Oleh : Silvia Meirani, SE
(Ibu Ideologis)

Hari raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa.

Idul Fitri sendiri adalah hari raya yang banyak dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahun umat Islam di seluruh dunia berkumpul bersama keluarga sebagai ajang silahukhuwah, secara bersamaan merayakan Idul Fitri sebagai hari yang suci. Perayaan ini menjadi tanda berakhirnya puasa Ramadan yang dijalani sebulan penuh.

Namun sayangnya masyarakat malah mengisi hari-hari terakhir Ramadhan dengan aktivitas-aktivitas yang sia-sia bahkan tidak bernilai ibadah sama sekali. 

Tradisi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, ada kebiasaan menarik di kalangan masyarakat di negeri ini. Dimana tingkat konsumsi masyarakat biasanya meningkat secara signifikan. Jika di awal Ramadhan masyarakat berprilaku konsumtif atas kebutuhan pokok (sembako) dan makanan-makanan tertentu penunjang Ramadhan. Sedangkan menjelang idul fitri lebih banyak lagi keperluan-keperluan yang dibelanjakan selain kebutuhan pokok (sembako), masyarakat berlomba memborong kebutuhan pelengkap seperti kue-kue dan aksesorisnya, pakaian dan aksesorisnya, barang-barang elektronik, hingga kendaraan bermotor. Bahkan kegiatan mempercantik hunian pun tak khayal menjadi kegiatan pokok menjelang Idul Fitri. 

Bahkan bagi sebagian masyarakat , seolah tak masalah jika harus merogoh kantong dalam-dalam demi memuaskan perilaku konsumtif jelang Idul Fitri. Hal tersebut demi memenuhi kebutuhan hasrat duniawi semata. Tak heran jika bagi kalangan produsen, saat-saat menjelang lebaran adalah masa-masa panen keuntungan, karena volume penjualan barang yang mereka produksi atau yang mereka jual, biasanya meningkat berkali-kali lipat. 

Inilah yang harus kita ketahui bahwa ketika ibadah semuanya menggunakan aturan Allah sementara ketika diluar ibadah kita mengunakan aturan manusia. Aturan inilah yang merusak makna ibadah. Maka sudah jelas aturan ini harusnya kita tinggalkan karena aturan ini bukan berasal dari Islam. Aturan ini dinamakan aturan Sekulerisme.

Sudah seharusnya kita menjadikan Ramadhan sebagai bulan pencucian diri dari kemaksiatan hingga setelah Ramadhan kita semakin taat pada perintah Allah dan taat untuk menjauhi segala larangan Allah.
Keberhasilan meraih keutamaan di bulan Ramadhan setidaknya meliputi :

1. Keberhasilan meraih ampunan Allah. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda : "Sungguh rugi, seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu dari dirinya sebelum dosa-dosanya diampuni".

2. Keberhasilan meraih kebaikan lailatul qadar. Rasulullah Saw bersabda : "Sungguh bulan Ramadhan telah datang kepada kalian. Didalamnya ada satu malam yang  lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang tidak mendapatkan (kebaikannya) maka dia tidak mendapat kebaikan seluruhnya. Tidak ada yang terhalang dari kebaikan lailatul qadar kecuali orang yang bernasib buruk."        (HR. Ibnu Majah).

Agar keutamaan Ramadhan bisa diraih, tentu harus ada upaya untuk meningglkannya segala perkara yang haram ataupun sia-sia. Rasulullah Saw bersabda : "Puasa itu perisai, karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika seseorang yang menyerang dan mencaci, katakanlah : Sungguh aku sedang berpuasa sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya, bau mulut orang yang berpuasa lebih baik disisi Allah ketimbang wangi kesturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi diri-Ku. Puasa itu milik-Ku. Akulah yang akan membalasnya. Kebaikan(selama bulan puasa) dilipatkangandakan sepuluh kali dari yang semisalnya". (HR. Bukhari).

3. Keberhasilan meraih secara maksimal keutamaan pahala amal shalih yang dilipatgandakan selama bulan Ramadhan, seperti yang Allah SWT janjikan.

Karena itu amalan-amalan fardhu tentu harus diprioritaskan sebelum amalan-amalan sunnah. Ibn Hajar al-Ashqalani menyatakan dalam kitab Fatha al-Bari, sebagian ulama besar mengatakan : "Siapa saja yang fardhunya lebih menyibukkan dia dari nafilahnya maka dia akan dimaafkan. Sebaliknya siapa saja yang nafiahnya menyibukkan dia dari amalan fardhunya maka dia telah tertipu."

4. Keberhasilan meraih hikmah puasa, yaitu mewujudkan ketaqwaan, sebagaimana firman Allah Swt : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas orang-oang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa." (QS.Al Baqarah : 183)

Taqwa menurut syaikh Abu Bakar Jabi al-jazairi, memaknai taqwa adalah mempersiapkan diri untuk melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh laranganNya (Al-Jazairi, Aysar at Tafsir, I/80).

Maka taqwa mewujudkan setiap diri seorang muslim  dengan senantiasa memunculkan rasa takut kepada Allah SWT, haruslah membuat orang meyakini seyakin-yakinnya bahwa ia harus beraktivitas, menjalani hidup dan mengatur kehiduan sesuai dengan aturan dan hukum yang Allah Ridhoi. Menjauhi aturan dan hukum manapun yang datang selain Allah. Rasa takut kepada Allah SWT juga haruslah membuat orang merealisasikan al- ´amal bi at-tanzil yaitu mengamalkan seluruh isi ala Qur´an atau menerapkan semua syariah Islam.

Dengan kata lain al-´amal bi at-tanzil bermakna melaksanakan dan menerapkan syariah Islam secara kaffah atau secara keseluruhan tanpa pilih-pilih mana yang mau di ambil misalnya mau puasa tapi tak mau tinggalkan riba, mau sholat tapi tak mau hukum sanksi dengan Islam, mau akai kerudung tapi tak mau berpolitik dengan Islam, kita pilih-pilih hukum semau kita saja. Selain itu tidak pilih-pilih waktu, saat Ramadhan masya Allah semua berubah Islami tapi setelah selesai Ramadhan kembali seperti semula seolah-olah setelah Ramadhan kemaksiatan boleh dilakukan 
Wallaahu a’lam bisshawwab
 
Top