Oleh : Fatmawati 
Pensiunan Guru dan Pegiat Dakwah


Sesungguhnya pergolakan antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung sampai Hari Kiamat. Pergolakan itu akan terus ada selama pengikut kebatilan masih ada, yakni mereka yang mengikuti bujuk rayu dan jalan iblis.

Allah SWT berfirman (yang artinya):
Iblis berkata, "Tuhanku, karena Engkau telah memutus aku sesat,   pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya."
(TQS al-Hijir [15]: 39).

Sejak saat itu, para pengikut iblis terus memerangi kebenaran, sebagaimana iblis, hingga Hari Kiamat.

Allah SWT juga menjadikan untuk tiap-tiap nabi musuh dari para pendosa (QS al-Furqan [25]: 31) dari golongan jin dan manusia. Allah SWT betfirman:

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin (TQS al-An"am [6]: 113).

Itu artinya, akan selalu ada orang yang memusuhi risalah yang dibawa oleh setiap nabi.
Demikian juga terkait Nabi Muhammad saw. dan risalah yang beliau bawa.

Sebenarnya, sikap membenci Islam (islamophobia) banyak muncul dari kaum kafir. Kebencian dan permusuhan yang tersimpan di dada mereka itu membuat mereka bersikap nyinyir terhadap berbagai ajaran Islam seperti penerapan syariah secara kaffah dan khilafah.

Mereka gerah menyaksikan geliat semangat hijrah menuju Islam diberbagai kalangan, khususnya dikalangan selebriti. Pasalnya pengaruh hijrah para selebriti itu bisa saja memicu semangat yang sama secara lebih luas dan massif ditengah kaum Muslim, khususnya dikalangan para pemuda.

Islamophobia itu membuat mereka memusuhi apa saja yang mereka nilai menjadi bagian dari ekspresi keislaman atau manifestasi (perwujudan) Islam. Mereka pun berusaha keras untuk menanamkan islamophobia pada orang lain, terutama pada kaum Muslim.

Tentu sikam islamophobia ini tidak selayaknya muncul dari seorang Muslim. Pasalnya, sikap islamophobia hakikatnya adalah kebencian terhadap Islam berikut ajaran  dan syiar-syiarnya.

Patutkah seorang Muslim memperlakukan secara buruk Muslim lainnya, termasuk para pemuda Islam, yang mengibarkan panji bertuliskan kalimat tauhid, Panji ar-Rayah dan al-Liwa, yang notabene Panji Rasulullah saw.?

Keimanan yang bersemayam dalam diri seorang Muslim sejatinya melahirkan taqwa. Baik secara lahir maupun batin. Secara lahir antara lain tampak dari sikapnya mengagungkan syiar-syiar Islam. Allah SWT berfirman:

Demikianlah (perntah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan kalbu (TQS al-Hajj [22]: 32).

Imam an-Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya, Syarh Sulman at-Tawfiq menjelaskan ayat tersebut, bahwa diantara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar-syiar agama-Nya.

Begitulah seharusnya sikap seorang Muslim. Mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar dan ajaran Islam, juga simbol dan berbagai  ekspresi keislaman sebagai cerminan ketakwaan dan kecintaan pada Islam yang selalu terkandung dalam hati.

Sebaliknya, seorang Muslim harus menjauhi sikap-sikap islamophobia,  yakni membenci Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kaum kafir.

Sikap mencemooh hijab, mencurigai semangat hijrah yang sedang merebak, alergi terhadap khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam, meradang bahkan mengkriminalisasi Panji Rasulullah saw. ar-Rayah dan al-Liwa saat dikibarkan, dan sikap-sikap islamophobia lainnya.

Sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan oleh seluruh umat Islam adalah memenuhi perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

 Ini adalah perintah dari Allah kepada semua orang Mukmin untuk mengambil dan mengamalkan seluruh ajaran Islam  dan syariahnya, termasuk mengagungkan syiar-syiarnya. Maka setiap Mukmin harus mencintai Islam sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah SWT yang dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya, yakni Rasul saw.:

Katakanlah, "Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (TQS Ali Imran [3]: 31).

Maka, untuk menunjukkan kecintaannya pada Islam, setiap individu Muslim harus mengamalkan syariah Rasul Muhammad saw. secara menyeluruh di tengah kehidupan ini.

Wallah a'lam bi ash-shawab
 
Top