Penulis : Muro’ah

Alhamdulillah, ramadhan telah tiba.Bulan yang dinanti bagi perindunya. Bahagia terpancar dari segenap muslim. Anak-anak hingga akik-akik, wanita juga pria.

Ya. Ramadhan pembawa berkah mencipta ceria, harus disambut dengan bahagia. Ini bukan sekedar tradisi atau rasa yang direkayasa. 

Ada alasan besar yang membuat kaum muslimin berbahagia menyambut bulan ini. Bahagia karena berisi kemuliaan, keutamaan, dan keberkahan yang melimpah. Suasana ibadah terasa nikmat, begitupun munajat semakin lezat.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dia berkata:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya tentang kedatangan bulan Ramadan seraya beliau berkata: ‘Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Di bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”

Masih mungkinkah bahagia itu tak hadir, padahal Rasulullah saw telah menyampaikan bisyarah tersebut.

Sayangnya ditengah kebahagian itu masih terselip derita ummat yang juga belum usai. Kapitalisme masih mencengkram kehidupan muslim. Menjelang ramadhan tahun ini,sebagaimana tahun-tahun sebelumnya masyarakat harus merasakan sesak dada akibat melonjaknya kebutuhan pokok. Menjelang ramadhan tahun ini saja misalnya, harga bawang putih melonjak hingga Rp. 90.000-100.000/kg Padahal di zaman kehilafahan turki utsmani bahkan lima belas hari sebelum Ramadhan, khalifah telah mengintruksikan agar dibentuk tim khusus yang mensurvei kebutuhan pangan di pasar dan mengatur harganya. Kebutuhan masyarakat harus terpenuhi dan tidak membebani masyarakat dengan harga-harga yang melonjak menjelang ramadhan. Menjadi tugas khalifahlah untuk mengatur semua kebutuhan masyarakat.

Disisi lain, kaum muslimin di belahan dunia lain tak bisa merasakan kebahagian utuh menyambut ramadhan. Mereka hidup di bawah bayang-bayang kebengisan musuh-musuh islam, hidup yang tak menentu, tempat tinggal yang tak pasti, bantuan tak memadai dan masa depan tak jelas akibat saudara muslim lain yang tak optimal membantu akibat faham nation state yang mengkotak-kotak persatuan kaum muslim.

Di China sekitar 1 juta muslim ditahan di kamp-kamp di Xinjiang, mereka dipaksa makan babi dan dilarang menjalankan kewajiban sebagai muslim. Muslim Uighyur tak kunjung mendapatkan hak wilayah mereka. Bagaimana pula muslim di palestina? Bahkan disaat muslim lain sedang bersiap-siap menyambut ramadhan di sana justru mendapat serangan dari Israel. Seorang ibu hamil dan bayi berusia empat bulan meninggal dalam serangan tersebut. Sebagaimana dilansir kantor berita AFP yang menyatakan menyatakan bahwa 19 warga Palestina tewas akibat serangan-serangan Israel di Jalur Gaza pada Minggu (5/5) waktu setempat. (Detiknews.com 5/5/2019)

Beginilah kondisi ramadhan tanpa khilafah. Kemuliaannya dikoyak pembenci islam sementara muslim disebaran banyak negara lemah tak berdaya, diam membisu tunduk pada tuan-tuannya. Beginilah ramadhan tanpa khilafah, kebahagiaan bulan ramadhan seakan tak sempurna.

0 komentar:

 
Top