Oleh : Indriana 
( pemerhati Remaja)

Sedih rasanya gaes, jika melihat potret generasi muda saat ini, seperti kita membuka lembaran-lembaran buram masa depan. Berbagai persoalan membelit generasi mulai dari narkoba, miras, tawuran, prostitusi, aborsi, pergaulan bebas, kekerasan seksual, pelecehan seksual dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini publik diramaikan kembali dengan masalah tindakan asusila yang terjadi dan yang menjadi korbannya adalah generasi muda alias remaja. Sebagaimana yang dikutip dari detiknews.com "Dari hasil laporan yang kami terima, sudah 14 anak berstatus pelajar diduga dilecehkan oleh oknum Kepala Sekolah di sekolah tempat pelaku menjabat sebagai Kepala Sekolah. Namun kini MT bertugas di Dinas Pendidikan Kabupaten Soppeng," Kata Kasat Reskrim Polres Soppeng, AKP Rujiyanto Dwi Poernama. Minggu (14/04/2019).

Waahh, gaes padahal beliau adalah seseorang yang berpendidikan tetapi perilakunya seperti orang yang tidak berpendidikan bahkan lebih rendah dari hewan. Apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut?, karena sesungguhnya perilaku tersebut adalah efek samping dari permasalahan yang sebenarnya selama ini. Sehingga mengakibatkan generasi menjerit karena jadi korbannya. Tau nggak, apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut? Ternyata yang mendorong untuk melakukan itu banyak faktor.

Bisa jadi karena faktor  krisis moral, semakin tinggi pengetahuan manusia akan ilmu pengetahuan, akan semakin tinggi pula perkembangan kecanggihan teknologi. Di mana kecanggihan teknologi secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi  perkembangan moral.

Bisa jadi karena faktor krisis budaya, yang telah memunculkan adanya penyakit sosial dimasyarakat bahkan hingga kalangan remaja hanya karena gaya hidup.

Bisa jadi juga,  semua adanya krisis tersebut adalah efek samping dari adanya sistem yang ada saat ini yaitu sekularisme. Di mana sekularisme menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan sehingga terbukti banyak memunculkan adanya krisis dimana-mana.

Saat ini agama tidak boleh mengatur urusan manusia bahkan negara, agama hanya boleh mengatur urusan ibadah saja (sholat, puasa, zakat, sedekah dan haji). Padahal agama mengautur semua lini kehidupan. Tau nggak akibatnya jika agama hanya sebatas mengurus ibadah? Allah Swt dipahami hanya sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan orang-orang Barat terhadap konsep ketuhanan. Sehingga tidak akan sampai pada pedoman konsep keridhoan Allah Swt sebagai standar kebahagian tertinggi yang harus diraih.

Aspek kemaslahatan tetap menduduki posisi tertinggi dari konsep halal haram dalam menstandarisasi aktivitas. Dengan begitu Islam hanya dipahami sebagai agama yang hanya mengatur urusan akhirat, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur dan memberikan solusi atas persoalan kehidupan manusia.

Gaes, jika pemikiran semacam ini terinstal dalam benak masyarakat maka secara otomatis akan mengusung ide kebebasan karena didalam ide ini begitu mengagungkan yang namanya kebebasan. Bebas berbuat semaunya sesuai dengan keinginannya tanpa melihat apakah halal atau haram. Jika hal ini di biarkan maka ide liberalisme akan semakin subur dengan begitu banyak  generasi muda alias remaja  yang akan jadi korbanya dan semakin rusak.

So... saatnya kita sebagai generasi muda melakukan perubahan karena ditangan kitalah masa depan negeri ini di tentukan. Yaitu dengan membentengi diri dengan ikut kajian islam dan melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan berada di dalam barisannya, seperti dalam firman Allah Swt "Dan hendaklah ada di antar kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan (islam) menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (TQS Ali imron : 104). Dengan begitu maka tidak akan ada lagi jeritan generasi muda dan tidak akan mendengar generasi muda  jadi korbannya.

Wallahua'lam bishshowab

0 komentar:

 
Top