Oleh : Sumiati  
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK )

Mendengar kata ego, sudah menjadi mafhum umum bahwa kata ini terkait dengan karakter manusia. Syaikh Taqiyyuddin An nabhani menjelaskan dalam kitabnya, bahwa manusi memiliki tiga naluri, gharizah baqo (naluri mempertahankan diri), gharizah tadayyun  (naluri menuhankan sesuatu), gharizah nau (naluri ketertarikan terhadap lawan jenis ). Yang terkait ego adalah naluri mempertahankan diri. Naluri ini akan berdampak positif jika terikat dengan hukum syara, namun akan rusak jika tidak, karena akan cenderung mengikuti hawa nafsu. Bahkan lebih berbahaya lagi jika ini dimiliki penguasa atau orang yang berkuasa. Sebagaimana fakta di bawah ini.

Perusahaan manajemen investasi PT Bahana TCW Invesment Management memperkirakan hasil hitung cepat (quick count) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan membawa dampak positif ke pasar keuangan domestik. 

Aliran dana asing ke pasar saham dan obligasi tahun ini bahkan diperkirakan bisa lebih dari US$ 6 miliar atau sekitar Rp 84,35 triliun, lebih besar dari 2018. 

Asing Optimistis dengan Hasil Pemilu, IHSG Bisa Naik 7%. Jokowi Effect Bikin Saham, Rupiah & Obligasi Berlari Kencang.

"Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang tetap dipercaya oleh asing meskipun sedang melaksanakan pemilu. Arusinflow pasar saham dan obligasi mencapai US$ 6 miliar, jauh lebih besar dari total inflow 2018," kata Chief Economist Bahana TCW Budi Hikmat dalam ulasan Post-Election Brief yang dipublikasikan, Kamis (18/04/2019).

Hasil pemilu, menurut Budi, untuk sementara sesuai dengan ekspektasi pasar.
Hasil hitung cepat dari mayoritas lembaga survey menempatkan kandidat petahana kembali akan melanjutkan kepemimpinan untuk periode ke-2. Ini sesuai dengan prediksi survei yang telah dilakukan sebelum hari pemilihan. 

Selain itu, lanjut Budi, hal lain yang perhatian adalah komposisi kabinet pemerintahan baru,  khususnya kementerian strategis seperti keuangan, perindustrian, dan perdagangan. Ketiga kementerian ini akan menentukan arah perekonomian Indonesia ke depan.

Dari sisi investasi, Budi lebih menyukai aset obligasi ketimbang saham, dengan pertimbangan durasi investasi panjang untuk tahun 2019 dan mengacu kepada kredibilitas utang pemerintah yang semakin baik dan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia.

"Di lain sisi, penguatan aset saham secara fundamental terbatas oleh daya beli yang belum membaik," kata Budi.
Di sisi lain, manajer investasi asal Inggris, Ashmore, juga memprediksi total modal asing yang masuk ke pasar modal Indonesia tahun ini bisa mencapai US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21,3 triliun (kurs Rp 14.200/US$). Sejak awal tahun hingga saat ini, modal asing yang masuk sudah sampai US$ 1 miliar.

Estimasi tersebut didasarkan pada data historis yang menujukkan tren arus masuk modal asing dengan rata-rata perolehan US$ 2,2 miliar sepanjang tahun penyelenggaraan pemilu.

Lebih lanjut Ashmore juga mencatatkan bahwa pemilu Indonesia adalah satu-satunya pemilu yang mendapatkan sentimen positif untuk arus masuk asing dan rekomendasi beli.

Sungguh itulah yang terjadi di negeri ini, para pemilik modal akan terus berupaya mendukung rezim yang ada, yang telah memberikan keuntungan bagi mereka, memuluskan rencana-rencana mereka dan semakin menancabkan cengkramannya terhadap penguasaannya. Karena jika rezim beralih, ini akan membuat kekhawatiran bagi asing, terkait kebijakan dan aturan baru yang dikeluarkan oleh rezim berikutnya. Mereka pula khawatir keberadaannya di negeri ini akan terusik. Hingga kekuasaannya terancam.

Bagaimana Islam memandang pemilu, dari sisi pemilihan tentu ini hal mubah, namun harus dilihat dulu sistem yang diberlakukan. Jika di dalam Islam ada prosedur praktis pengangkatan dan pembaiatan khalifah yang murah meriah.

Sesungguhnya prosedur praktis yang bisa menyempurnakan pengangkatan Khalifah sebelum dibaiat boleh menggunakan bentuk yang berbeda-beda. Prosedur ini sebagaimana yang pernah terjadi secara langsung pada Khulafaur Rasyidin yang datang pasca wafatnya Rasulullah saw. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra. Sebab perkara tersebut berkaitan dengan perkara terpenting yang menjadi sandaran keutuhan institusi kaum Muslim dan kelestarian pemerintahan yang melaksanakan hukum Islam. Dari penelitian terhadap peristiwa yang terjadi dalam pengangkatan keempat Khalifah itu, didapati bahwa sebagian kaum Muslim telah berdiskusi di Saqifah Bani Saidah. Mereka yang dicalonkan adalah Saad, Abu Ubaidah, Umar, dan Abu Bakar. 

Hanya saja Umar dan Abu Ubaidah tidak rela menjadi pesaing Abu Bakar. Sehingga seakan-akan pencalonan itu hanya terjadi di antara Abu Bakar dan Saad bin Ubadah saja. Dari hasil diskusi itu dibaiatlah Abu Bakar. Kemudian pada hari kedua, kaum Muslim diundang ke Masjid Nabawi. Lalu mereka membaiat Abu Bakar di sana. Dengan demikian baiat di Saqifah adalah baiat in'iqad. Dengan itulah Abu Bakar menjadi Khalifah kaum Muslim. Sementara baiat di Masjid pada hari kedua merupakan baiat taat.
Wallahu a'lam bishawab.
 
Top