Oleh : Hana Annisa Afriliani,S.S
(Penulis Buku "Menikah Rasa Jannah")

"Ingat bumi kita ini stagnan, dia tidak berubah, tidak akan bertambah luas. Tanah yang ada dimanfaatkan oleh warga bumi dan semakin berkurang karena populasi manusia yang selalu bertambah. Salah satu upaya untuk meminimalkannya, dengan melaksanakan program Keluarga Berencana," ujar Sahbirin Noor, Gubernur Kalimatan Selatan (Kalsel) dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Senin (4/2).

Sebagaimana kita tahu bahwa puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) akan diperingati di Banjarbaru, Kalsel pada awal Juli 2019 mendatang.

Adapun tema yang di angkat pada peringatan Harganas tahun ini adalah  'Hari Keluarga, Hari Kita Semua' dengan slogan 'Cinta Keluarga, Cinta Terencana'.

Sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Gubernur Kalsel seperti dikutip di awal tulisan, memang sejatinya arah dari peringatan Harganas ini adalah untuk menderaskan opini seputar Keluarga Berencana (KB), dengan kata lain dalam rangka menekan populasi penduduk. Sebab menurut anggapan pemerintah, semakin banyak jumlah penduduk, maka semakin berat beban perekonomian bangsa. Oleh karena itu harus dibatasi.

Padahal sebetulnya sejahtera atau tidaknya sebuah bangsa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikit penduduknya. Tapi dari sisi kualitas pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Sudahkah sesuai dengan jalur yang benar sebagaimana di gariskan syariat? 

Begitupun bahagia atau tidaknya sebuah keluarga tidaklah ditentukan oleh seberapa banyak jumlah anaknya. Anak dua belum tentu lebih bahagia daripada yang anaknya 6, misalnya. Semua itu ditentukan oleh pola perencanaan yang ada di dalam keluarga tersebut. Karena memang betul, keluarga berencana pasti bahagia.

Lantas, rencana macam apa? Apa lagi kalau bukan rencana masa depan keluarga, mau diarahkan ke mana. Hal tersebut berkaitan dengan visi keluarga. Sudahkah memiliki visi ideologis? Ataukah berkeluarga sekadar daur kehidupan yang harus dilewati tanpa adanya visi? jika itu terjadi, maka wajar akan terbentuk tatanan keluarga yang rapuh.

Seperti dapat kita saksikan potret keluarga muslim di sistem kapitalisme sekular hari ini, mudah "menyerah" jika dihadapkan pada konflik, kering visi masa depan, dan pada akhirnya berimplikasi pada gagalnya mencipta generasi berkualitas. Ini sungguh ironis.

Bukankah sudah menjadi fakta nyata jika di sistem hari ini peran suami dan istri saling tumpang tindih? Sistem kapitalisme sukses menciptakan himpitan ekonomi, sehingga "memaksa" para istri ikut terjun ke dunia kerja demi menopang perekonomian keluarga. Tak sedikit juga yang pada akhirnya pendapatan istri lebih besar daripada pendapatan suami. Dan implikasinya, kewibawaan suami berkurang di hadapan istri. Dan betapa banyak yang pada akhirnya dalam sistem hari ini melahirkan sosok-sosok suami takut istri. 

Bukan hal yang aneh juga jika hari ini kita saksikan banyaknya generasi broken home yang mencipta masalah di tengah masyarakat. Mereka lekat dengan maksiat. Akrab dengan perbuatan amoral, jauh dari norma. Ini sungguh mengiris hati. Kerapuhan keluarga muslim hari ini sungguh nyata adanya.

Dalam pandangan Islam, ketahanan keluarga dapat tercipta manakala setiap keluarga muslim menjadikan akidah Islamiyah sebagai pondasinya dan visi akhirat sebagai pola perencanaannya. Niscaya keluarga akan berjalan di jalur rida Allah Swt.

Islam menetapkan bahwa hubungan antara suami dan istri adalah hubungan persahabatan. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang seimbang sesuai porsinya dalam kacamata syariat. Suami memiliki kewajiban menafkahi, sementara istri berkewajiban sebagai manajer rumah tangga (ummu wa robbal al bayt). Yakni mengurus semua urusan di dalam rumah, melayani suami, dan mengasuh anak-anaknya. Ibu juga  adalah madrasah 'ula(sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Maka seorang ibu wajib memiliki bekal ilmu yang cukup agar mampu mendidik anak-anaknya menjadi manusia bertakwa yang berkepribadian Islam. Adapun ayah bertugas mengontrol dan memastikan bahwa s

emuanya sudah berjalan sesuai tuntunan Alquran dan Assunah. Karena sejatinya ayah berperan sebagai pemimpin dalam keluarga. Dan kelak kepemimpinannya tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah swt.

Dengan demikian, keluarga bahagia hanya akan dicapai tatkala kita menjadikan Islam sebagai pondasinya. Sehingga akan tercipta visi misi yang kokoh dalam membentuk ketahanan keluarga. Adapun ketahanan keluarga akan menentukan corak generasi yang akan mengisi peradaban di masa depan. Wallahu'alam
 
Top