Oleh : Risnawati 
(Penulis Buku Kalah Sama Mualaff)

Dua hari setelah menjadi mualaf, banyak hal yang dirasakan oleh Deddy Corbuzier. Bukan hanya mulai mempelajari beribadah secara Islam, Deddy Corbuzier juga mulai merasakan persaudaraan antar sesama Muslim.

Melalui fitur Instagram Stories, Deddy Corbuzier mengaku mendapatkan banyak doa dan dukungan atas keputusannya berpindah keyakinan menjadi seorang mualaf.

"Masya Allah buat semua dukungannya semua saudara saudara gua satu Indonesia. Saya kaget banget karena dukungan yang diberikan ke saya luar biasa banget," kata Deddy Corbuzier.

Perhatian dan doa, sambung Deddy Corbuzier, bukan saja didapatnya dari masyarakat. Ia merespons dengan baik dukungan tokoh dan ulama Islam untuk istikamah sebagai muslim yang taat.
"Alhamdulillah mendapat perhatian yang luar biasa dari semua teman-teman, dari fans, kiai-kiai, ustaz-ustaz," kata Deddy Corbuzier.

Deddy Corbuzier tak henti-hentinya mengucap syukur atas apa yang sudah dialaminya sejak mengucap syahadat--yang merupakan syarat atau rukun memeluk agama Islam--pada 21 Juni 2019 lalu.
"Pokoknya semuanya gua mengucapkan syukur yang luar biasa terima kasih banyak, enggak bisa ngucapin apa-apa lagi, enggak bisa ngomong apa-apa lagi, kecuali senang, semuanya campur aduk jadi satu," dia menguraikan.

Apa Itu Keimanan ?
Terdapat perbedaan mencolok antara muslim dan mukmin, atau Islam dan Iman. Iman adalah perkataan dan perbuatan (amal): Perkataan adalah perkataan hati dan lisan, sedangkan amal adalah amalan hati dan anggota badan. Sementara makna Islam, maksudnya berserah diri, tunduk dan patuh kepada ketetapan-Nya. Allah SWT berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. . .” (QS. Al-Hujurat: 14)

Karena itu para ulama menafsirkan Iman sebagai amal batin, sedangkan Islam sebagai amal zhahir. Karena iman pada dasarnya adalah pembenaran dangan hati terhadap apa yang diyakini dan dipercaya. Sementara asal makna Islam adalah ketundukan dan kepatuhan yang menuntut kerja dengan anggota badan.

Maka seorang muslim adalah orang yang tunduk menyerah kepada perintah Allah dan mematuhi-Nya. Dia akan tunduk dan mentaati Allah dengan suka rela atau terpaksa tanpa membeda-bedakan satu perintah dengan perintah yang lain. Apabila Allah memerintahkan satu perintah, maka dia segera melaksanakannya. Dan apabila melarang sesuatu dalam Islam, maka dia meninggalkan dan menjauhinya. Dia meyakini bahwa perintah Allah hanya berisi maslahat semata, sedangkan yang dilarang-Nya hanya berisi mafsadat (kerusakan). Maka kapan saja dia mendengar ada ketaatan kepada Allah dalam satu masalah, segera dia melaksanakannya karena cinta kepada perintah tersebut, sangat agresif dan penuh semangat, seolah-olah dia sendiri yang menghendaki tanpa ada paksaan. Seperti inilah seharusnya seorang muslim. Maka, seorang muslim adalah orang yang tunduk menyerah kepada perintah Allah dan mematuhi-Nya. Dia akan tunduk dan mentaati Allah dengan suka rela atau terpaksa tanpa membeda-bedakan satu perintah dengan perintah yang lain. 

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyebutkan bahwa Keimanan itu adalah perkara yang terpisah dalam diri manusia, artinya andai Iman itu adalah bagian yang menyatu bagi manusia maka semua manusia pasti akan sama, menjadi Insan yang Beriman. Faktanya kita jumpai bahwa ada manusia yang beriman kepada Allah, ada pula yang Ingkar (Kufur) kepada Allah. 

Fakta lain yang menunjukkan bahwa Iman Agama atau Iman itu bukanlah warisan adalah terdapat banyak kasus orang akhirnya berpindah Agama, yang tadinya dia lahir dari keluarga Muslim, tetapi kemudian beberapa tahun ke depan dia pindah Agama (Murtad), ada pula yang awalnya lahir dari keluarga Nashrani, pada suatu masa dia bisa berpindah Agama menjadi Muslim (Muallaf). 

Agama adalah Faktor di luar diri manusia, yang terbentuk karena adanya Faktor eksternal. Di antaranya adalah keluarga, lingkungan sosial dan pemahaman yang dimiliki seseorang tentang Agama. Termasuk Agama Islam, saat seseorang menjadi Muslim hanya karena orangtuanya "kebetulan Muslim" tentu akan berbeda Kualitas Iman dan Amalnya dengan seseorang yang menjadi Muslim karena memang memiliki pemahaman bahwa Islam adalah Agama yang paling benar. 

Di sinilah kerja dari Akal yang Allah berikan sebagai Potensi bagi manusia. Tentu yang memiliki akal ini adalah semua manusia, siapapun dia, dan Agama apapun dia. Akal yang dimiliki manusia adalah pemberian dari Allah yang harus digunakan sebagai Pembeda/pembanding. 

Termasuk memilih Agama dan membangun keimanan terhadap suatu Agama, harus menggunakan akal untuk berfikir. Akal ini bukan untuk meng-akal-akali Agama, tetapi akal ini Allah perintahkan digunakan untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah, yang dari itulah akan terbentuk pemahaman yang benar tentang Tuhan, Agama dan Iman. Dan akal ini pula yang menjadi Sebab manusia akan dihisab di akhirat kelak.

Tidak perlu mengutip ungkapan dari Kaum Filsafat, Allah telah mencukupkan Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai 2 Sumber ilmu pengetahuan, hukum, dan petunjuk bagi manusia. Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah Dalil yang berasal dari Sang Maha Tahu, Sang Pencipta, sedangkan Kutipan Pendapat dari kaum Filsafat berasal dari kelemahan manusia, bahkan Sumber ilmu Filsafat itu berasal dari Negara yang Gagal, Rapuh dan Bobrok. 

Lalu kita akan mengambil yang mana sebagai Petunjuk dan Rujukan dalam pemikiran kita?

Menjaga Keimanan Secara Kaffah
Setiap Muslim berkewajiban untuk menjaga keimanannya dan ketaqwaannya kepada Allah SWT agar mata hati, akal sehat, dan perasaannya tetap berada diliputi oleh cahaya kebenaran dari Allah SWT, sehingga terhindar dari mengikuti langkah-langkah setan.

Mengenai hal ini Rasulullah Saw senantiasa mengajarkan umatnya untuk berupaya semaksimal mungkin menyempurnakan imannya setiap saat, dimana dan kapan pun juga. Oleh karena itu tidak semestinya seorang Muslim memprioritaskan hal lain selain sempurnanya iman dalam jiwa dan raga secara terus-menerus sepanjang hidup.

Menjaga iman apalagi menyempurnakannya bukanlah perkara mudah namun juga tidak berarti tidak bisa diupayakan. Hanya ada satu syarat seorang Muslim bisa menyempurnakan iman dengan sebaik-baiknya, yaitu menjadi Muslim secara kaffah. Sebagaimana firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Muslim kaffah adalah Muslim yang senantiasa mengikuti Rasulullah dalam segala hal dalam kehidupannya. Hal itu tergambar dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Salah satu di antaranya adalah; ‘Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31).

Hal inilah yang mendorong Umar bin Khaththab selalu gelisah dengan kondisi rakyatnya. Oleh karena itu dia mengharamkan kemewahan bagi diri dan keluarganya. Selain itu Umar merelakan seluruh hidupnya demi kebahagiaan seluruh rakyatnya yang menjadi amanah tertinggi baginya sebagai seorang pemimpin.

Rasulullah saw bersabda: "Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan (tidak mau)? Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa orang yang enggan itu?" beliau menjawab, "Siapa yang mentaatiku akan pasti masuk surga sedangkan orang yang durhaka kepadaku benar-benar telah enggan (masuk surga)." (HR. Bukhari)

Lebih dari itu, bila ada orang yang berkata kepada Nabi saw, "aku tahu engkau adalah benar, tapi aku tidak mau mengikutimu sebaliknya aku akan memusuhimu, membencimu, dan menyalahi perintahmu," lalu dikatakan sebagai orang beriman yang sempurna imannya, karena sudah mengikrarkan kebenaran dengan lisannya. Kalimat semacam ini tidak akan pernah keluar dari mulut seseorang yang masih sehat akalnya. Wallahu a’lam.
 
Top