Oleh: Novi Ismatul Maula, S.Pd
(Pemerhati sosial)

Euforia lebaran masih terasa. Suasana yang sangat indah. Bisa berkumpul bersama keluarga. Bertemu sanak saudara, Bersilaturahmi ke teman lama.

Lebaran adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu setelah berpuasa satu bulan lamanya. Karena disaat lebaran Lebih mudah untuk berjumpa dengan orang-orang yang jarang kita jumpai. baik karena jarak yang jauh, atau karena kesibukan masing-masing. Memang lebaran itu mampu merekatkan tali persaudaraan. Bertemu orang tua, kakak, adik, nenek Kakek, Om, Tante, dll.

Jauh-jauh hari sebelum lebaran pun banyak yang harus dipersiapkan. Mulai dari membeli baju untuk keluarga. Membuat atau membeli kue-kue lebaran. Memesan tiket mudik, bahkan mulai dari 3 bulan sebelumnya. Tak sedikit yang mempersiapkan uang-uang yang akan di bagikan ke sanak saudara. 

Untuk pulang ke kampung halaman Mereka mempersiapkan  persiapan yang terbaik dan matang. Memang Kampung halaman itu sebaik-baiknya tempat pulang bagi perantauan. 

Bagi manusia, hidup di dunia itu bagaikan perantauan. Yang sewaktu-waktu memang harus kembali ke asalnya, yakni akhirat. Karena akhirat adalah pelabuhan terakhir baginya. Setiap jiwa akan mengalami kematian. Sebagaimana firman Allah 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” [QS. Ali Imran: 185) dari ayat diatas menjelaskan bahwa setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti. 

Sebagimana dalam QS. Al-Hijr ayat 5 yang artinya ”Tidak ada satu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula mengundurkannya.”

Sebaik-baiknya mukmin mempersiapkan bekal untuk pulang ke kampung halaman yang sesungguhnya yakni akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata:
“Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ, lalu seorang Anshor mendatangi beliau. Ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau ﷺ bersabda: “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau ﷺ bersabda: “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas.” [HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani]

Namun seringkali manusia terjebak oleh kemegahan dunia. Seperti pasangan, anak, harta dan tahta. 
Anak yang lucu-lucu, pandai, membanggakan menjadi pelipur lara. 

Harta yang melimpah, dengan segala fasilitas ia bisa nikmati, mulai dari tempat tinggal,  kendaraan, memiliki lahan luas, baju mewah. Memiliki tahta yang tinggi dihadapan manusia. Menjadi orang yang di hormati dan disegani. 

Namun mereka lupa bahwa semua itu bukan miliknya. Allah hanya menitipkannya dan manusia diberi tugas untuk menjaganya. Sudah barang tentu segala titipan akan kembali ke pemiliknya. Kapanpun Allah berhak mengambilnya. Suami, istri, anak, orangtua, saudara, teman dekat pasti akan berpisah. 

Harta sewaktu-waktu Allah bisa mengambilnya. Tahta, sewaktu-waktu Allah bisa mencabutnya. Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Apakah dengan semua titipan itu di jaga sesuai dengan keinginan pemilikNya? Atau justru mengundang murkaNya? 
Semua itu akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.  Sebagai perantauan, yang sewaktu-waktu akan pulang ke tempat asal. Dan berharap bisa pulang ke kampung halaman terbaik, yakni surganya Allah SWT. Itulah sebaik-baiknya tempat pulang yang kekal dan abadi. Tidak ada kegaduhan didalamnya, tidak ada perpisahan, tidak ada kesedihan, tidak ada ujian, yang ada hanya kesenangan. 

Mari kita perbanyak amal kita sebagai tabungan untuk pulang ke kampung akhirat. Mempersiapkan dengan sebaik-baiknya bekal. Semakin tingkat kan ketakwaan kita kepada Allah, menjalankan seluruh syari'atNya, sgar Allah mudahkan jasad ini masuk kedalam surganya, tanpa hisab dan tanpa siksa kubur. 
 
Top