juli 2019, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, pertemuan Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto wajib disyukuri. Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo hari ini terjadi di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus Jakarta.

Juga dilansir oleh TEMPO.CO, pada tanggal 13 Juli 2019, Sejumlah aktivis hak asasi manusia menilai pertemuan Joko Widodo (Jokowi) dengan rival politiknya Prabowo Subianto di Stasiun Moda Raya Transportasi Lebak Bulus Jakarta, bukan rekonsiliasi, melainkan negosiasi.

Kubu yang sebelum pemilu saling menjatuhkan satu sama lain dengan segala statemennya kini duduk manis berdua seakan menyusun rencana bagaimana menikmati hidangan kekuasaan yang akan dijalankan 5 tahun mendatang. Lantas dimana suara umat Islam yang selama ini berharap atas nama keadilan? 

Umat Islam yang mayoritas di negeri ini hanyalah alat mendulang suara, setelah mereka duduk di singgahsananya maka umat menjadi bulan-bulanan kembali, tak ada yang bersuara ketika pengajian-pengajian yang mengajak kepada perbaikan akhlak di persekusi, bahkan terorisme masih saja dikaitkan dengan Islam. Demokrasi sistemnya para penghianat.

Saatnya umat membuka mata dan menjalankan titah Rasulullah Saw untuk berdakwah dan mengajak umat kembali kepada fitrah manusia sebagai seorang hamba untuk senantiasa tunduk dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya agar senantiasa hadir kerinduan akan tegaknya Daulah Khilafah yang menjadi junnah (perisai) bagi umat. Dimana setiap harta dan nyawa akan dilindungi, hak-hak warga negara baik muslim maupun non muslim adalah sama dihadapan negara dan yang terpenting adalah aturan yang dipakai bukan lagi aturan buatan manusia namun dari yang menciptakan manusia.

Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Surat an-Nur ayat 55 yang artinya:

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar merubah keadaan mereka, setelah berada di dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik."


Dengan demikian fokus pada dakwah lil isti'na fil hayati Islam adalah jalan satu-satunya meraih kemenangan.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top