Oleh : Irwansyah

Sexy Killer, adalah sebuah film dokumenter yang akhir-akhir ini berhasil mencuri perhatian publik. Film dokumenter produksi Watchdoc itu hingga 17 April 2019 telah ditonton kurang lebih 10 juta kali di youtube.

Film yang berdurasi 1 jam 28 menit itu mengangkat isu tentang perusahaan pertambangan  di Indonesia salah satunya batu bara  dan PLTU. Namun sangat disayangkan, akibat dari aktivitas pertambangan itu banyak menimbulkan kerugian terutama bagi rakyat kecil yang bermukim di area pertambangan dan perusahaan tersebut. Tidak hanya kerugian materi, tapi juga sampai menimbulkan korban nyawa.

Yang lebih miris dari hal ini, ada beberapa pemerintah yang seakan tidak peduli dan menganggap perkara tersebut hal biasa dan sepele.

Dan mengejutkannya lagi, dibalik perusahaan-perusahaan tambang batu bara itu ternyata pemiliknya pejabat-pejabat besar negara ini. Bahkan kedua paslon capres pun ada keterkaitan di dalamnya didalamnya. 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Inilah buah dari sistem kapitalisme yang membolehkan swasta/individu memiliki serta mengambil alih sumber daya alam (baca: tambang) milik negara untuk dikelola secara pribadi. 

Alhasil, keuntungan hanya didapat oleh perusahaan dan dinikmati oleh para pemilik perusahaan. Sedangkan rakyat kecil, terkadang hanya mendapat limbah dan polusi dari aktivitas  pertambangan itu. Sungguh merugikan bukan?

Islam memandang sumber daya alam (tambang) merupakan kepemilikan umum yang tidak boleh dimiliki atau diserahkan kepada pihak swasta/pribadi. Negara wajib mengelolanya dan keuntungannya dikembalikan kepada rakyat untuk pembangunan dan pengadaan fasilitas yang dibutuhkan oleh rakyat. 

Namun sayangnya, semua itu tidak bisa terjadi bila sistem di negara ini masih bersandar pada kapitalisme. Sudah saatnya negara menjadikan Islam sebagai acuan untuk mengelola pertambangan agar manfaatnya merata, bisa dirasakan oleh seluruh rakyat bukan hanya sekelompok orang atau individu semata.
Wallahu a'lam bish-showab...

0 komentar:

 
Top