Oleh: Yuliyati Sambas
Member Akademi Menulis Kreatif

Allah Swt menyediakan Ramadhan sebagai satu bulan mulia yang di dalamnya disediakan demikian banyak kemuliaan. Ia adalah bulan suci dimana disyariatkan ibadah shaum selama satu bulan penuh dan  dibukakan pintu ampunan yang selebar-lebarnya bagi yang menginginkannya.

Salah satu tujuan dari disyariatkannya shaum yang Allah khususkan di momen Ramadhan adalah menjadikan siapapun mukmin yang melakukannya dengan benar dan sungguh-sungguh akan menjadi pribadi yang bertakwa, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa." (QS. Albaqarah: 183)

Dimana takwa menurut syara adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya secara menyeluruh.

Di bulan Ramadhan pula dengan melaksanakan shaum selama satu bulan penuh setiap mukmin diarahkan untuk menjauhi segala hal yang membatalkan seperti makan, minum, dan berjima. Allah pun mengarahkan mukmin untuk meninggalkan segala aktivitas yang akan mengurangi pahala shaumnya diantaranya amarah, ghibah dan sebagainya.

Namun demikian di tengah masyarakat ada anggapan keliru bahwa dengan shaum maka ia tidak boleh marah,  wajib tetap sabar dengan cara diam tak bereaksi apa-apa ketika di tengah mereka ada kemunkaran dan maksiat.

Sementara kemunkaran terbesar di tengah umat adalah tidak diterapkannya syariat Islam yang menyeluruh (kaffah). Seperti yang terjadi saat ini dengan sistem sekuler demokrasi yang melingkupi, umat dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa syariat diambil secara sebagian saja. Ibadah mahdhah dijalankan, sementara ghayr mahdhah dipilah oleh sistem yang berlaku. Shalat, shaum, zakat, sedekah, haji diberi kebebasan untuk menjalankan. Namun dalam waktu bersamaan apa yang diharamkan Allah seperti riba, kecurangan yang demikian kasat mata, tata pergaulan dan muamalah yang tak sesuai tuntunan syara dilaksanakan dan dibiarkan tumbuh subur, urusan uqubat (sistem sanksi di tengah masyarakat) diserahkan pada kesepakatan yang dirasa paling membawa maslahat dalam pandangan manusia.

Padahal sejatinya Ramadhan adalah bulan perjuangan baik untuk menshalihkan diri sendiri, masyarakat, maupun negara. 

Maka Ramadhan semestinya dijadikan momen untuk memperjuangkan ketaatan secara totalitas (kaffah). Kemunkaran dan maksiat yang ada tidak boleh didiamkan hanya karena adanya anggapan keliru untuk bersabar dan menahan amarah ketika sedang shaum. Ia wajib ditumpas dengan meneladani pola perjuangan Baginda Rasul Saw dengan senantiasa menggencarkan dakwah fikriyah dan siasiyah (politik) demi tersebarnya fikrah Islam di tengah masyarakat.

Maka spirit taat untuk meraih taqwa di bulan Ramadhan semestinya menjadi energi bagi setiap mukmin untuk senantiasa tunduk pada aturan Allah secara kaffah di sebelas bulan berikutnya, tentu dalam bingkai pelaksana syariat yakni Daulah Khilafah Rasyidah.
Wallahu a'lam bi ash-shawab

0 komentar:

 
Top